Sukses

Kembali ke Surah
Pilih ayat

Ayat tidak ditemukan

Surah ke-2 · Ayat 238

Al-Baqarah Ayat 238

Sapi · Madaniyah · 286 ayat

حَافِظُوْا عَلَى الصَّلَوٰتِ وَالصَّلٰوةِ الْوُسْطٰى وَقُوْمُوْا لِلّٰهِ قٰنِتِيْنَ

Ḥāfiẓū ‘alaṣ-ṣalawāti waṣ-ṣalātil-wusṭā, wa qūmū lillāhi qānitīn(a).

Arti

Peliharalah semua salat dan salat wustha. Dan laksanakanlah (salat) karena Allah dengan khusyuk.

Tafsir

Tafsir Wajiz

Usai menjelaskan hukum keluarga dalam beberapa ayat sebelumnya, pada ayat ini Allah menjelaskan hukum asasi antara manusia dengan Allah, yakni salat. Hal ini seakan mengingatkan agar persoalan keluarga tidak membuat manusia lupa akan kewajiban asasinya, yaitu salat. Karena itu, ayat ini dimulai dengan kata perintah. Peliharalah secara sungguh-sungguh, baik secara pribadi maupun saling mengingatkan antara satu dengan lainnya tentang semua salat, dan peliharalah secara khusus salat wusta, yakni salat asar dan subuh, karena keutamaannya. Dan laksanakanlah salat karena Allah Pemilik kemuliaan dan keagungan dengan khusyuk, yakni dengan penuh ketaatan dan keikhlasan.

Tafsir Tahlili

Dalam ayat ini diterangkan keutamaan melakukan salat, dan selalu memeliharanya. Keluarga merupakan bagian dari masyarakat dan dalam memenuhi segala kebutuhan dan persoalan hidupnya banyak sekali menemui kesulitan yang kadang-kadang dapat menjerumuskannya kepada hal-hal yang dilarang agama. Karena itu telah diberi suatu cara yang baik untuk dilakukan manusia agar selalu terjamin hubungan keduniaannya dengan ketakwaan kepada Allah dengan selalu memelihara salat. Mulai dari bangun tidur sebelum melakukan kontak dengan manusia lainnya ia ingat dan bermunajah lebih dahulu dengan Allah (waktu subuh). Kemudian setelah ia berhubungan dengan masyarakat, dan mungkin sekali terjadi perbuatan yang tidak diridai Allah maka untuk mengingatkan dan menyelamatkannya, ia dipanggil untuk berhubungan lagi dengan Allah pada waktu tengah hari (salat zuhur). Begitulah seterusnya selama 24 jam. Dengan demikian selalu terjalin antara kesibukan manusia (untuk memenuhi hajat hidupnya) dengan ingat kepada Allah dan melaksanakan perintah-perintah-Nya. Hal ini mempunyai pengaruh dan membekas dalam jiwa dan kehidupan manusia sebagaimana ditegaskan bahwa dengan salat manusia dapat terhindar dari perbuatan jahat dan mungkar. Selain itu, memelihara salat adalah bukti iman kepada Allah, dan menjadi syarat mutlak bagi kehidupan seorang Muslim, menguatkan tali persaudaraan, dan dapat menjamin hak-hak manusia. Menurut riwayat Aḥmad, Rasulullah SAW bersabda:

اَلْعَهْدُ الَّذِيْ بَيْـنَنَا وَبَيْـنَهُمُ الصَّلاَةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ (رواه أحمد)

"Perjanjian antara kami dengan kaum kafir adalah salat, siapa yang meninggalkannya (dengan sengaja) maka ia telah menjadi kafir." (Riwayat Aḥmad)

Dalam hadis lain yang diriwayatkan oleh Aḥmad dan aṭ-Ṭabrānī, Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ حَافَظَ عَلَيْهَا كَانَتْ لَهُ نُورًا وَبُرْهَانًا وَنَجَاةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَمَنْ لَمْ يُحَافِظْ عَلَيْهَا لَمْ يَكُنْ لَهُ نُوْرٌ وَلاَبُرْهَانٌ وَلاَ نَجَاةٌ وَكَانَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَعَ قَارُوْنَ وَفِرْعَوْنَ وَهَامَانَ وَأُبَيِّ بْنِ خَلَفٍ (رواه أحمد والطبراني)

"Barang siapa selalu memelihara salat maka ia akan dapat cahaya dan petunjuk serta akan dapat keselamatan pada hari Kiamat. Sebaliknya orang yang tidak memelihara salat maka tidak ada baginya cahaya, petunjuk dan keselamatan. Di akhirat nanti ia akan bersama Fir‘aun, Haman, dan Ubai bin Khalaf di dalam neraka." (Riwayat Aḥmad dan aṭ-Ṭabrānī)

Ayat-ayat di atas menjelaskan bagaimana pentingnya menjaga dan memelihara salat. Manusia yang melaksanakan perintah ini benar-benar menjadi makhluk Allah yang bertakwa dan hidupnya akan selalu aman, berada di dalam magfirah dan rida Allah.

Adapun sebab turun ayat ini menurut riwayat dari Zaid bin Ṡābit, Rasulullah saw selalu melakukan salat zuhur, meskipun pada siang hari yang panas terik yang bagi para sahabat dirasakan berat, maka turunlah ayat ini. Allah memerintahkan kepada kaum Muslimin untuk selalu menjaga salat lima waktu. Jika salat itu dilaksanakan, ia dapat memelihara diri dari berbuat hal-hal yang jahat dan mungkar. Salat dapat menjadi penenang jiwa dari segala kegelisahan yang menimpa diri. Karena itu salat merupakan tiang agama.

Allah menekankan salat wusṭā. Salat wusta menurut jumhur Ulama ialah salat Asar. Allah mengajarkan pula, agar dalam melakukan salat kita berlaku khusyuk dan tawaduk. Sebab pemusatan pikiran kepada Allah semata-mata adalah tingkat salat yang paling baik dan salat inilah yang dapat membekas pada jiwa manusia.

Karena pentingnya melaksanakan dan memelihara salat ini seorang Muslim tidak boleh meninggalkannya walau dalam keadaan bagaimanapun. Salat tetap tidak boleh ditinggalkan, meskipun dalam suasana kekhawatiran terhadap jiwa, harta, atau kedudukan. Dalam keadaan uzur, salat dapat dikerjakan menurut cara yang mungkin dilakukan, baik dalam keadaan berjalan kaki, berkendaraan, ataupun sakit. Maka setelah hilang uzur itu, terutama yang berupa kekhawatiran, hendaklah bersyukur kepada Allah, karena Allah mengajarkan kepada manusia hal-hal yang tidak diketahuinya termasuk mengenai kaifiat (cara) melakukan salat dalam masa tidak aman/dalam keadaan perang.

Sumber tafsir: Kementerian Agama RI.

Poin Penting

  • Perintah untuk memelihara semua salat secara sungguh-sungguh.
  • Peliharalah secara khusus salat wusta, yaitu salat Asar dan Subuh, karena keutamaannya.
  • Laksanakan salat karena Allah dengan khusyuk, penuh ketaatan, keikhlasan, dan pemusatan pikiran kepada-Nya.
  • Salat tidak boleh ditinggalkan dalam keadaan apa pun, termasuk saat khawatir atau uzur, dengan cara yang memungkinkan.

Asbabun Nuzul

  1. Salat Zuhur menjadi salat yang berat bagi para sahabat

    Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Imam Al-Bukhari dalam kitab Tarikh-nya, Abu Dawud, Al-Baihaqi, dan Ibnu Jarir dari Zaid bin Tsabit, bahwa pada masa Rasulullah SAW, salat Zuhur dilaksanakan pada tengah hari. Salat tersebut menjadi salah satu salat yang paling berat bagi para sahabat. Kemudian, turunlah firman Allah SWT:

    “Peliharalah segala salatmu, dan (peliharalah) salat wustha. Berdirilah karena Allah (dalam shalatmu) dengan khusyuk.” (QS. Al-Baqarah: 238)

    2. Sedikitnya jamaah yang mengikuti salat Zuhur

    Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, An-Nasa’i, dan Ibnu Jarir dari Zaid bin Tsabit, bahwa Rasulullah SAW dahulu melaksanakan salat Zuhur pada siang hari. Saat itu, jumlah jamaah yang berada di belakang beliau hanya sekitar satu hingga dua saf. Hal ini terjadi karena sebagian orang sedang tidur siang, sementara yang lainnya sibuk dengan urusan perdagangan mereka. Kemudian, turunlah firman Allah SWT dalam QS. Al-Baqarah ayat 238 yang memerintahkan kaum muslimin untuk memelihara salat dan melaksanakan salat dengan khusyuk.

    3. Larangan berbicara ketika sedang salat

    Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa’i, Ibnu Majah, dan lainnya dari Zaid bin Arqam, ia berkata, “Dahulu, pada zaman Rasulullah SAW, kami berbicara dengan teman yang berada di samping kami ketika sedang melaksanakan salat. Hingga turunlah firman Allah SWT, ‘Berdirilah karena Allah (dalam salatmu) dengan khusyuk.’ Setelah itu, kami diperintahkan untuk diam dan dilarang berbicara ketika salat.”

    Riwayat lain dari Ibnu Jarir, dari Mujahid, menyebutkan bahwa dahulu para sahabat berbicara ketika sedang melaksanakan salat. Bahkan, seseorang terkadang meminta saudaranya melakukan suatu keperluan saat salat. Kemudian, turunlah firman Allah SWT yang memerintahkan mereka untuk berdiri menghadap Allah dengan khusyuk.

FAQ

Apa kandungan Surat Al-Baqarah ayat 238?

Ayat ini memerintahkan untuk memelihara semua salat, terutama salat wusta (salat Asar dan Subuh), serta melaksanakannya karena Allah dengan khusyuk, yaitu penuh ketaatan dan keikhlasan. Perintah ini datang setelah pembahasan hukum keluarga, mengingatkan agar persoalan keluarga tidak membuat manusia lupa akan kewajiban asasinya kepada Allah.

Apa yang dimaksud dengan salat wusta dalam Surat Al-Baqarah ayat 238?

Dalam ayat ini, salat wusta merujuk pada salat Asar dan Subuh karena keutamaannya. Menurut jumhur Ulama, salat wusta adalah salat Asar.

Mengapa salat ditekankan dalam Surat Al-Baqarah ayat 238 setelah pembahasan hukum keluarga?

Setelah menjelaskan hukum keluarga, Allah menjelaskan hukum asasi antara manusia dengan-Nya, yaitu salat. Hal ini seakan mengingatkan agar persoalan keluarga tidak membuat manusia lupa akan kewajiban asasinya. Salat juga merupakan cara untuk menjaga hubungan keduniaan dengan ketakwaan kepada Allah, serta dapat menghindarkan dari perbuatan jahat dan mungkar.

Apa sebab turunnya Surat Al-Baqarah ayat 238?

Menurut riwayat dari Zaid bin Ṡābit, ayat ini turun karena Rasulullah SAW selalu melakukan salat Zuhur pada siang hari yang panas terik, yang dirasakan berat oleh para sahabat. Maka, Allah memerintahkan kaum Muslimin untuk selalu menjaga salat lima waktu.