Sholat Safar Dulu atau Dhuha Dulu? Simak Penjelasan Ulama

Terkait pelaksaan sholat safar atau dhuha terlebih dahulu, maka umat Islam perlu memahami fiqih prioritas

Diterbitkan 03 Juli 2026, 17:03 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Pertanyaan sholat safar dulu atau dhuha dulu kerap mengemuka tatkala seseorang hendak melakukan perjalanan (safar). Sebab, kebanyakan orang memulai perjalanannya di pagi hari atau di awal hari.

Di sisi lain, pada momen pagi dalam pandangan Islam juga merupakan waktu keberkahan. Seorang muslim dianjurkan melakukan berbagai amal dan ibadah, yang salah satunya adalah sholat dhuha.

Sholat dhuha memiliki keutamaan luar biasa, sebagaimana sholat safar yang juga memiliki hikmah yang besar. Kedua sholat ini, baik safar maupun dhuha sangat dianjurkan dan hukumnya sunnah muakadah.

Terkait pelaksaan sholat safar atau dhuha terlebih dahulu, maka umat Islam perlu memahami fiqih prioritas. Merujuk Buku Tuntunan Shalat Dhuha, H Sayuti, Tuntunan Shalat Musafir Plus Panduan Ibadah Musafir Lainnya, Aulia Fadhli, ebook Panduan Musafir, Adab dan Hukum Safar, Divisi Terjemah Kantor Dakwah Sulay, dan literatur lainnya, berikut ini ulasannya. literatur fiqih klasik dan kontemporer, berikut ini ulasan lengkapnya.

Sholat Safar Dahulu atau Dhuha Dahulu?

Dalam literatur fiqih seperti Al-Majmu' Syarh al-Muhadzdzab karya Imam an-Nawawi, dijelaskan bahwa sholat sunnah safar memiliki keterkaitan erat dengan aktivitas keluar rumah. Anjuran utamanya adalah menjadikan sholat safar sebagai aktivitas atau perbuatan terakhir tepat sebelum kaki melangkah keluar pintu rumah.

Oleh karena itu, jika waktu keberangkatan jatuh pada waktu Dhuha, yakni ketika matahari telah naik setinggi tombak (sekitar pukul 08.00 atau 09.00) hingga menjelang tergelincirnya matahari, maka sholat Dhuha dikerjakan lebih dahulu, lalu ditutup dengan sholat Safar.

Namun, dalam kondisi waktu yang sangat mendesak, para ulama (khususnya dalam mazhab Syafi'i) membolehkan penggabungan niat (tasyrikun niyyah). Seseorang dapat melaksanakan sholat dua rakaat dengan meniatkan keduanya secara bersamaan, sehingga insya Allah tetap mendapatkan keutamaan dari masing-masing ibadah.

Kebiasaan Rasulullah dalam Safar

Waktu pagi adalah waktu yang penuh keberkahan. Dalam sebuah hadis riwayat Tirmidzi, Rasulullah SAW mendoakan secara khusus, "Ya Allah berkahilah umatku di pagi harinya".

Terkait keberangkatan safar, Rasulullah SAW sangat menyukai memulai perjalanan pada hari Kamis pagi. Sebuah hadis riwayat Bukhari menegaskan: "Sesungguhnya Nabi keluar pada hari Kamis saat perang Tabuk, dan beliau menyukai keluar (untuk safar) pada hari Kamis".

Sedangkan untuk kepulangan dari safar, Rasulullah SAW memiliki kebiasaan tiba di waktu Dhuha. Saat kembali ke kampung halaman, beliau tidak langsung masuk ke dalam rumah.

Berdasarkan Muttafaq 'Alaih (Bukhari dan Muslim), Rasulullah SAW masuk ke masjid terlebih dahulu jika beliau datang dari safar, lalu melaksanakan sholat dua rakaat di dalamnya.

Ini dikenal sebagai sholat sunnah qudum (kedatangan). Selain itu, Rasulullah juga melarang musafir untuk pulang secara mendadak kepada keluarganya pada malam hari tanpa pemberitahuan sebelumnya.

Niat dan Tata Cara Sholat Safar

Sholat sunnah safar dilakukan sebanyak dua rakaat. Niatnya adalah sebagai berikut:

Niat Sholat Safar:

اُصَلِّي سُنَّةَ السَّفَرِ رَكْعَتَيْنِ لِلَّهِ تَعَالَى

Ushalli sunnatas-safari rak'ataini lillahi ta'ala.

"Aku berniat shalat sunnah safar dua rakaat karena Allah Ta'ala."

Tata Cara Singkat: 1. Memastikan diri dalam keadaan suci dan menutup aurat. 2. Berdiri menghadap kiblat dan melafalkan niat. 3. Melakukan Takbiratul Ihram. 4. Pada rakaat pertama, dianjurkan membaca Surah Al-Kafirun setelah Al-Fatihah. 5. Pada rakaat kedua, dianjurkan membaca Surah Al-Ikhlas setelah Al-Fatihah. 6. Menyelesaikan sholat hingga salam. 7. Membaca doa keluar rumah dan doa kendaraan saat mulai berangkat.

Niat dan Tata Cara Sholat Dhuha

Sholat Dhuha dapat dikerjakan minimal dua rakaat. Niat dan tata caranya adalah sebagai berikut:

Niat Sholat Dhuha:

اصلي سُنَّةَ الضَّحَى رَكْعَتَيْنِ لِلَّهِ تَعَالَى

Ushalli sunnatadh dhuha rak'ataini lillaahi ta'aala.

"Aku berniat shalat dhuha dua rakaat karena Allah Ta'ala."

Tata Cara Singkat:

1. Menghadap kiblat dan melafalkan niat. 2. Mengucapkan takbir (Allahu Akbar) disertai dengan mengangkat kedua tangan (Takbiratul Ihram), lalu membaca doa Iftitah. 3. Membaca Surat Al-Fatihah. 4. Membaca surat atau ayat Al-Quran (biasanya disunnahkan Asy-Syams pada rakaat pertama dan Ad-Dhuha pada rakaat kedua). 5. Melakukan rukuk, iktidal, sujud, dan duduk di antara dua sujud secara tuma'ninah. 6. Membaca Tasyahud Akhir pada rakaat kedua lalu diakhiri dengan Salam.

Hikmah Melaksanakan Sholat Safar dan Dhuha

1. Sedekah bagi Persendian Tubuh: Mengerjakan dua rakaat sholat Dhuha sudah mencukupi kewajiban sedekah untuk 360 ruas tulang atau persendian di dalam tubuh manusia setiap paginya. 2. Mendatangkan Ampunan Dosa: Siapa pun yang secara berkesinambungan melaksanakan sholat Dhuha, niscaya dosanya akan diampuni oleh Allah meskipun sebanyak buih di lautan. 3. Mendapat Ghanimah (Keuntungan) Besar: Menunaikan sholat Dhuha diibaratkan seperti mendapatkan ghanimah perang yang banyak serta kembali dengan cepat dan selamat. 4. Dibangunkan Rumah di Surga: Bagi mereka yang rajin menjaga sholat Dhuha empat rakaat dan empat rakaat sebelumnya, Allah menjanjikan balasan berupa sebuah rumah di dalam surga. 5. Perlindungan dan Keselamatan Perjalanan: Menjadikan sholat safar sebagai aktivitas terakhir di rumah akan menanamkan rasa tawakkal, sehingga perjalanan diberkahi dan pelakunya dilindungi dari keburukan pemandangan atau kesulitan di jalan.

Pertanyaan Seputar Sholat Safar

Bolehkah menggabungkan niat sholat safar dan Dhuha?

Boleh. Menggabungkan dua niat ibadah sunnah yang memiliki sebab berbeda dalam satu pelaksanaan sholat (dikenal dengan tasyrikun niyyah) hukumnya sah dan tetap mendapatkan pahala dari keduanya, terutama jika waktu sangat mendesak.

Berapa rakaat maksimal sholat Dhuha sebelum bepergian?

Sholat Dhuha paling sedikit dikerjakan sebanyak dua rakaat dan paling banyak dua belas rakaat, dengan tiap-tiap dua rakaat satu salam.

Apakah sholat kedatangan (pulang safar) dikerjakan di rumah atau di masjid?

Berdasarkan kebiasaan Rasulullah SAW, sholat kedatangan disunnahkan untuk dikerjakan sebanyak dua rakaat di masjid sekitar rumah tepat setelah tiba, sebelum masuk ke dalam rumah kediaman. Kapan batas waktu dimulainya pelaksanaan sholat Dhuha?

Sholat Dhuha dikerjakan saat matahari telah naik setinggi tombak, yaitu kira-kira pukul 08.00 atau 09.00 pagi, dan batas akhirnya adalah sampai tergelincirnya matahari (masuknya waktu Zuhur).

Apakah musafir diwajibkan melakukan sholat rawatib seperti Dhuha?

Sholat sunnah yang mutlak atau yang memiliki sebab seperti sholat Dhuha, sholat Tahajjud, sholat sunnah wudhu, dan Tahiyyatul Masjid tetap disyariatkan untuk dilaksanakan baik saat menetap maupun ketika dalam perjalanan.