Sukses

Kembali ke Surah
Pilih ayat

Ayat tidak ditemukan

Surah ke-5 · Ayat 116

Al-Ma'idah Ayat 116

Hidangan · Madaniyah · 120 ayat

وَاِذْ قَالَ اللّٰهُ يٰعِيْسَى ابْنَ مَرْيَمَ ءَاَنْتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُوْنِيْ وَاُمِّيَ اِلٰهَيْنِ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗقَالَ سُبْحٰنَكَ مَا يَكُوْنُ لِيْٓ اَنْ اَقُوْلَ مَا لَيْسَ لِيْ بِحَقٍّ ۗاِنْ كُنْتُ قُلْتُهٗ فَقَدْ عَلِمْتَهٗ ۗتَعْلَمُ مَا فِيْ نَفْسِيْ وَلَآ اَعْلَمُ مَا فِيْ نَفْسِكَ ۗاِنَّكَ اَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوْبِ

Wa iż qālallāhu yā ‘īsabna maryama a'anta qulta lin-nāsittakhiżūnī wa ummiya ilāhaini min dūnillah(i), qāla subḥānaka mā yakūnu lī an aqūla mā laisa lī biḥaqq(in), in kuntu qultuhū faqad ‘alimtah(ū), ta‘lamu mā fī nafsī wa lā a‘lamu mā fī nafsik(a), innaka anta ‘allāmul-guyūb(i).

Arti

Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman, “Wahai Isa putra Maryam! Engkaukah yang mengatakan kepada orang-orang, jadikanlah aku dan ibuku sebagai dua tuhan selain Allah?” (Isa) menjawab, “Mahasuci Engkau, tidak patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku. Jika aku pernah mengatakannya tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada-Mu. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mengetahui segala yang gaib.”

Tafsir

Tafsir Wajiz

Beberapa ayat sebelumnya menjelaskan nikmat Allah yang dianugerahkan kepada Nabi Isa, termasuk nikmat mendapat pengikut setia dan turunnya hidangan dari langit. Pada ayat ini, Allah meminta pertanggungjawaban Nabi Isa tentang sikap Bani Israil yang mempertuhankan dirinya dan ibunya. Dan ingatlah, wahai Nabi Muhammad apa yang akan terjadi pada hari kiamat, ketika Allah berfirman kepada Nabi Isa, “Wahai Isa putra Maryam! Apa engkau pernah mengatakan kepada orang-orang, jadikanlah aku dan ibuku sebagai dua tuhan selain Allah yang menyebabkan mereka meyakini trinitas, tiga tuhan, hingga menyimpang dari ajaran tauhid?” Nabi Isa menjawab di hadapan Allah di akhirat, “Mahasuci Engkau dari apa yang mereka nisbahkan kepadaMu; tidak patut bagiku sebagai hamba-Mu dan Rasul-Mu, mengatakan kepada manusia yang bukan kebenaran, yakni mempertuhankan manusia dan menyembahnya sehingga menyimpang dari ajaran tauhid. Jika aku, selama hidupku yang singkat di dunia, pernah mengatakannya, menjadikan aku dan ibuku dua tuhan selain Engkau, ya Allah, tentulah Engkau telah mengetahuinya. Sebab, Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku, yang tampak dan yang tersembunyi, dan aku sebagai manusia sangat terbatas, tidak mengetahui apa yang ada pada-Mu. Sungguh merupakan keharusan yang mutlak, Engkaulah, Tuhan, Yang Maha Mengetahui segala yang gaib, tersembunyi dari pandangan dan pengetahuan manusia.”

Tafsir Tahlili

Pada ayat ini, Allah berkata, apakah Isa dan ibunya telah menyatakan dirinya sebagai tuhan. Isa menyatakan bahwa pernyataan di atas adalah tidak benar, karena dia tidaklah berhak menyatakan sesuatu yang tidak patut bagi dirinya dan ibunya. Allah menanyakan hal demikian itu kepada Isa walaupun Allah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, agar Isa di hari Kiamat itu menyatakan di hadapan para rasul dan umat manusia bahwa hanya Allah-lah yang berhak disembah, serta dia menjelaskan kesalahan umatnya yang memandang dirinya dan ibunya sebagai Tuhan. Semua ibadah hanya ditujukan kepada Allah. Ayat ini memberikan peringatan kepada orang-orang Nasrani yang hidup kemudian atas kesalahan dan kekeliruan akidah mereka. Banyak macam ibadah dan doa yang dilakukan oleh orang Nasrani ditujukan kepada Isa dan ibunya, baik yang khusus untuk Isa dan ibunya masing-masing, maupun ibadah mempersekutukan mereka dengan Allah. Semua ibadah seperti itu tidak dapat dibenarkan, karena segala ibadah itu haruslah ditujukan kepada Allah saja. Firman Allah:

وَمَآ اُمِرُوْٓا اِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ

"Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama…" (al-Bayyinah/98: 5)

Tiada Tuhan selain Allah yang berhak disembah hamba. Nabi Isa menjawab pertanyaan Allah tentang ibadah dan kepercayaan yang ditujukan kepada dirinya dan ibunya dengan jawaban yang diawali kata “Subhānaka” artinya “Engkau Mahasuci”, maksudnya mustahil ada Tuhan selain Allah.

Nabi Isa menegaskan baik dirinya sendiri atau orang lain, tidaklah berhak untuk mengatakan sesuatu yang tidak patut bagi dirinya dan ibunya. Tidak terlintas sedikit pun dalam pikiran Nabi Isa untuk menyatakan dirinya atau ibunya sebagai tuhan, karena ia diutus kepada manusia untuk membimbing mereka ke jalan yang lurus yakni agama tauhid. Sekiranya Nabi Isa menyatakan pengakuannya sebagai Tuhan, atau terlintas dalam pikirannya, tentulah Allah lebih mengetahuinya, karena Dia Maha Mengetahui apa yang tersembunyi dalam pikiran manusia, terlebih apa yang diungkapkannya. Manusia tidak mengetahui apa yang disembunyikan Allah kecuali jika Dia memberitahukannya dengan perantaraan wahyu. Sesungguhnya hanya Allah sendiri yang Maha Mengetahui segala yang gaib; Ilmu-Nya meliputi segala yang pernah terjadi, yang sedang terjadi, dan yang akan terjadi.

Allah menanyakan apakah Nabi Isa menyatakan diri dan ibunya sebagai Tuhan, karena orang-orang Nasrani di Najran banyak yang menganggap Isa dan ibunya sebagai Tuhan (Alūsī V;94). Yang penting ayat ini merupakan jawaban Nabi Isa yang dengan tegas tidak pernah menyatakan diri dan ibunya sebagai Tuhan. Jawaban ini perlu untuk diketahui oleh murid-murid Nabi Isa maupun semua pengikutnya.

Sumber tafsir: Kementerian Agama RI.

Poin Penting

  • Pada hari Kiamat, Allah akan meminta pertanggungjawaban Nabi Isa terkait orang-orang yang mempertuhankan dirinya dan ibunya, dengan bertanya apakah Isa pernah memerintahkan hal tersebut.
  • Nabi Isa menjawab dengan menyucikan Allah dan menegaskan tidak pantas baginya mengatakan hal yang bukan haknya, karena ia diutus untuk membimbing manusia ke jalan tauhid.
  • Nabi Isa menyatakan bahwa Allah Maha Mengetahui segala yang gaib, termasuk apa yang ada pada dirinya, dan ia tidak mengetahui apa yang ada pada Allah.
  • Pertanyaan Allah ini bertujuan agar Nabi Isa di hari Kiamat dapat menjelaskan kesalahan umatnya dan menegaskan hanya Allah yang berhak disembah.
  • Ayat ini juga menjadi peringatan bagi orang Nasrani atas kekeliruan akidah mereka yang mempertuhankan Isa dan ibunya.

FAQ

Apa kandungan Surat Al-Ma'idah ayat 116?

Surat Al-Ma'idah ayat 116 menjelaskan dialog antara Allah dan Nabi Isa pada hari Kiamat. Allah bertanya kepada Nabi Isa apakah ia pernah memerintahkan manusia untuk menjadikan dirinya dan ibunya sebagai dua tuhan selain Allah. Nabi Isa menjawab dengan menyucikan Allah, menegaskan bahwa tidak pantas baginya mengatakan hal yang bukan haknya, dan mengakui bahwa hanya Allah Yang Maha Mengetahui segala yang gaib. Ayat ini juga merupakan peringatan bagi orang-orang Nasrani yang mempertuhankan Nabi Isa dan ibunya.

Mengapa Allah menanyakan hal tersebut kepada Nabi Isa, padahal Dia Maha Mengetahui?

Allah menanyakan hal tersebut kepada Nabi Isa, meskipun Dia Maha Mengetahui, agar Nabi Isa pada hari Kiamat dapat menyatakan di hadapan para rasul dan seluruh umat manusia bahwa hanya Allah-lah yang berhak disembah. Ini juga bertujuan agar Nabi Isa menjelaskan kesalahan umatnya yang memandang dirinya dan ibunya sebagai Tuhan.

Apa makna jawaban Nabi Isa 'Mahasuci Engkau' dalam ayat ini?

Jawaban Nabi Isa 'Mahasuci Engkau' (Subhānaka) berarti mustahil ada Tuhan selain Allah. Ini menegaskan bahwa Allah Mahasuci dari segala apa yang mereka nisbahkan kepada-Nya, termasuk anggapan adanya tuhan selain Dia.

Apa tujuan Nabi Isa diutus kepada manusia?

Nabi Isa diutus kepada manusia untuk membimbing mereka ke jalan yang lurus, yaitu agama tauhid, bukan untuk menyatakan dirinya atau ibunya sebagai tuhan.