6 Fadhilah Sholat Safar bagi Musafir dan Keluarga yang Ditinggalkan

Keutamaan shalat safar tidak hanya dirasakan oleh pelakunya, tetapi juga menjadi bekal terbaik bagi keluarga yang ditinggalkan.

Diterbitkan 04 Juli 2026, 13:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Sholat safar merupakan salah satu amalan sunnah yang memiliki keutamaan luar biasa bagi setiap muslim yang hendak melakukan perjalanan. Fadhilah sholat safar meliputi keberkahan bagi musafir dan keluarga yang ditinggalkan.

Shalat ini merupakan bentuk ikhtiar spiritual untuk memohon perlindungan, keselamatan, dan keberkahan dari Allah SWT selama di perjalanan. Amalan ini telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW dan menjadi bagian dari sunnah yang senantiasa beliau jaga.

Imam An-Nawawi dalam kitab Majmu' Syarhil Muhadzdzab menyatakan bahwa shalat safar disunnahkan bagi orang-orang yang hendak bepergian dan boleh dilakukan di waktu apa pun

Keutamaan shalat safar tidak hanya dirasakan oleh pelakunya, tetapi juga menjadi bekal terbaik bagi keluarga yang ditinggalkan. Dengan melaksanakan shalat safar, seorang muslim telah menitipkan keluarga dan dirinya kepada Allah SWT.

Hal ini disebutkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh ath-Thabrani: "Tidak ada sesuatu yang lebih utama untuk ditinggalkan seorang hamba bagi keluarganya, daripada dua rakaat yang dia kerjakan di tengah (tempat) mereka ketika hendak melakukan perjalanan.".

Merangkum berbagai sumber, berikut ini adalah 6 fadhilah sholat safar, bagi musafir dan keluarganya.

Fadhilah Sholat Safar

1. Penghalang dari Keburukan dan Marabahaya

Keutamaan utama shalat safar adalah menjadi benteng perlindungan dari berbagai keburukan yang mungkin menimpa selama perjalanan. Rasulullah SAW bersabda:

Artinya: "Jika engkau keluar dari rumahmu, maka lakukanlah shalat dua rakaat yang akan menghalangimu dari kejelekan yang berada di luar rumah. Dan jika engkau memasuki rumahmu, maka lakukanlah shalat dua rakaat yang akan menghalangimu dari kejelekan yang masuk ke dalam rumah." (HR al-Baihaqi)

Syekh Abdurrauf Al-Munawi dalam kitab Faidh al-Qadir Syarh al-Jami' as-Shagir (Beirut: Dar Al-Kutub Al-Ilmiah, vol 1, h 415) menjelaskan makna hadits tersebut. Menurut beliau, shalat safar berfungsi sebagai penghalang dari berbagai keburukan yang mungkin dapat menimpa seseorang di luar rumah, sekaligus sebagai penjaga agar keburukan tidak masuk ke dalam rumah.

Keutamaan ini menjadikan shalat safar sebagai salah satu ikhtiar terbaik bagi mereka yang akan melakukan perjalanan.

2. Bekal Terbaik bagi Keluarga yang Ditinggal

Shalat safar memiliki keutamaan sebagai bekal terbaik yang ditinggalkan bagi keluarga saat seseorang bepergian. Rasulullah SAW bersabda:

Artinya: "Tidak ada sesuatu yang lebih utama untuk ditinggalkan seorang hamba bagi keluarganya, daripada dua rakaat yang dia kerjakan di tengah (tempat) mereka ketika hendak melakukan perjalanan." (HR ath-Thabrani)

Hadits ini menunjukkan bahwa shalat safar bukan hanya bermanfaat bagi pelakunya, tetapi juga menjadi benteng perlindungan bagi keluarga yang ditinggalkan. Sebelum menitipkan keluarga kepada sebab-sebab duniawi, seorang muslim terlebih dahulu menitipkan mereka kepada Allah melalui shalat dan doa.

Inilah bentuk kepedulian seorang muslim terhadap keluarganya, bahkan saat dirinya harus meninggalkan mereka untuk sementara waktu.

3. Keselamatan dan Terhindar dari Bahaya

Shalat safar menjadi sarana untuk memohon keselamatan dari segala bahaya selama perjalanan. Keutamaan ini disebutkan dalam berbagai sumber fiqih dan hadits.

Shalat safar menjadi bentuk permohonan seorang hamba kepada Allah agar diberikan hidayah, pertolongan, dan keselamatan selama perjalanan. Shalat safar diyakini dapat menghalangi bahaya yang mungkin terjadi dalam perjalanan.

Shalat ini merupakan ungkapan doa dan penghambaan seorang hamba kepada Allah, agar diberikan petunjuk, pertolongan, kemudahan dalam segala urusan, serta perlindungan sepanjang perjalanan.

4. Meneladani Sunnah Rasulullah SAW

Shalat safar merupakan amalan yang senantiasa dilakukan oleh Rasulullah SAW. Beliau tidak pernah meninggalkan sebuah tempat kecuali dengan shalat dua rakaat. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits:

Artinya: "Sungguh, Nabi Muhammad SAW tidak tinggal di suatu tempat kecuali meninggalkan tempat tersebut dengan shalat dua rakaat." (HR Anas bin Malik)

Rasulullah menganjurkan pengerjaan shalat sunnah safar agar terhalang dari kejelekan yang ada di dalam maupun luar rumah. Dengan melaksanakan shalat safar, seorang muslim menunjukkan kecintaan dan kepatuhan kepada sunnah Nabi, sekaligus meraih keberkahan yang terkandung di dalamnya.

5. Permohonan Keberkahan dan Kelancaran

Shalat safar menjadi sarana untuk memohon keberkahan dan kelancaran dalam setiap urusan perjalanan. Keutamaan ini menjadikan shalat safar sebagai amalan yang sangat dianjurkan bagi setiap muslim yang akan melakukan perjalanan.

Shalat safar dilakukan sebagai wujud permohonan seorang hamba kepada Tuhan-Nya agar diberikan hidayah, pertolongan, dan keselamatan selama perjalanan. Amalan ini juga bertujuan memohon keberkahan dan kelancaran dalam setiap urusan perjalanan.

Dengan memulai perjalanan dengan ibadah, seorang muslim berharap seluruh rangkaian perjalanan, mulai dari keberangkatan hingga kepulangan, mendapat keberkahan dari Allah SWT.

6. Hati yang Tenang dan Niat yang Lurus

Shalat safar mengajarkan agar seorang muslim berangkat dengan hati yang bersih, niat yang lurus, serta kesadaran penuh bahwa perjalanan adalah bagian dari ujian dan ketundukan terhadap takdir Allah SWT.

Dua rakaat shalat safar menjadi penenang hati, pelindung diri, dan doa pengiring agar langkah yang diambil penuh keberkahan. Sebelum roda kendaraan berputar atau kaki melangkah meninggalkan rumah, luangkan waktu sejenak untuk melaksanakan shalat safar sebagai bentuk kesiapan spiritual.

Tata Cara Shalat Safar dan Waktu Terbaiknya

Untuk mendapatkan fadhilah terbaik, umat Islam perlu memahami tata cara sholat safar. Secara umum, shalat safar dikerjakan sebanyak dua rakaat dengan tata cara sebagai berikut:

1. Niat

أُصَلِّي سُنَّةَ السَّفَرِ رَكْعَتَيْنِ لِلّٰهِ تَعَالَى

Latin: Ushallî sunnatas safari rak'ataini lillâhi ta'âlâ

Artinya: "Saya niat shalat sunnah perjalanan dua rakaat karena Allah Ta'âlâ."

2. Pelaksanaan

• Rakaat pertama: Membaca Surat Al-Fatihah, lalu dianjurkan membaca Surat Al-Kafirun

• Rakaat kedua: Membaca Surat Al-Fatihah, lalu dianjurkan membaca Surat Al-Ikhlas

• Alternatif lain: Pada rakaat pertama membaca Surat Al-Falaq dan rakaat kedua membaca Surat An-Nas

3. Setelah Shalat

Setelah salam, dianjurkan membaca:

• Ayat Kursi (QS. Al-Baqarah: 255) untuk menambah keamanan

• Surat Quraisy

• Doa safar yang diriwayatkan oleh para ulama, dan sesuai dengan hajat perjalanan tersebut.

Waktu Terbaik Shalat Safar

Shalat safar tidak memiliki jam khusus dan dapat dilaksanakan kapan saja. Imam Nawawi dalam kitab Majmu' Syarhil Muhadzdzab menyatakan bahwa shalat safar hanya disunnahkan bagi orang-orang yang hendak bepergian dan boleh dilakukan di waktu apa pun—baik malam hari maupun siang hari.

Yang terpenting adalah shalat safar dikerjakan sebelum keberangkatan, yakni sebelum keluar dari rumah atau sebelum menaiki kendaraan. Waktu pelaksanaan dapat disesuaikan dengan rencana perjalanan masing-masing.

Pertanyaan Seputar Keutamaan Sholat Safar

1. Apa keutamaan shalat safar?

Keutamaan shalat safar antara lain: menjadi penghalang dari keburukan dan marabahaya (HR al-Baihaqi), menjadi bekal terbaik bagi keluarga yang ditinggal (HR ath-Thabrani), mendapatkan keselamatan dari segala bahaya selama perjalanan, mengikuti sunnah Rasulullah SAW, serta memohon keberkahan dan kelancaran dalam perjalanan.

2. Apa dalil keutamaan shalat safar?

Dalil keutamaan shalat safar di antaranya hadits riwayat al-Baihaqi: "Jika engkau keluar dari rumahmu, maka lakukanlah shalat dua rakaat yang akan menghalangimu dari kejelekan yang berada di luar rumah," serta hadits riwayat ath-Thabrani: "Tidak ada sesuatu yang lebih utama untuk ditinggalkan seorang hamba bagi keluarganya, daripada dua rakaat yang dia kerjakan di tengah (tempat) mereka ketika hendak melakukan perjalanan."

3. Apakah shalat safar wajib dilakukan?

Shalat safar hukumnya sunnah (dianjurkan), tidak wajib. Namun, karena Rasulullah SAW tidak pernah meninggalkannya ketika hendak bepergian, amalan ini sangat dianjurkan untuk diamalkan sebagai bentuk ikhtiar dan doa memohon perlindungan serta keselamatan selama perjalanan.

4. Kapan waktu terbaik melaksanakan shalat safar?

Shalat safar dapat dilaksanakan kapan saja, baik siang maupun malam hari, selama dilakukan sebelum keberangkatan—yakni sebelum keluar dari rumah atau sebelum menaiki kendaraan. Imam Nawawi dalam Majmu' Syarhil Muhadzdzab menyatakan bahwa shalat ini boleh dilakukan di waktu apa pun.

5. Apa yang dimaksud fadhilah shalat safar?

Fadhilah shalat safar adalah keutamaan-keutamaan yang terkandung dalam amalan shalat sunnah dua rakaat sebelum bepergian. Keutamaan ini mencakup perlindungan dari marabahaya, keberkahan perjalanan, keselamatan bagi pelaku dan keluarganya, serta pahala mengikuti sunnah Rasulullah SAW.