Merangkai Makna di Balik Rute Pemakaman Ali Khamenei

Rangkaian prosesi pemakaman Ali Khamenei dirancang melintasi sejumlah kota yang memiliki kedudukan penting dalam sejarah dan tradisi Republik Islam Iran.

Diterbitkan 04 Juli 2026, 11:54 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Teheran - Prosesi pemakaman Ayatullah Ali Khamenei akan melewati sejumlah lokasi yang mencerminkan pilar-pilar agama, politik, dan ideologi Republik Islam Iran.

Perjalanan itu dimulai dari pusat pemerintahan di Teheran, kemudian berlanjut ke kota-kota suci Qom, Karbala, Najaf, dan berakhir di Mashhad. Masing-masing lokasi memiliki makna simbolis tersendiri. Berikut penjelasannya seperti dikutip dari Dawn:

Panggung politik dan keagamaan

Upacara penghormatan terakhir yang dibuka untuk umum di Grand Mosalla, Teheran, pada Sabtu (4/7/2026) akan digelar di salah satu lokasi seremonial terpenting di Republik Islam Iran. Kompleks tersebut dibangun untuk menampung salat Jumat berskala besar, peringatan kenegaraan, dan berbagai kegiatan keagamaan. Selama bertahun-tahun, Grand Mosalla menjadi simbol eratnya hubungan antara kehidupan beragama dan kekuasaan negara.

Arti penting Grand Mosalla tidak hanya terletak pada fungsi keagamaannya, tetapi juga peran politiknya. Tempat ini kerap menjadi lokasi pidato pejabat tinggi, upacara nasional, serta berbagai kegiatan yang melibatkan massa dalam jumlah besar untuk menunjukkan persatuan dan dukungan terhadap negara. Pemilihan Grand Mosalla sebagai lokasi penghormatan terakhir sekaligus menegaskan posisi Khamenei sebagai pemimpin agama sekaligus kepala sistem politik yang berlandaskan pemerintahan ulama.

Prosesi pemakaman yang melintasi jalan-jalan di Teheran menjadi penghormatan terakhir dari pusat politik Iran. Di kota inilah berdiri kantor kepresidenan, parlemen, lembaga peradilan, markas militer, serta sebagian besar institusi utama negara.

Sepanjang tahun, Teheran juga kerap menjadi lokasi penyelenggaraan berbagai aksi massa dan pawai yang dimanfaatkan untuk menunjukkan solidaritas nasional sekaligus kekuatan negara.

Karena itu, prosesi tersebut bukan hanya menjadi ungkapan duka masyarakat, tetapi juga simbol kesinambungan kepemimpinan negara di tengah masa transisi.

 

Pusat Pembelajaran Syiah

Qom menempati posisi yang sangat penting dalam kehidupan keagamaan Iran. Kota ini menjadi pusat seminari paling berpengaruh di negara tersebut, yang telah melahirkan beberapa generasi ulama dan memainkan peran besar dalam membentuk ideologi Republik Islam Iran.

Bagi Khamenei, yang otoritasnya juga bertumpu pada posisinya dalam struktur ulama syiah, prosesi pemakaman di Qom mencerminkan fondasi keagamaan yang menopang kepemimpinannya.

Prosesi itu juga memberi kesempatan kepada para ulama senior dan mahasiswa seminari untuk memberikan penghormatan kepada sosok yang memadukan kewenangan agama dan politik. Selain itu, Qom juga menjadi lokasi salah satu situs suci terpenting dalam syiah, yakni Mausoleum Fatimah Masumeh, saudari Imam Reza, imam kedelapan.

Simbol pengorbanan

Karbala di Irak merupakan salah satu kota paling suci dalam tradisi syiah. Di kota ini terdapat makam Imam Hussein, yang wafat pada Abad ke-7 dalam peristiwa yang hingga kini menjadi pusat sejarah dan tradisi syiah.

Prosesi pemakaman di Karbala menempatkan rangkaian penghormatan tersebut dalam konteks spiritual yang lebih luas.

Tema-tema seperti pengorbanan, keteguhan, dan perlawanan—yang selama ini melekat pada warisan Imam Hussein—kemungkinan akan menjadi inti berbagai upacara yang digelar di sana.

Pusat otoritas syiah

Najaf, yang juga berada di Irak, merupakan lokasi makam Hazrat Ali sekaligus salah satu pusat keilmuan syiah paling bergengsi di dunia. Banyak ulama terkemuka dalam tradisi syiah pernah belajar, mengajar, atau menetap di kota tersebut.

Penyelenggaraan upacara di Najaf menegaskan posisi Khamenei sebagai bagian dari komunitas syiah yang lebih luas, melampaui batas-batas Iran. Kota ini memiliki arti religius yang sangat besar, sehingga masuknya Najaf dalam rangkaian prosesi juga mencerminkan eratnya hubungan Republik Islam Iran dengan komunitas syiah internasional.

Tempat peristirahatan terakhir

Tahap terakhir prosesi pemakaman berlangsung di Mashhad, kota paling suci di Iran sekaligus lokasi Kompleks Makam Imam Reza yang setiap tahun dikunjungi jutaan peziarah.

Mashhad memiliki makna tersendiri bagi Khamenei. Ia lahir di kota itu, menghabiskan sebagian besar masa mudanya di sana, serta tetap menjalin hubungan erat dengan berbagai institusi keagamaan setempat. Karena itu, pemakaman di dekat Kompleks Makam Imam Reza menyatukan perjalanan hidup pribadinya dengan simbolisme keagamaan yang mendalam.

Sebagai tujuan ziarah terpenting di Iran, Mashhad menjadi tempat yang menghubungkan kenangan terhadap pemimpin yang telah wafat itu dengan salah satu situs paling dihormati dalam syiah.

Secara simbolis, perjalanan tersebut berakhir di tempat yang mempertemukan pengabdian keagamaan, identitas nasional, dan perjalanan hidup Khamenei.

Khamenei gugur pada 28 Februari dalam serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel yang menghantam kompleks kediamannya di Teheran. Prosesi pemakamannya semula dijadwalkan berlangsung pada Maret, namun ditunda karena perang yang masih berlangsung, sebelum akhirnya dijadwalkan kembali pada 4-9 Juli setelah kondisi dinilai memungkinkan untuk menggelar rangkaian upacara kenegaraan dan keagamaan.