Sholat Safar Dilakukan Jam Berapa? Simak Waktu Terbaik Menurut Sunnah

Hukum sholat safar adalah sunnah muakadah atau sangat dianjurkan.

Diterbitkan 03 Juli 2026, 19:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Setiap muslim pasti akan mengalami momen melakukan perjalanan dan meninggalkan rumah untuk waktu tertentu. Di antara amalan yang dianjurkan sebelum keberangkatan adalah sholat safar. Tak aneh jika kemudian kerap muncul pertanyaan, sholat safar dilakukan jam berapa?

Sholat sunnah dua rakaat yang dikerjakan sebelum berangkat bepergian ini merupakan bentuk ikhtiar dan doa untuk memohon perlindungan serta keselamatan selama perjalanan. Amalan ini memiliki keutamaan yang besar, di antaranya sebagai permohonan perlindungan dari marabahaya dan sarana untuk mendapatkan keberkahan dalam setiap urusan perjalanan.

Hukum sholat safar adalah sunnah muakadah atau sangat dianjurkan, sebagaimana selalu diamalkan Nabi Muhammad SAW. Dasar kesunnahan ini termaktub dalam berbagai hadis sahih yang menjadi rujukan ulama mengenai pelaksanaan sholat safar hingga keutamaannya.

Merujuk berbagai sumber, berikut ini adalah waktu pelaksanaan sholat sunnah safar, batasan-batasan waktu yang perlu diperhatikan, serta tata cara dan doa yang dianjurkan, sebagaimana dicontohkan Nabi SAW. Dengan memahami ketentuan waktu yang tepat, umat Islam dapat mengamalkan ibadah ini dengan benar dan sesuai tuntunan syariat.

Waktu Pelaksanaan Sholat Sunnah Safar

Sholat sunnah safar termasuk ibadah yang sangat fleksibel dan tidak dibatasi waktu tertentu. Tidak ada jam khusus untuk melaksanakan sholat safar. Selama dikerjakan sebelum keberangkatan, yakni sebelum keluar dari rumah atau sebelum menaiki kendaraan, ibadah ini tetap bernilai sunnah.

Imam Nawawi dalam kitab Al-Majmu' Syarhil Muhadzdzab menjelaskan bahwa shalat safar hanya disunnahkan bagi orang-orang yang hendak bepergian dan boleh dilakukan di waktu apa pun, baik malam hari maupun siang hari.

Dengan demikian, sholat safar dapat dikerjakan pada pagi, siang, sore, atau malam hari, selama masih dalam rentang waktu sebelum meninggalkan rumah atau menaiki kendaraan untuk berangkat.

Kesunnahan sholat ini bersifat umum dan berlaku untuk setiap perjalanan yang bertujuan baik serta tidak mengarah pada maksiat, baik perjalanan dekat maupun jauh.

Waktu Terbaik Melaksanakan Sholat Safar

Meskipun sholat safar dapat dilakukan kapan saja sebelum berangkat, terdapat beberapa pertimbangan untuk mendapatkan waktu yang paling utama:

1. Sesegera mungkin sebelum berangkat

Waktu terbaik adalah saat seseorang telah benar-benar siap untuk berangkat, namun masih berada di rumah. Sholat safar sebaiknya dikerjakan menjelang keberangkatan sebagai bentuk pamitan spiritual kepada Allah SWT.

2. Saat hati dan pikiran tenang Melaksanakan sholat safar dalam kondisi khusyuk akan lebih berkualitas. Pilihlah waktu ketika tidak terburu-buru dan dapat memfokuskan diri pada ibadah.

3. Sesuai dengan jadwal perjalanan

Waktu pelaksanaan dapat disesuaikan dengan rencana keberangkatan. Jika berangkat pagi hari, sholat safar dapat dikerjakan setelah sholat Subuh (dengan catatan tidak pada waktu makruh) atau sebelum Subuh. Jika berangkat malam hari, dapat dikerjakan setelah sholat Isya atau sebelum tidur.

Batasan Waktu: Waktu yang Tidak Dianjurkan (Makruh)

Meskipun sholat safar dapat dilakukan kapan saja sebelum berangkat, perlu diperhatikan bahwa terdapat waktu-waktu yang secara umum makruh untuk melaksanakan sholat sunnah, termasuk sholat safar. Waktu-waktu tersebut adalah:

• Ketika terbitnya matahari hingga sekitar 15-20 menit setelahnya

• Ketika waktu istiwa' (matahari tepat di atas kepala) sampai dengan tergelincirnya matahari, selain pada hari Jumat

• Ketika matahari berwarna kekuning-kuningan sampai dengan tenggelam

• Setelah mengerjakan shalat Subuh sampai dengan terbitnya matahari

• Setelah mengerjakan shalat Ashar sampai dengan tenggelamnya matahari

Jika hendak bepergian pada waktu-waktu tersebut, solusinya adalah melaksanakan sholat safar sebelum waktu makruh tiba (misalnya sebelum Subuh atau sebelum Ashar) atau menundanya hingga waktu makruh berlalu (setelah matahari terbit atau setelah matahari tidak lagi kekuning-kuningan). Namun perlu diingat, sholat safar harus tetap dikerjakan sebelum berangkat.

Tata Cara Sholat Safar dan Doanya

Bacaan Niat Sholat Sunnah Safar

Seperti ibadah lainnya, sholat safar diawali dengan niat. Lafal niatnya adalah sebagai berikut:

Arab: أُصَلِّي سُنَّةَ السَّفَرِ رَكْعَتَيْنِ لِلّٰهِ تَعَالَى

Latin: Ushallî sunnatas safari rak'ataini lillâhi ta'âlâ

Artinya: "Saya niat shalat sunnah perjalanan dua rakaat karena Allah Ta'âlâ."

Niat ini menjadi fondasi bahwa perjalanan yang ditempuh bukan sekadar mobilitas fisik, melainkan bagian dari ibadah menuju ridha Ilahi.

Pelaksanaan Sholat Safar:

• Sholat safar dikerjakan sebanyak dua rakaat dengan gerakan dan bacaan seperti sholat sunnah pada umumnya. Berikut tata caranya:

• Takbiratul Ihram: Mengangkat kedua tangan seraya mengucapkan Allahu Akbar

• Membaca Doa Iftitah (sunnah)

• Rakaat Pertama:

• Membaca Surat Al-Fatihah

• Dianjurkan membaca Surat Al-Kafirun

• Rukuk dengan tuma'ninah

• I'tidal (bangkit dari rukuk) dengan tuma'ninah

• Sujud pertama dengan tuma'ninah

• Duduk di antara dua sujud dengan tuma'ninah

• Sujud kedua dengan tuma'ninah

• Rakaat Kedua:

• Membaca Surat Al-Fatihah

• Dianjurkan membaca Surat Al-Ikhlas

• Rukuk, i'tidal, sujud pertama, duduk di antara dua sujud, sujud kedua dengan tuma'ninah

• Tasyahhud Akhir (membaca tahiyat)

• Salam: Menoleh ke kanan dan ke kiri seraya mengucapkan Assalamu'alaikum warahmatullah

Doa Setelah Sholat Safar

Setelah sholat dua rakaat selesai, dianjurkan untuk membaca rangkaian doa dan zikir berikut:

1. Ayat Kursi (QS. Al-Baqarah: 255)

Dianjurkan membaca Ayat Kursi untuk menambah keamanan selama perjalanan.

Arab: اَللّٰهُ لَآ إِلٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ ۚ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ ۚ لَهُ مَا فِي السَّمٰوٰتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ ۚ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ ۖ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ ۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمٰوٰتِ وَالْأَرْضَ ۖ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا ۚ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ

Artinya: "Allah, tidak ada tuhan selain Dia, Yang Mahahidup lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya). Dia tidak dilanda oleh kantuk dan tidak (pula) oleh tidur. Milik-Nyalah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi..."

2. Surat Quraisy

Arab: لِإِيلَافِ قُرَيْشٍ ۙ إِيلَافِهِمْ رِحْلَةَ الشِّتَاءِ وَالصَّيْفِ ۚ فَلْيَعْبُدُوا رَبَّ هَٰذَا الْبَيْتِ ۙ الَّذِي أَطْعَمَهُمْ مِنْ جُوعٍ وَآمَنَهُمْ مِنْ خَوْفٍ

Artinya: "Karena kebiasaan orang-orang Quraisy, (yaitu) kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas. Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (Ka'bah). Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan." (QS. Quraisy: 1-4)

3. Doa Safar

Doa ini diriwayatkan oleh para ulama dan dianjurkan untuk dibaca setelah sholat safar:

Arab: اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ فِي سَفَرِنَا هَذَا الْبِرَّ وَالتَّقْوَى، وَمِنَ الْعَمَلِ مَا تَرْضَى، اَللَّهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا سَفَرَنَا هَذَا وَاطْوِ عَنَّا بُعْدَهُ، اَللَّهُمَّ أَنْتَ الصَّاحِبُ فِي السَّفَرِ، وَالْخَلِيفَةُ فِي الْأَهْلِ، اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ وَعْثَاءِ السَّفَرِ، وَكَآبَةِ الْمَنْظَرِ، وَسُوءِ الْمُنْقَلَبِ فِي الْمَالِ وَالْأَهْلِ

Latin: Allâhumma innâ nas-aluka fî safarinâ hâdzâ al-birra wat-taqwâ, wa minal 'amali mâ tardhâ. Allâhumma hawwin 'alainâ safaranâ hâdzâ wathwi 'annâ bu'dahu. Allâhumma antash shâhibu fis-safari, wal-khalîfatu fil-ahli. Allâhumma innî a'ûdzu bika min wa'tsâ-is-safari, wa ka-âbatil-manzhari, wa sû-il-munqalabi fil-mâli wal-ahli.

Artinya: "Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu dalam perjalanan ini kebaikan dan ketakwaan serta amal yang Engkau ridhai. Ya Allah, mudahkanlah perjalanan kami ini dan dekatkanlah baginya kejauhan. Ya Allah, Engkaulah teman dalam perjalanan dan pengganti (penjaga) bagi keluarga. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelelahan dalam perjalanan, pemandangan yang menyedihkan, dan buruknya perubahan pada harta dan keluarga."

Hikmah Sholat Safar

1. Penghalang dari Keburukan dan Marabahaya

Sholat safar merupakan benteng spiritual yang melindungi seorang musafir dari keburukan yang mungkin menimpanya selama perjalanan. Rasulullah SAW bersabda: "Apabila engkau akan keluar dari rumahmu, bershalatlah dua rakaat, insya Allah dua rakaat itu akan memelihara dirimu dari tempat keluarnya keburukan".

2. Wujud Tawakal dan Ketergantungan kepada Allah

Dengan melaksanakan sholat safar, seorang hamba menunjukkan ketergantungannya kepada Allah dalam setiap langkah. Ini mengajarkan bahwa keselamatan dan kelancaran perjalanan sepenuhnya berada di tangan Allah.

3. Permohonan Keberkahan dan Kelancaran

Sholat safar menjadi sarana untuk memohon keberkahan dalam setiap urusan perjalanan. Perjalanan yang diberkahi akan membawa manfaat tidak hanya bagi pelakunya, tetapi juga bagi orang-orang yang ditinggalkan di rumah.

4. Bekal Terbaik bagi Keluarga yang Ditinggal

Tidak ada bekal yang lebih baik untuk ditinggalkan bagi keluarga saat bepergian selain sholat sunnah dua rakaat yang dikerjakan di rumah. Ini menjadi benteng perlindungan bagi keluarga yang ditinggalkan.

5. Meneladani Sunnah Rasulullah SAW

Rasulullah SAW tidak pernah meninggalkan shalat dua rakaat ketika hendak meninggalkan suatu tempat. Dengan melaksanakannya, seorang muslim menunjukkan kecintaan dan kepatuhan kepada sunnah Nabi yang akan mendatangkan pahala yang besar.

Pertanyaan Seputar Sholat Safar

1. Sholat safar dilakukan jam berapa?

Sholat sunnah safar tidak memiliki jam khusus dan dapat dilakukan kapan saja, baik siang maupun malam hari, selama dikerjakan sebelum keberangkatan—yakni sebelum keluar rumah atau menaiki kendaraan.

2. Apakah sholat safar bisa dilakukan setelah sholat Subuh?

Secara umum, waktu setelah sholat Subuh hingga terbit matahari termasuk waktu yang makruh untuk sholat sunnah. Jika hendak bepergian setelah Subuh, sholat safar sebaiknya dilakukan pada malam sebelumnya atau ditunda hingga setelah matahari terbit (sekitar 15-20 menit setelah terbit).

3. Kapan waktu terbaik melaksanakan sholat safar?

Waktu terbaik adalah sesegera mungkin sebelum berangkat, saat hati dan pikiran tenang, serta tidak pada waktu-waktu yang makruh untuk sholat sunnah.

4. Apakah sholat safar bisa dilakukan di malam hari?

Bisa. Imam Nawawi menjelaskan bahwa sholat safar boleh dilakukan di waktu apa pun, baik malam hari maupun siang hari.

5. Bagaimana jika lupa melaksanakan sholat safar sebelum berangkat?

Jika lupa dan sudah berada di perjalanan, sholat safar tetap bisa dikerjakan di perjalanan asalkan masih dalam keadaan safar dan sebelum waktu-waktu yang dilarang untuk sholat. Namun yang lebih utama adalah melaksanakannya sebelum meninggalkan rumah.