Doa Memohon Keadilan Ketika Hak Dirampas, Munajat Nabi Syu’aib hingga Rasulullah Saat Dizalimi

Dalam Islam, seseorang diajarkan untuk tidak berputus asa saat menghadapi ketidakadilan.

Diterbitkan 28 Oktober 2026, 13:00 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Ketika hak dirampas, seseorang tidak hanya kehilangan sesuatu yang menjadi miliknya, tetapi juga bisa merasakan kekecewaan, ketidakberdayaan dan hilangnya rasa aman. Situasi ini kerap memicu kemarahan, terutama ketika upaya untuk mendapatkan keadilan belum membuahkan hasil.

Dalam Islam, seseorang diajarkan untuk tidak berputus asa saat menghadapi ketidakadilan. Selain memperjuangkan hak melalui jalur hukum dan cara-cara yang dibenarkan, berdoa kepada Allah SWT menjadi salah satu ikhtiar untuk memohon pertolongan dan keteguhan hati.

Doa memiliki kedudukan penting bagi seorang Muslim yang sedang menghadapi kezaliman. Rasulullah SAW mengingatkan umatnya tentang keutamaan doa orang yang terzalimi, sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat Ahmad. Pesan ini menjadi pengingat bahwa kezaliman bukan perkara sepele dan setiap perbuatan harus dipertanggungjawabkan.

Dalam buku Doa-Doa Pilihan Terbaik, Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al-Badr menjelaskan pentingnya doa sebagai bentuk penghambaan dan permohonan pertolongan kepada Allah SWT. Dengan berdoa, seseorang dapat memohon agar haknya dikembalikan, kebenaran ditunjukkan, dan hatinya dikuatkan untuk menghadapi persoalan tanpa terjerumus dalam tindakan yang merugikan diri sendiri maupun orang lain.

Doa memohon keadilan ketika hak dirampas dapat menjadi salah satu ikhtiar spiritual untuk meminta pertolongan Allah Yang Maha Adil, sembari tetap berusaha memperjuangkan hak melalui langkah-langkah yang benar dan bertanggung jawab.

Kumpulan Doa Memohon Keadilan ketika Hak Dirampas

Berikut ini adalah beberapa doa yang dapat diamalkan untuk memohon keadilan ketika hak dirampas, dilengkapi dengan Arab, latin, arti, serta dalil dan penjelasan ulama dari buku-buku rujukan yang kredibel.

1. Doa Nabi Syu'aib AS: Memohon Keputusan yang Adil

Doa ini merupakan doa yang dipanjatkan Nabi Syu'aib AS ketika kaumnya berlaku curang dan mengancam akan mengusirnya. Doa ini termaktub dalam Al-Qur'an Surah Al-A'raf ayat 89 dan sangat dianjurkan untuk dibaca ketika seseorang menghadapi ketidakadilan.

Arab: رَبَّنَا افْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَا بِالْحَقِّ وَاَنْتَ خَيْرُ الْفٰتِحِيْنَ

Latin: Rabbanaftah bainanaa wa baina qauminaa bil haqqi wa anta khairul faatihiin.

Artinya: "Ya Tuhan kami, berilah keputusan antara kami dan kaum kami dengan hak (adil). Engkaulah pemberi keputusan yang sebaik-baiknya."

Doa ini termaktub dalam Al-Qur'an Surah Al-A'raf ayat 89. Menurut Tafsir Al-Qur'an Kementerian Agama RI, Nabi Syu'aib AS mendapat ancaman dari kaumnya agar menghentikan dakwahnya atau ia akan diusir dari negerinya. Setelah menyampaikan penolakannya dengan tegas, beliau memohon keadilan kepada Allah dengan doa ini.

Dalam Doa-Doa Pilihan Terbaik, Syaikh Al-Badr menegaskan bahwa doa-doa para nabi merupakan contoh terbaik dalam memohon pertolongan Allah, karena mereka menghadapi kezaliman dengan penuh tawakal dan kesabaran. Doa mohon keadilan sangat dianjurkan bagi seseorang atau sekelompok orang yang mengharapkan tegaknya keadilan, karena agama Islam mengusung misi mulia untuk menegakkan keadilan di muka bumi.

2. Doa Nabi Muhammad SAW: Memohon Keputusan dengan Adil

Doa ini diriwayatkan dari Nabi Muhammad SAW dan termaktub dalam Al-Qur'an Surah Al-Anbiya ayat 112. Doa ini sangat singkat namun penuh makna, dan dapat dibaca kapan saja ketika seseorang merasa haknya dirampas.

Arab: رَبِّ احْكُمْ بِالْحَقِّ ۗ وَرَبُّنَا الرَّحْمٰنُ الْمُسْتَعَانُ عَلٰى مَا تَصِفُوْنَ

Latin: Rabbi-hkum bil haqq, wa rabbunar-rahmaanul musta'aanu 'alaa maa tashifuun.

Artinya: "Ya Tuhanku, berilah keputusan dengan adil. Dan Tuhan kami Maha Pengasih, tempat memohon segala pertolongan atas semua yang kamu katakan."

Doa ini termaktub dalam Al-Qur'an Surah Al-Anbiya ayat 112 dan merupakan doa Nabi Muhammad SAW. Syaikh Al-Badr dalam Doa-Doa Pilihan Terbaik menjelaskan bahwa doa ini mengandung permohonan agar Allah memberikan keputusan yang adil antara pihak yang benar dan yang zalim.

Beliau juga menegaskan bahwa Allah adalah Ar-Rahman yang menjadi tempat memohon pertolongan atas segala tuduhan dan perlakukan tidak adil. Doa ini mengajarkan bahwa keadilan sejati hanya dapat ditegakkan oleh Allah, dan tugas hamba adalah memohon dengan penuh keyakinan sambil tetap berusaha menempuh jalur yang benar.

3. Doa Memohon Keadilan dan Perlindungan dari Kezaliman

Doa ini disebutkan dalam berbagai artikel keislaman, termasuk Khair.or.id, dan merupakan doa yang ringkas namun mencakup dua permohonan sekaligus: keadilan dan perlindungan dari kezaliman orang lain.

Arab: اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَدْلَ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ ظُلْمِ مَنْ ظَلَمَنِي

Latin: Allaahumma innii as'alukal 'adl, wa a'uudzu bika min zhulmi man zhalamanii.

Artinya: "Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu keadilan, dan aku berlindung kepada-Mu dari kezaliman orang yang menzalimiku."

Doa ini dapat diamalkan saat seseorang merasa dizalimi atau haknya dirampas. Dalam Doa-Doa Pilihan Terbaik, Syaikh Al-Badr menegaskan bahwa memohon keadilan kepada Allah adalah bagian dari ibadah, karena Allah Maha Adil dan mencintai keadilan.

Ustaz Salehuddin dalam Ebook Koleksi Doa dan Zikir juga menempatkan doa perlindungan sebagai amalan yang dapat dibaca pada pagi dan petang untuk memohon penjagaan Allah dari berbagai gangguan, termasuk kezaliman manusia. Doa ini menyentuh dua dimensi sekaligus: memohon keadilan yang belum terwujud, dan berlindung dari kezaliman yang mungkin terus berlanjut.

4. Doa Memohon Pertolongan ketika Dizalimi (Doa Nabi Nuh AS)

Doa ini diriwayatkan dari Nabi Nuh AS. Doa ini sangat singkat dan mudah dihafal, serta dapat diulang-ulang ketika hati terasa sesak karena hak dirampas.

Arab: رَبِّ أَنِّي مَغْلُوبٌ فَانْتَصِرْ

Latin: Rabbi annii maghluubun fantasir.

Artinya: "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku ini adalah orang yang dikalahkan (dizalimi), maka tolonglah aku."

Doa ini dikutip oleh Yayasan Syekh Ali Jaber sebagai salah satu doa mustajab bagi orang yang terzalimi. Dalam Doa-Doa Pilihan Terbaik, Syaikh Al-Badr menegaskan bahwa doa adalah senjata bagi hamba yang lemah, dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Doa Nabi Nuh AS ini mengajarkan kerendahan hati untuk mengakui bahwa manusia memiliki keterbatasan, dan hanya Allah yang mampu menolong hamba-Nya dari kezaliman. Doa ini juga menjadi pengingat bahwa pertolongan Allah bisa datang dalam berbagai bentuk, tidak selalu sesuai dengan waktu yang kita inginkan, tetapi selalu tepat pada waktunya.

5. Doa Memohon agar Dijauhkan dari Kaum yang Zalim

Doa ini termaktub dalam Al-Qur'an dan merupakan doa yang dipanjatkan oleh Nabi Lut AS dan Nabi Yunus AS. Doa ini sangat singkat dan dapat dibaca kapan saja, terutama ketika seseorang merasa tidak berdaya menghadapi pihak yang merampas haknya.

Arab: رَبِّ نَجِّنِي مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ

Latin: Rabbi najjinii minal qaumizh zhaalimiin.

Artinya: "Ya Tuhanku, selamatkanlah aku dari orang-orang yang zalim."

Doa ini dianjurkan untuk dibaca ketika menghadapi kezaliman. Dalam Doa-Doa Pilihan Terbaik, Syaikh Al-Badr menegaskan bahwa doa-doa para nabi merupakan contoh terbaik dalam memohon pertolongan Allah.

Ustaz Salehuddin dalam Ebook Koleksi Doa dan Zikir juga menekankan bahwa doa perlindungan seperti ini sebaiknya dibaca dengan penuh keyakinan dan diulang-ulang, karena Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Doa ini tidak hanya memohon keselamatan fisik, tetapi juga keselamatan hati dari rasa dendam dan keputusasaan.

Makna Mendalam Doa Memohon Keadilan ketika Hak Dirampas

Doa memohon keadilan bukan sekadar rangkaian kata untuk meminta balasan setimpal kepada pihak yang menzalimi. Ia mengandung makna yang jauh lebih dalam, yang menyentuh relasi hamba dengan Allah, relasi dengan diri sendiri, dan relasi dengan orang lain.

1. Pengakuan atas Keterbatasan Diri dan Kekuasaan Allah

Setiap doa keadilan pada hakikatnya adalah pengakuan bahwa manusia tidak mampu menegakkan keadilan sejati dengan kekuatannya sendiri. Ketika seseorang mengucapkan Rabbanaftah bainanaa wa baina qauminaa bil haqq, ia sedang menyerahkan urusan yang mungkin telah macet di jalur manusiawi kepada Allah Yang Maha Adil.

Ini bukan sikap pasif, melainkan bentuk tawakal yang aktif: setelah berusaha semaksimal mungkin, hati dilepaskan dari beban untuk "mengadili" sendiri. Syaikh Al-Badr menegaskan bahwa doa adalah inti ibadah dan senjata bagi hamba yang lemah, karena kekuatan sejati bukanlah kemampuan membalas, melainkan kemampuan bersandar kepada Allah.

2. Pembersihan Hati dari Dendam dan Kebencian

Doa keadilan yang dipanjatkan dengan adab yang benar justru membersihkan hati dari dendam. Ketika seseorang menyerahkan pembalasan kepada Allah, ia sedang melepaskan hak prerogatif yang bukan miliknya.

Dalam Doa-Doa Pilihan Terbaik, Syaikh Al-Badr menjelaskan bahwa doa-doa Nabi SAW banyak berisi permohonan agar Allah membersihkan hati dari akhlak buruk. Doa keadilan bukan berarti merelakan kezaliman, tetapi memindahkan beban pembalasan dari pundak manusia yang terbatas kepada Allah Yang Maha Sempurna. Dengan demikian, hati tidak lagi dipenuhi kebencian yang menguras energi, melainkan dipenuhi harapan akan keadilan Allah.

3. Peneguhan bahwa Keadilan adalah Milik Allah

Doa keadilan juga mengandung pengakuan bahwa keadilan sejati bukanlah hasil rekayasa manusia, melainkan milik Allah. Ustaz Afif Anshori menegaskan bahwa sifat keadilan semata-mata hanyalah milik Allah SWT.

Ketika seseorang berdoa memohon keadilan, ia sedang mengakui bahwa standar keadilan yang paling sempurna bukanlah standar manusia yang sering kali dipengaruhi kepentingan, tetapi standar Allah yang Maha Adil. Pengakuan ini membebaskan seseorang dari ilusi bahwa dirinya dapat menjadi hakim yang sempurna atas orang lain.

4. Permohonan agar Hati Tetap Jernih dalam Memandang Kezaliman

Doa keadilan juga merupakan permohonan agar Allah memberikan hati yang jernih dalam memandang kehidupan. Nabi Musa AS, dalam doanya, memohon agar diperlihatkan bagaimana Allah menegakkan keadilan kepada hamba-hamba-Nya.

Doa ini mengajarkan bahwa keadilan bukan hanya soal hasil akhir, tetapi juga soal proses dan sikap hati. Seseorang yang berdoa memohon keadilan sedang meminta agar dirinya tidak terjebak dalam cara pandang yang sama zalimnya dengan orang yang menzaliminya. Ia memohon agar tetap mampu berlaku adil bahkan ketika dirinya sedang dizalimi.

Waktu Terbaik Doa Memohon Keadilan ketika Hak Dirampas

Para ulama menegaskan bahwa terdapat waktu-waktu tertentu yang lebih mustajab untuk berdoa. Memilih waktu-waktu tersebut bukan berarti doa di waktu lain tidak diterima, melainkan bentuk optimisme dan pengharapan yang lebih besar kepada Allah SWT.

1. Sepertiga Malam Terakhir (Waktu Sahur)

Sepertiga malam terakhir adalah waktu yang paling istimewa untuk berdoa. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Imam Tirmidzi, Rasulullah SAW ditanya tentang doa yang paling didengar, dan beliau menjawab, "Doa di tengah malam yang terakhir dan setelah shalat-shalat wajib".

Suasana malam yang sunyi sangat mendukung kekhusyukan dan ketenangan jiwa. Seseorang yang haknya dirampas dapat memanfaatkan waktu ini untuk bermunajat, memohon agar Allah menegakkan keadilan dan menenangkan hatinya. Waktu fajar atau waktu sahur juga disebut sebagai salah satu waktu paling agung untuk doa orang yang terzalimi.

2. Setelah Shalat Fardhu

Waktu setelah shalat fardhu, terutama pada sujud terakhir, adalah waktu yang sangat dianjurkan untuk berdoa. Dalam fatwa Islamweb, disebutkan bahwa di antara waktu-waktu yang sangat diharapkan pengabulan doa adalah ketika sujud, setelah shalat-shalat wajib, sepertiga malam terakhir, dan antara azan dan iqamah.

Sujud adalah momen paling dekat antara hamba dengan Allah, sehingga doa yang dipanjatkan dengan penuh kekhusyukan memiliki peluang besar untuk dikabulkan. Doa mohon keadilan juga dianjurkan dibaca setelah shalat wajib lima waktu.

3. Hari Jumat, Terutama Akhir Hari Jumat

Hari Jumat memiliki keutamaan yang sangat besar dalam Islam. Di antara waktu-waktu pada hari Jumat, terdapat saat di mana doa tidak akan ditolak, yaitu pada akhir hari Jumat sebelum Maghrib. Waktu terbaik untuk berdoa termasuk "akhir waktu setelah Ashar pada hari Jumat". Memanfaatkan waktu ini untuk memohon keadilan adalah pilihan yang sangat bijak, karena hari Jumat adalah hari yang penuh berkah dan doa pada waktu tersebut sangat diharapkan pengabulannya.

4. Ketika Hati Terasa Sangat Sesak dan Terzalimi

Selain waktu-waktu di atas, doa memohon keadilan juga sangat dianjurkan untuk dibaca kapan saja ketika hati terasa sesak, cemas, atau tertekan karena kezaliman. Rasulullah SAW bersabda bahwa doa orang yang terzalimi tidak ada hijab antara dia dengan Allah.

Ini berarti bahwa doa orang yang terzalimi memiliki kedudukan khusus yang tidak bergantung pada waktu tertentu. Semakin intensif seseorang berdoa ketika hatinya tertekan, semakin besar pula ketenangan yang ia rasakan, karena doa bekerja sebagai penyeimbang jiwa dan rohani.

Hikmah Doa Memohon Keadilan ketika Hak Dirampas

1. Menenangkan Jiwa dan Meredakan Kecemasan

Doa memiliki efek psikologis yang sangat besar bagi orang yang mengamalkannya. Dr. MS. Udin, MA dalam Konsep Dzikir dalam Al-Qur'an dan Implikasinya terhadap Kesehatan menjelaskan bahwa dzikir dan doa dapat menenangkan jiwa, melepaskan ketegangan fisik dan mental, serta memberikan perasaan tenteram dan ridha dalam hati.

Ketika seseorang yang haknya dirampas secara rutin memanjatkan doa keadilan, ia akan merasakan ketenangan jiwa karena telah menyerahkan urusannya kepada Allah. Ketenangan ini membantunya untuk tidak larut dalam kecemasan, tetap fokus pada upaya memperjuangkan haknya, dan tidak mudah terpancing emosi.

2. Memperkuat Ketahanan Mental dan Emosional

Doa memohon keadilan melatih seseorang untuk mengendalikan emosi dan tidak mudah terpancing oleh provokasi pihak yang menzalimi. Dalam perspektif psikologi, doa membantu mengalihkan fokus dari sumber kecemasan menuju Allah, sehingga beban psikologis perlahan berkurang.

Syaikh Al-Badr menegaskan bahwa hati manusia berada di antara dua jari Allah, sehingga permohonan agar hati tetap teguh dan tenang adalah permohonan yang sangat mungkin dikabulkan. Dengan ketahanan mental yang kuat, seseorang dapat mengambil langkah-langkah yang bijak dalam memperjuangkan haknya, tanpa terjebak dalam lingkaran balas dendam yang merugikan diri sendiri.

3. Menumbuhkan Tawakal dan Menghindarkan dari Keputusasaan

Doa keadilan mengajarkan bahwa pertolongan Allah pasti datang, bahkan ketika secara kasat mata tidak ada jalan keluar. Kisah Nabi Syu'aib AS yang memohon keputusan adil, atau Nabi Nuh AS yang memohon pertolongan ketika dikalahkan, adalah bukti sejarah bahwa doa orang yang terzalimi tidak pernah sia-sia.

Dengan berdoa, seseorang belajar untuk tidak bergantung pada kekuatan sendiri yang terbatas, melainkan berserah diri kepada Allah Yang Maha Kuasa. Tawakal ini menghindarkan seseorang dari keputusasaan dan menjaga optimisme dalam menghadapi perampasan hak.

4. Membersihkan Hati dari Dendam dan Menjaga Akhlak Mulia

Doa memohon keadilan yang dipanjatkan dengan adab yang benar justru membersihkan hati dari dendam. Ketika seseorang menyerahkan pembalasan kepada Allah, ia sedang melepaskan beban yang terlalu berat untuk dipikul sendiri.

Syaikh Al-Badr dalam Doa-Doa Pilihan Terbaik menjelaskan bahwa doa-doa Nabi SAW banyak berisi permohonan agar Allah membersihkan hati dari akhlak buruk. Dalam konteks perampasan hak, doa keadilan membantu seseorang untuk tidak membalas keburukan dengan keburukan, melainkan menempuh jalan ihsan. Ini adalah bentuk akhlak mulia yang tidak hanya menyelamatkan hubungan sosial, tetapi juga menjaga kesehatan jiwa.

5. Membuka Jalan Pertolongan dan Keadilan Allah

Doa orang yang terzalimi adalah senjata yang sangat ampuh. Rasulullah SAW bersabda, "Takutlah kalian terhadap doa orang yang terzalimi, karena sesungguhnya tidak ada hijab antara doanya dengan Allah" (HR Ahmad). Dengan berdoa, seseorang sedang membuka pintu langit untuk turunnya pertolongan dan keadilan.

Dr. MS. Udin menegaskan bahwa dzikir dan doa disertai tawakal dan ikhtiar merupakan gambaran jiwa yang tenang, yang membantu menjaga keseimbangan tubuh dan mempercepat proses penyembuhan. Pertolongan Allah bisa datang dalam berbagai bentuk: perubahan situasi, dibukanya pintu rezeki, hikmah yang dipetik, atau ketenangan hati yang tidak tergoyahkan. Yang pasti, doa orang yang terzalimi tidak akan pernah sia-sia.

 

Pertanyaan Seputar Doa Hak yang Dirampas

1. Doa apa yang paling utama dibaca ketika hak kita dirampas?

Doa Nabi Syu'aib AS, Rabbanaftah bainanaa wa baina qauminaa bil haqqi wa anta khairul faatihiin, adalah doa yang paling dianjurkan karena termaktub dalam Al-Qur'an dan merupakan doa seorang nabi yang menghadapi kezaliman. Dapat juga ditambahkan doa Nabi Muhammad SAW, Rabbi-hkum bil haqq, serta doa Hasbunallah wa ni'mal wakil.

2. Apakah boleh mendoakan keburukan bagi orang yang merampas hak kita?

Dalam Islam, mendoakan keburukan bagi orang zalim dibolehkan dalam batas tertentu, terutama jika doa tersebut berupa permohonan agar Allah menegakkan keadilan. Namun, mendoakan kebaikan seperti hidayah dan kesadaran agar orang tersebut bertobat dan mengembalikan hak yang dirampas dinilai lebih mulia dan menenangkan hati.

3. Kapan waktu terbaik memanjatkan doa memohon keadilan?

Waktu terbaik adalah sepertiga malam terakhir, setelah shalat fardhu (terutama saat sujud), antara azan dan iqamah, serta akhir hari Jumat sebelum Maghrib. Waktu-waktu ini adalah waktu mustajab untuk berdoa, dan doa orang yang terzalimi memiliki keistimewaan khusus di sisi Allah.

4. Apakah doa saja cukup untuk memperjuangkan hak yang dirampas?

Tidak. Doa adalah ikhtiar batin yang harus disertai dengan ikhtiar lahiriah. Seseorang tetap perlu menempuh jalur hukum, melapor kepada pihak berwenang, atau mencari mediasi yang adil. Islam mengajarkan keseimbangan antara doa, usaha, dan tawakal. Doa tanpa usaha bisa menjadi kepasifan, sedangkan usaha tanpa doa bisa menjadi kesombongan.

5. Apakah ada doa khusus untuk melunakkan hati orang yang merampas hak kita?

Ya, salah satunya adalah doa Allaahumma layyin lii qalbahu layyinta li Daawudal hadiid, yang memohon agar Allah melunakkan hati orang tersebut sebagaimana Allah melunakkan besi bagi Nabi Daud. Doa ini dapat dibaca bersamaan dengan doa keadilan, dengan harapan agar orang tersebut tersentuh hatinya dan bersedia mengembalikan hak yang dirampas.