Doa Memohon Tetangga yang Baik, Lengkap Adabnya Sebagaimana Dicontohkan Rasulullah

Rasulullah SAW mengajarkan bahwa tetangga yang saleh termasuk salah satu dari empat kebahagiaan seorang muslim.

Diterbitkan 29 Oktober 2026, 13:00 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Doa memohon tetangga yang baik merupakan ikhtiar batin yang sangat dianjurkan dalam Islam, karena tetangga adalah orang terdekat yang pertama kali hadir saat suka maupun duka. Rasulullah SAW mengajarkan bahwa tetangga yang saleh termasuk salah satu dari empat kebahagiaan seorang muslim.

Memuliakan tetangga adalah kewajiban syar'i yang mencerminkan kualitas iman. Dalam Tafsir Al-Azhar, Hamka menekankan bahwa berbuat baik kepada tetangga, baik dekat maupun jauh, Muslim maupun non-Muslim, adalah manifestasi nyata dari iman yang harus diwujudkan dalam tindakan sosial sehari-hari, bukan sekadar ibadah ritual.

Sabir Maidin dalam Jurnal Al-Qadau berjudul Keutamaan Hidup Bertetangga (Suatu Kajian Hadis) menjelaskan, hidup bertetangga yang harmonis menjadi motor kesadaran sosial yang mampu mereduksi konflik dan mengangkat martabat manusia. Sayangnya, realitas masyarakat modern yang individualistis dan mobile seringkali melemahkan interaksi sosial, sehingga banyak orang tidak lagi mengenal tetangganya sendiri.

Karena itu, doa memohon tetangga yang baik perlu diiringi dengan pemahaman adab dan pengamalan hak-hak tetangga, sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAW.

Doa Memohon Tetangga yang Baik

Berikut doa yang diajarkan Rasulullah SAW untuk berlindung dari tetangga yang buruk—yang secara implisit juga merupakan permohonan agar dikaruniai tetangga yang baik:

Arab: اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ جَارِ السُّوءِ فِي دَارِ الْمُقَامَةِ، فَإِنَّ جَارَ الْبَادِي يَتَحَوَّلُ

Latin: Allāhumma innī a‘ūdzu bika min jāris-sū’i fī dāril-muqāmah, fa inna jāral-bādī yataḥawwal

Artinya: "Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari tetangga yang buruk di tempat tinggal yang tetap, karena sesungguhnya tetangga dalam perjalanan (safar) akan segera berpindah."

Doa ini diriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW mengucapkannya dalam doanya. Hadis ini dikeluarkan oleh An-Nasa'i, Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad, dan Ibnu Hibban, serta dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah (no. 3943).

Ibnu Hibban dalam Shahih-nya (no. 1033) mencantumkan doa ini di bawah bab "Anjuran berlindung kepada Allah dari tetangga yang buruk".

Imam al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad juga meriwayatkan doa senada dengan redaksi "jārad-dunyā" (tetangga di dunia) yang menunjukkan bahwa tetangga yang buruk dapat menjadi sumber gangguan yang berkepanjangan, berbeda dengan tetangga dalam perjalanan yang akan segera berpisah. Selain itu, terdapat doa yang dinisbatkan kepada Nabi Dawud AS:

Arab: اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ جَارٍ عَيْنُهُ تَرَانِي وَقَلْبُهُ يَرْعَانِي، إِنْ رَأَى خَيْرًا دَفَنَهُ، وَإِنْ رَأَى شَرًّا أَشَاعَهُ

Latin: Allāhumma innī a‘ūdzu bika min jārin ‘aynuhu tarānī wa qalbuhu yar‘ānī, in ra’ā khayran dafanahu wa in ra’ā sharran asyā‘ah

Artinya: "Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari tetangga yang matanya mengawasiku namun hatinya mencelaiku; jika melihat kebaikan ia menyembunyikannya, dan jika melihat keburukan ia menyebarkannya." Doa ini diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf (no. 30511) dengan sanad yang layak untuk doa.

Adab Bertetangga dalam Islam

Berdasarkan hadis-hadis Nabi dan penjelasan para ulama, adab bertetangga dalam Islam mencakup:

1. Tidak Menyakiti Tetangga

Rasulullah SAW bersabda: "Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, janganlah ia menyakiti tetangganya" (HR. Bukhari dan Muslim). Dalam riwayat lain: "Demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman"—ketika ditanya siapa, beliau menjawab: "Orang yang tetangganya tidak aman dari kejahatannya". Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari menegaskan bahwa menyakiti tetangga termasuk dosa besar.

2. Berbuat Baik dan Berbagi

Rasulullah SAW berpesan kepada Abu Dzar: "Wahai Abu Dzar, apabila engkau memasak kuah, perbanyaklah airnya dan berikanlah kepada tetanggamu" (HR. Muslim). Imam al-Ghazali dalam al-Adab fid Dîn menyebutkan bahwa di antara adab bertetangga adalah memberinya makan dan minum dari apa yang kita makan dan minum.

3. Memuliakan Tetangga Terdekat

Aisyah RA. bertanya: "Wahai Rasulullah, aku memiliki dua tetangga, kepada siapa aku memberi hadiah?" Beliau menjawab: "Kepada yang pintunya paling dekat denganmu" (HR. Bukhari).

4. Tidak Melarang Tetangga Memanfaatkan Dinding

Rasulullah SAW melarang seseorang menghalangi tetangganya yang ingin menyandarkan kayu pada dinding rumahnya (HR. Bukhari dan Muslim).

5. Menjaga Rahasia dan Menundukkan Pandangan

Imam al-Ghazali dalam al-Adab fid Dîn menyebutkan bahwa di antara hak tetangga adalah tidak menyebarkan rahasianya, menundukkan pandangan dari mahramnya, dan memberikan hadiah kepadanya.

6. Menjenguk Saat Sakit dan Menghibur Saat Musibah

Sabir Maidin menjelaskan bahwa etika bertetangga meliputi menjenguk ketika sakit, mengucapkan selamat ketika bahagia, menghibur ketika musibah, dan berkata dengan lemah lembut.

Hikmah Menerapkan Adab Bertetangga dalam Islam

1. Menyempurnakan Keimanan Memuliakan tetangga adalah indikator keimanan yang disebutkan secara eksplisit dalam hadis-hadis Nabi. Rasulullah SAW mengaitkan antara iman kepada Allah dan hari akhir dengan berbuat baik kepada tetangga.

2. Menciptakan Keamanan dan Kesejahteraan Komunitas

Allah memerintahkan umat Islam memenuhi hak-hak tetangga agar masyarakat menjadi aman dan sejahtera. Hamka dalam Tafsir Al-Azhar menegaskan bahwa menjaga etika bertetangga berarti menjaga diri dari perilaku yang merusak kepercayaan dan ketenteraman sosial.

3. Mendapatkan Pertolongan Pertama Saat Darurat

Tetangga adalah orang pertama yang hadir ketika kita membutuhkan bantuan mendesak, sementara keluarga yang tinggal berjauhan tidak dapat segera memberikan pertolongan.

4. Memperkuat Solidaritas dan Mencegah Konflik

Sabir Maidin menegaskan bahwa berbuat baik dan memuliakan tetangga—Muslim maupun non-Muslim—merupakan pilar terciptanya kehidupan horizontal yang harmonis, rukun, damai, dan aman.

5. Mendatangkan Keberkahan dan Memperpanjang Umur

Rasulullah SAW bersabda bahwa berakhlak mulia dan berbuat baik kepada tetangga akan mendatangkan kebaikan bagi suatu negeri dan menambah umur manusia (HR. Ahmad).

6. Menjadi Ladang Amal Ibadah

Setiap kebaikan yang diberikan kepada tetangga bernilai ibadah. Sabir Maidin menyimpulkan bahwa Islam memerintahkan manusia berlomba-lomba dalam kebaikan, termasuk dalam adab bertetangga, sehingga konsep Islam sebagai rahmat bagi alam semesta dapat direalisasikan.

 

Pertanyaan Seputar Doa Tetangga yang Baik

1. Apa doa agar tetangga menjadi baik?

Doa yang diajarkan Rasulullah SAW adalah: Allāhumma innī a‘ūdzu bika min jāris-sū’i fī dāril-muqāmah, fa inna jāral-bādī yataḥawwal (Ya Allah, aku berlindung dari tetangga yang buruk di tempat tinggal yang tetap). Doa ini sekaligus merupakan permohonan agar Allah menggantikan tetangga yang buruk dengan tetangga yang baik.

2. Apakah ada doa khusus untuk memohon tetangga yang saleh?

Rasulullah SAW mengajarkan bahwa tetangga yang saleh termasuk kebahagiaan seorang Muslim. Doa berlindung dari tetangga yang buruk secara otomatis mengandung permohonan agar dikaruniai tetangga yang baik. Selain itu, Nabi Dawud as. juga memiliki doa perlindungan dari tetangga yang bermuka dua.

3. Siapa yang meriwayatkan doa tetangga yang baik?

Doa Allāhumma innī a‘ūdzu bika min jāris-sū’ diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra. dan dikeluarkan oleh An-Nasa'i, Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad, serta Ibnu Hibban. Syaikh Al-Albani menshahihkannya dalam Ash-Shahihah no. 3943.

4. Kapan sebaiknya membaca doa memohon tetangga yang baik?

Doa ini dapat dibaca kapan saja, terutama ketika akan menempati rumah baru, ketika merasa terganggu oleh tetangga, atau dalam doa-doa harian setelah shalat. Rasulullah SAW membacanya sebagai bagian dari doa perlindungan yang rutin.

5. Apa yang harus dilakukan jika tetangga berbuat buruk?

Selain berdoa, seorang Muslim dianjurkan untuk bersabar, menegur dengan cara yang baik, dan tidak membalas keburukan dengan keburukan. Sabir Maidin mengutip hadis bahwa jika seseorang diuji dengan tetangga yang jahat, hendaklah ia bersabar karena kesabarannya akan menjadi penyebab pembebasan dirinya dari gangguan tersebut.