Sukses

Kembali ke Surah
Pilih ayat

Ayat tidak ditemukan

Surah ke-5 · Ayat 114

Al-Ma'idah Ayat 114

Hidangan · Madaniyah · 120 ayat

قَالَ عِيْسَى ابْنُ مَرْيَمَ اللهم رَبَّنَآ اَنْزِلْ عَلَيْنَا مَاۤىِٕدَةً مِّنَ السَّمَاۤءِ تَكُوْنُ لَنَا عِيْدًا لِّاَوَّلِنَا وَاٰخِرِنَا وَاٰيَةً مِّنْكَ وَارْزُقْنَا وَاَنْتَ خَيْرُ الرّٰزِقِيْنَ

Qāla ‘īsabnu maryamallāhumma rabbanā anzil ‘alainā mā'idatam minas-samā'i takūnu lanā ‘īdal li'awwalinā wa ākhirinā wa āyatam minka warzuqnā wa anta khairur-rāziqīn(a).

Arti

Isa putra Maryam berdoa, “Ya Tuhan kami, turunkanlah kepada kami hidangan dari langit (yang hari turunnya) akan menjadi hari raya bagi kami, yaitu bagi orang-orang yang sekarang bersama kami maupun yang datang setelah kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaan Engkau; berilah kami rezeki, dan Engkaulah sebaik-baik pemberi rezeki.”

Tafsir

Tafsir Wajiz

Nabi Isa putra Maryam menjawab permohonan al-hawariyyun dengan berdoa kepada Allah, “Ya Tuhan kami, yang menguasai semua urusan, turunkanlah kepada kami hidangan yang lezat, nikmat, dan penuh berkah dari langit secara langsung, yang peristiwa turunnya hidangan ini akan menjadi hari raya, yakni menjadi peristiwa penting bagi kami, yaitu bagi orang-orang yang sekarang bersama kami, al-hawariyyun, maupun yang datang setelah kami, yaitu orang-orang yang beriman kepada Allah dan Nabi Muhammad; dan turunnya hidangan ini akan menjadi tanda bagi kekuasaan Engkau sekaligus menjadi mukjizat bagiku. Kami pun memohon kepada-Mu, Ya Allah, berikanlah kepada kami rezeki yang halal dan berkah, karena Engkaulah sebaik-baik pemberi rezeki kepada seluruh makhluk dengan adil dan merata.”

Tafsir Tahlili

Dalam ayat ini diterangkan, bahwa Nabi Isa setelah mengetahui maksud baik dari kaum Ḥawāriyyīn dalam permohonan mereka yaitu bahwa mereka tidak meragukan kekuasaan Allah, melainkan karena mereka ingin lebih yakin dan memperoleh keimanan yang lebih kuat serta ketenteraman hati, maka Nabi Isa mengabulkan permohonan mereka untuk bedoa kepada Allah agar menurunkan hidangan untuk mereka. Nabi Isa memulai doanya itu dengan ucapan “Allāhuma Rabbanā”. Sedangkan kata-kata tersebut mengandung pengertian sifat-sifat keagungan-Nya, yaitu: ketuhanan, kekuasaan, hikmah dan kebijaksanaan-Nya, serta sifat-sifat-Nya sebagai Penguasa, Pendidik, Pemelihara dan Pemberi nikmat.

Kemudian Isa melanjutkan doanya dengan permohonan agar Allah menurunkan untuk mereka hidangan dari langit. Nabi Isa mengharapkan agar hari ketika hidangan itu turun akan menjadi hari raya bagi mereka dan generasi mereka selanjutnya. Hal ini juga akan menjadi tanda atau bukti bagi kekuasaan Allah. Nabi Isa mengakhiri doanya dengan ucapan, “Berilah kami rezeki, karena Engkau adalah Pemberi rezeki Yang Paling Utama.” Hal yang perlu kita perhatikan dalam ayat ini ialah bahwa Nabi Isa dalam doanya lebih dahulu menyebutkan faedah rohaniah yang akan diperoleh bila Allah mengabulkan doanya, kemudian baru disebutkan faedahnya dari segi jasmaniah. Faedah rohaniah ialah: turunnya hidangan itu akan merupakan hari yang amat penting dalam kehidupan umatnya, dan akan mereka jadikan hari raya, dimana mereka akan selalu mengenang rahmat Allah, dan mereka akan mengagungkan kebesaran kekuasaan-Nya. Hal ini akan menambah keyakinan mereka, dan akan memperkokoh keimanan kepada Allah. Adapun faedah jasmaniah ialah makanan itu akan merupakan rezeki yang akan menghilangkan rasa lapar dan mengembalikan kesegaran dan kekuatan jasmani mereka.

Lain halnya kaum Ḥawāriyyīn ketika mereka mengemukakan permintaan itu kepada Isa. Mereka mendahulukan penyebutan faedah jasmaniah, dan sesudah itu barulah menyebutkan faedah rohaniahnya. Dengan demikian dapat diambil kesimpulan, bahwa dengan susunan doanya itu, Nabi Isa mengajarkan kepada umatnya, agar mereka lebih mengutamakan segi-segi mental rohaniah daripada segi-segi fisik materiil jasmaniah.

Disebutkan “Mā′idah” dalam surah ini yang berarti “hidangan” maka kata tersebut telah disepakati menjadi nama bagi surah ini, yaitu Surah al-Mā′idah/5. Kata-kata yang dipakai menjadi nama bagi surah-surah Al-Qur′an kebanyakan diambil dari suatu kata yang terdapat di dalam surah bersangkutan, yang berkenaan dengan suatu hal yang amat penting, misalnya: nama surah ini dan Surah “al-Baqarah”. Adakalanya pula diambil dari kata-kata lain yang tidak terdapat dalam surah itu tetapi menunjukkan dengan jelas isi surah tersebut, misalnya nama Surah al-Ikhlās/ 112.

Ayat 112 dan 113 menyebutkan permintaan hidangan makanan dari langit oleh pengikut-pengikut Nabi Isa. Dalam beberapa bab dalam Perjanjian Baru dilukiskan sangat beragam (Matius vi.11, Kisah Para Rasul x.9-12 dan sebagainya).

Sumber tafsir: Kementerian Agama RI.

Poin Penting

  • Nabi Isa berdoa kepada Allah agar menurunkan hidangan dari langit.
  • Turunnya hidangan tersebut diharapkan menjadi hari raya bagi umatnya dan menjadi tanda kekuasaan Allah serta mukjizat bagi Nabi Isa.
  • Nabi Isa juga memohon rezeki yang halal dan berkah, karena Allah adalah sebaik-baik pemberi rezeki.
  • Melalui susunan doanya, Nabi Isa mengajarkan umatnya untuk lebih mengutamakan faedah rohaniah (seperti keyakinan dan keimanan) daripada faedah jasmaniah.

FAQ

Apa kandungan Surat Al-Ma'idah ayat 114?

Ayat ini berisi doa Nabi Isa putra Maryam kepada Allah untuk menurunkan hidangan dari langit. Hidangan tersebut diharapkan menjadi hari raya bagi umatnya, tanda kekuasaan Allah, sekaligus mukjizat bagi Nabi Isa. Dalam doanya, Nabi Isa juga memohon rezeki yang halal dan berkah, mengakui Allah sebagai sebaik-baik pemberi rezeki.

Mengapa Nabi Isa mengabulkan permohonan kaum Hawariyyin untuk berdoa meminta hidangan dari langit?

Nabi Isa mengabulkan permohonan mereka setelah mengetahui bahwa maksud kaum Hawariyyin adalah untuk lebih yakin, memperoleh keimanan yang lebih kuat, dan ketenteraman hati, bukan karena mereka meragukan kekuasaan Allah.

Apa yang diajarkan oleh Nabi Isa melalui susunan doanya dalam ayat ini?

Nabi Isa mengajarkan kepada umatnya agar lebih mengutamakan segi-segi mental rohaniah daripada segi-segi fisik materiil jasmaniah. Hal ini terlihat dari doanya yang lebih dahulu menyebutkan faedah rohaniah (seperti menjadi hari penting, menambah keyakinan, dan memperkokoh iman) sebelum menyebutkan faedah jasmaniah (seperti makanan untuk menghilangkan lapar).