Cerita Wamen HAM Mugiyanto Terdampar 3 Hari di Doha Imbas Konflik AS-Israel vs Iran

Wakil Menteri HAM Mugiyanto ikut terdampak saat berada dalam perjalanan dinas. Ia yang tengah transit di Doha, Qatar, sedianya melanjutkan penerbangan ke Swiss.

Diterbitkan 03 Maret 2026, 09:53 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Eskalasi konflik di Timur Tengah pasca serangan AS-Israel ke Iran, membuat wilayah udara di negara sekitar terisolir. Maskapai komersil memilih menutup layanan penerbangan sementara atas alasan keamanan.

Dalam situasi tersebut, Wakil Menteri HAM Mugiyanto yang tengah transit di Doha, Qatar turut terdampak. Awalnya, Mugiyanto berencana terbang ke Jenewa, Swiss guna menghadiri Sidang Dewan HAM PBB di Jenewa. Namun sudah hari ketiga, situasi masih belum berubah.

"Ini adalah hari ke-3 kami terdampar di Doha, Qatar, dalam perjalanan yang seharusnya menghadiri Sidang Dewan HAM PBB di Jenewa," kata Mugiyanto melalui sosial media resmi Kementerian HAM, Selasa (3/3/2026).

Saat ini, Mugiyanto memastikan, bersama tim tampak dalam kondisi baik, walau situasi belum kondusif mengingat belum ada kepastian tentang pembukaan ruang udara untuk terbang.

Mugiyanto berharap supaya semua WNI yang berada di wilayah terdampak tetap tenang, mempercayakan kepada Kedubes dan otoritas negara setempat, sambil terus berdoa semoga konflik segera selesai.

"Kami hanya bisa berharap mudah-mudahan ruang udara di Qatar dan negara-negara sekitar segera dipulihkan dan perdamaian bisa segera terwujud," doa dia.

 

Kondisi 329 WNI

Sebelumnya, Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia (Dubes LBBP RI) untuk Iran dan Turkmenistan Roy Sumirat memastikan kondisi warga negara Indonesia (WNI) di Iran dalam keadaan aman menyusul serangan terhadap negara tersebut oleh Amerika Serikat (AS) dan Israel pada Sabtu (28/2/2026) pagi waktu setempat.

Menurut Roy, KBRI Teheran saat ini memprioritaskan komunikasi intensif dengan seluruh WNI yang tersebar di berbagai kota di Iran. Tercatat sedikitnya 329 WNI telah melapor dan terdata secara resmi di KBRI Teheran.

"Komunikasi ini sangat penting untuk kami dapat memberikan assessment yang paling tepat untuk memberikan bantuan dan perlindungan yang dibutuhkan oleh para WNI," ujar Roy dalam pesan suara kepada awak media.

"Adapun dapat saya sampaikan sampai saat ini sekitar waktu 2.30 sore waktu Iran seluruh simpul-simpul WNI yang kami hubungi di berbagai kota di Iran menyampaikan bahwa dirinya tidak mengalami atau merasakan adanya ancaman langsung."

Roy menyatakan lebih lanjut, "Namun demikian tentu saja KBRI tetap menghimbau agar para WNI mengambil langkah-langkah yang diperlukan guna melakukan pengamanan terhadap diri dan keluarganya masing-masing. Adapun assessment mengenai keamanan di Iran akan tetap dilakukan KBRI Teheran dan berkoordinasi dengan kantor kementerian luar negeri di Jakarta." ujarnya.

 

Rencana Kontingensi Siaga

Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia (Kemlu RI) menyatakan telah menyiagakan rencana kontingensi terkait dengan situasi di Iran, namun menggarisbawahi bahwa opsi evakuasi belum ditempuh.

"Terkait situasi di Iran sampai dengan hingga saat ini terpantau kota-kota di Iran berjalan normal dan kondusif. Bandara internasional maupun domestik juga masih beroperasi secara normal," demikian disampaikan Plt Direktur Pelindungan Warga Negara Indonesia (WNI) Heni Hamidah dalam press briefing di Kemlu RI, Jumat (27/2).

Heni menambahkan, "Terkait keberadaan WNI di Iran, KBRI di Teheran terus memantau dan menjalin komunikasi intensif dengan para WNI. Hingga saat ini belum terdapat laporan WNI yang menghadapi ancaman langsung maupun situasi yang membahayakan keselamatan. Namun, demikian status Siaga 1 untuk Iran yang telah ditetapkan sejak Juni 2025 masih terus diberlakukan dan semua rencana kontingensi telah disiapsiagakan termasuk berbagai opsi jalur evakuasi apabila dibutuhkan."

Heni menuturkan bahwa jalur evakuasi dikoordinasikan oleh KBRI Teheran dengan pusat.

"Melihat situasi dan kondisi kalau misalnya jalur penerbangan masih ada, tentunya bisa langsung dengan jalur penerbangan. Tapi melihat kondisi seperti tahun lalu, biasanya melalui Azerbaijan," ungkap Heni.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6