Sukses

Kembali ke Surah
Pilih ayat

Ayat tidak ditemukan

Surah ke-5 · Ayat 54

Al-Ma'idah Ayat 54

Hidangan · Madaniyah · 120 ayat

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مَنْ يَّرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِيْنِهٖ فَسَوْفَ يَأْتِى اللّٰهُ بِقَوْمٍ يُّحِبُّهُمْ وَيُحِبُّوْنَهٗٓ ۙاَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ اَعِزَّةٍ عَلَى الْكٰفِرِيْنَۖ يُجَاهِدُوْنَ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَلَا يَخَافُوْنَ لَوْمَةَ لَاۤىِٕمٍ ۗذٰلِكَ فَضْلُ اللّٰهِ يُؤْتِيْهِ مَنْ يَّشَاۤءُۗ وَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ

Yā ayyuhal-lażīna āmanū may yartadda minkum ‘an dīnihī fa saufa ya'tillāhu biqaumiy yuḥibbuhum wa yuḥibbūnah(ū), ażillatin ‘alal-mu'minīna a‘izzatin ‘alal-kāfirīn(a), yujāhidūna fī sabīlillāhi wa lā yakhāfūna laumata lā'im(in), żālika faḍlullāhi yu'tīhi may yasyā'(u), wallāhu wāsi‘un ‘alīm(un).

Arti

Wahai orang-orang yang beriman! Barangsiapa di antara kamu yang murtad (keluar) dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum, Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, dan bersikap lemah lembut terhadap orang-orang yang beriman, tetapi bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah yang diberikan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas (pemberian-Nya), Maha Mengetahui.

Tafsir

Tafsir Wajiz

Bila sebelumnya dijelaskan tentang larangan untuk tidak menjadikan orang Yahudi dan Nasrani sebagai teman setia serta tentang buruknya sikap kaum munafik, maka ayat-ayat berikut berbicara tentang orang mukmin. “Wahai orang-orang yang beriman! Barang siapa di antara kamu yang murtad atau keluar dari agamanya, maka ketahuilah bahwa kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang benar-benar beriman untuk menggantikanmu. Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya dengan segenap keikhlasannya, dan mereka juga selalu bersikap lemah lembut terhadap sesama orang-orang yang beriman, tetapi sebaliknya, mereka akan bersikap keras terhadap orang-orang kafir. Selain itu, mereka juga merupakan umat yang selalu siap untuk berjihad di jalan Allah, dan mereka juga termasuk orang-orang yang tidak takut kepada celaan orang yang dengki dan tidak senang yang suka mencela. Itulah salah satu bentuk karunia Allah yang diberikan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki dari makhluk-Nya. Karena itu ketahui dan pahami bahwa Allah itu Mahaluas pemberian-Nya, lagi Maha Mengetahui.

Tafsir Tahlili

Dalam ayat ini terkandung berita tantangan yang akan terjadi, yaitu akan murtadnya sebagian orang mukmin. Mereka akan keluar dari Islam dengan terang-terangan. Keluarnya mereka dari Islam, tidaklah akan membahayakan orang mukmin, tetapi sebaliknya yang akan terjadi, yaitu Allah akan menggantinya dengan orang-orang yang lebih kuat imannya dan lebih baik amal perbuatannya, sebagai pengganti mereka yang murtad itu.

Menurut riwayat Ibnu Jarir dari Qatadah, diceritakan bahwa setelah ayat ini diturunkan, beberapa kelompok manusia akan murtad, keluar dari agama Islam. Peristiwa itu kemudian benar-benar terjadi, ketika Nabi Muhammad saw. berpulang ke rahmatullah, murtadlah sebagian orang Islam, terkecuali dari tiga tempat, yaitu penduduk Medinah, penduduk Mekah dan penduduk Bahrain. Di antara tanda-tanda murtad mereka ialah bahwa mereka tidak mau lagi mengeluarkan zakat. Mereka mengatakan: “Kami akan tetap salat, tetapi kami tidak mau mengeluarkan zakat. Demi Allah, harta kami tidak boleh dirampas.” Maka Khalifah Abu Bakar ketika itu terpaksa mengambil tindakan keras. Orang-orang yang murtad itu diperangi, sehingga di antara mereka ada yang mati, ada yang terbakar dan ada pula yang ditangkap, dan akhirnya mereka kembali bersedia membayar zakat.

Peristiwa terjadinya kemurtadan ini banyak sekali. Di dalam sejarah disebutkan bahwa pada masa Nabi Muhammad saw. masih hidup telah terjadi tiga kali peristiwa murtad, yaitu:

  1. Golongan Bani Mażḥij yang dipelopori oleh Zulkhimar, yaitu al-Aswad al-’Ansi seorang tukang tenung. Dia mengaku sebagai nabi di Yaman, dia dibunuh oleh salah seorang dari Muslimin.
  2. Golongan Bani Hanifah, yaitu Musailimah al-Każżāb, Musailimah mengaku dirinya sebagai nabi. Dia pernah berkirim surat kepada Nabi Muhammad saw. mengajak beliau untuk membagi dua kekuasaan di negeri Arab. Dia memerintah separuh negeri dan Nabi Muhammad saw. memerintah sisanya. Nabi Muhammad saw. membalas suratnya dengan mengatakan bahwa bumi ini adalah kepunyaan Allah dan Allah akan mempusakakan bumi ini kepada siapa yang dikehendaki di antara hamba-Nya dan bahwa kemenangan terakhir akan berada pada orang yang bertakwa kepada-Nya. Akhirnya Musailimah diperangi oleh Khalifah Abu Bakar dan ia mati dibunuh oleh Wahsyi yang dulu pernah membunuh Hamzah, paman Nabi dalam Perang Uhud.
  3. Golongan Bani Asad, pemimpinnya bernama Ṭulaiḥah bin Khuwailid, dia juga mengaku dirinya menjadi nabi, maka Abu Bakar memeranginya dengan memerintahkan Khalid bin Walid untuk membunuhnya. Dia mundur dan lari ke negeri Syam dan akhirnya dia kembali menjadi seorang Muslim yang baik.

Sesudah Nabi Muhammad saw. meninggal, pada masa Khalifah Abu Bakar, banyak terjadi golongan-golongan yang murtad terdiri dari 7 golongan, yaitu: (1) Gaṭafān, (2) Khuza’ah, (3) Bani Sulaim, (4) Bani Yarbū’, (5) sebagian Bani Tamīm, (6) Kindah, dan (7) Bani Bakr.

Orang-orang yang menggantikan orang-orang murtad itu selalu me-ngatakan kebenaran dan membantu perjuangan Islam, ditandai oleh Allah dengan enam sifat yang penting, yaitu:

  1. Allah mencintai mereka, karena keimanan dan keyakinan mereka dalam berjuang.
  2. Mereka cinta kepada Allah, karena perintah Allah lebih diutamakan dari urusan-urusan yang lain,
  3. Mereka bersikap lemah lembut terhadap orang mukmin,
  4. Mereka bersikap keras dan tegas terhadap orang kafir.
  5. Berjihad fī sabīlillah, yaitu bersungguh-sungguh dalam menegakkan agama Allah, mau berkorban dengan harta dan dirinya dan tidak takut berperang menghadapi musuh agama,
  6. Mereka tidak takut terhadap cacian dan celaan, tidak takut kepada gertakan dan ancaman. Sebab mereka senantiasa dalam beramal, berjuang, bukan mencari pujian dan sanjungan manusia, bukan juga mencari pangkat dan kedudukan dan bukan pula mencari nama dan pengaruh. Yang mereka cari hanyalah keridaan Allah semata.

Sifat-sifat yang tersebut di atas adalah karunia Allah kepada hamba-Nya yang dikehendaki. Dengan sifat-sifat itulah derajat seseorang menjadi tinggi dan mulia di hadapan manusia, dan lebih-lebih di hadapan Allah yang mempunyai karunia yang besar. Semuanya itu akan dapat diperoleh dengan jalan mendekatkan diri kepada Allah serta memperbanyak ibadah dan bersyukur.

Sumber tafsir: Kementerian Agama RI.

Poin Penting

  • Allah akan mengganti orang-orang yang murtad dari agama-Nya dengan suatu kaum yang beriman, yang lebih kuat iman dan lebih baik amal perbuatannya.
  • Kaum pengganti tersebut dicintai Allah dan mereka mencintai-Nya, bersikap lemah lembut terhadap sesama orang beriman, dan bersikap keras terhadap orang kafir.
  • Mereka juga berjihad di jalan Allah dan tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela.
  • Sifat-sifat mulia ini adalah karunia Allah yang diberikan kepada siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Mahaluas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.

FAQ

Apa kandungan utama Surat Al-Ma'idah ayat 54?

Ayat ini menjelaskan bahwa jika ada orang beriman yang murtad atau keluar dari agamanya, Allah akan mendatangkan suatu kaum pengganti yang benar-benar beriman. Kaum ini dicintai Allah dan mereka pun mencintai-Nya, bersikap lemah lembut terhadap sesama orang beriman, tetapi bersikap keras terhadap orang-orang kafir. Mereka juga adalah umat yang selalu siap berjihad di jalan Allah dan tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Ini adalah karunia Allah yang diberikan kepada siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Mahaluas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui.

Apa saja sifat-sifat kaum yang akan didatangkan Allah sebagai pengganti orang-orang yang murtad dalam Surat Al-Ma'idah ayat 54?

Kaum pengganti tersebut memiliki enam sifat penting: Allah mencintai mereka karena keimanan dan keyakinan mereka dalam berjuang; mereka mencintai Allah karena perintah Allah lebih diutamakan dari urusan lainnya; bersikap lemah lembut terhadap orang mukmin; bersikap keras dan tegas terhadap orang kafir; berjihad di jalan Allah dengan bersungguh-sungguh, mau berkorban dengan harta dan dirinya, serta tidak takut berperang menghadapi musuh agama; dan tidak takut terhadap cacian atau celaan karena mereka berjuang hanya mencari keridaan Allah semata.

Apakah peristiwa kemurtadan yang disebutkan dalam Surat Al-Ma'idah ayat 54 benar-benar terjadi?

Ya, Tafsir Tahlili menyebutkan bahwa setelah ayat ini diturunkan, beberapa kelompok manusia murtad dari agama Islam. Peristiwa itu benar-benar terjadi setelah Nabi Muhammad SAW wafat, di mana sebagian orang Islam murtad, salah satunya dengan menolak mengeluarkan zakat. Khalifah Abu Bakar kemudian mengambil tindakan keras memerangi mereka. Tafsir Tahlili juga mencatat beberapa peristiwa kemurtadan pada masa hidup Nabi Muhammad SAW dan pada masa Khalifah Abu Bakar.