Harga Minyak Dunia Stabil, Pasar Menanti Perdamaian AS-Iran

Harga minyak dunia bergerak tipis sepekan terakhir seiring harapan tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran.

Diterbitkan 04 Juli 2026, 08:40 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak dunia nyaris tidak berubah sepanjang pekan ini. Pelaku pasar masih berharap upaya perdamaian antara Amerika Serikat (AS) dan Iran membuahkan hasil sehingga dapat mengurangi risiko gangguan pasokan energi global.

Dikutip dari Yahoo Finance, Sabtu (4/7/2026), harga minyak Brent pada perdagangan Jumat hanya naik tipis 14 sen atau 0,19% menjadi US$ 71,94 per barel. Meski menguat pada akhir perdagangan, harga Brent secara mingguan hanya turun sekitar 5 sen dibandingkan penutupan pekan lalu.

Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 9 sen atau 0,13% menjadi US$ 68,78 per barel.

Pergerakan harga berlangsung relatif sepi karena pasar keuangan Amerika Serikat tutup menjelang libur Hari Kemerdekaan AS pada Sabtu (4/7/2026).

Sehari sebelumnya, kedua acuan harga minyak tersebut sempat menyentuh level terendah sejak sebelum pecahnya perang antara AS dan Israel melawan Iran pada akhir Februari.

Analis Commerzbank menilai optimisme investor terhadap pembukaan kembali secara penuh Selat Hormuz terus meningkat seiring berlanjutnya perundingan damai antara AS dan Iran.

Sementara itu, analis Citi menilai proses negosiasi kedua negara masih menghadapi tantangan.

"Proses negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran masih rapuh, tetapi hingga saat ini tetap berjalan. Persoalan mengenai tarif dan pengelolaan Selat Hormuz masih menjadi isu yang diperdebatkan," tulis analis Citi.

Menurut Citi, nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) yang telah disepakati masih berpeluang bertahan.

"Kami memperkirakan nota kesepahaman tersebut akan tetap berlaku, bukan karena kedua pihak tiba-tiba saling percaya, melainkan karena tidak ada insentif yang menguntungkan bagi keduanya untuk melanggarnya," lanjut analis Citi.

 

Selat Hormuz Mulai Normal

Sebagian aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz mulai kembali normal sesuai kesepakatan awal antara Amerika Serikat dan Iran. Namun, ketidakpastian masih tinggi setelah kedua negara saling melancarkan serangan pada akhir pekan lalu menyusul serangan Iran terhadap sebuah kapal kargo.

Di tengah prospek meningkatnya arus pengiriman minyak, negara-negara produsen di kawasan Teluk mulai menaikkan produksi. Berdasarkan survei Reuters, produksi minyak negara-negara anggota OPEC pada Juni meningkat sekitar 3,3 juta barel per hari dibandingkan bulan sebelumnya.

Produksi minyak Kuwait juga melonjak menjadi 1,65 juta barel per hari pada Juni, dari sebelumnya 580.000 barel per hari pada Mei.

Sementara itu, sedikitnya lima kapal tanker raksasa yang mengangkut total sekitar 10 juta barel minyak asal Arab Saudi telah meninggalkan Selat Hormuz. Di sisi lain, Saudi Aramco juga mulai mengandalkan penjualan di pasar spot dibandingkan kontrak jangka panjang guna mempercepat distribusi minyak ke pasar Asia.

 

Pemulihan Pasokan Lebih Cepat

Pendiri Commodity Context, Rory Johnston, menilai pemulihan pasokan minyak dari Timur Tengah berlangsung lebih cepat dibandingkan perkiraan awal.

"Secara keseluruhan, pemulihan pasokan dari Timur Tengah berlangsung lebih cepat daripada perkiraan awal kami, sementara permintaan impor dari China masih lemah," ujar Rory Johnston.

Bertambahnya pasokan minyak membuat struktur pasar berubah dari backwardation menjadi contango. Kondisi ini mencerminkan ekspektasi pasar bahwa risiko kekurangan pasokan mulai mereda.

Hal tersebut terlihat dari harga kontrak minyak Brent untuk pengiriman segera yang pada pekan ini diperdagangkan lebih rendah dibandingkan kontrak pengiriman hingga enam bulan mendatang. Kondisi tersebut menjadi sinyal bahwa peningkatan arus pengiriman minyak melalui Selat Hormuz telah menciptakan kelebihan pasokan dalam jangka pendek.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6