Bank Dunia Naikkan Status Vietnam dan Filipina Jadi Negara Menengah Atas

Bank Dunia juga menetapkan beberapa negara lain ke kategori berpendapatan menengah.

Diterbitkan 03 Juli 2026, 14:20 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Bank Dunia menaikkan status Vietnam dan Filipina menjadi negara berpendapatan menengah atas. Kedua negara tersebut dinilai mampu menunjukkan pertumbuhan melalui ekspansi ekonomi yang pesat. Status ini berpotensi meningkatkan kepercayaan investor terhadap kedua negara tersebut.

 

Lembaga ini menyebut model pertumbuhan ekonomi Vietnam yang didorong ekspor serta ekspansi ekonomi Filipina yang agresif, mencerminkan kemajuan di seluruh industri utama. Kondisi yang terjadi bukan ledakan pada satu sektor saja, melainkan pergeseran yang terjadi di seluruh perekonomian.

Data menunjukkan bahwa Vietnam telah dikategorikan sebagai negara berpendapatan menengah bawah sejak 2009. Sementara Filipina berada dalam kategori tersebut sejak akhir 1980-an.

Pendapatan nasional bruto (GNI) per kapita kedua negara tersebut masing-masing mencapai US$ 4.970 (S$ 6.435) dan US$ 4.850 pada tahun 2025. Angka yang melampaui ambang batas Bank Dunia sebesar US$ 4.636 untuk kategori tersebut.

"Meskipun menghadapi berbagai guncangan global dan domestik, kami terus berupaya mewujudkan pertumbuhan yang inklusif, memperkuat fundamental ekonomi, dan tetap berada di jalur agenda pembangunan kami," kata Menteri Perencanaan Ekonomi Filipina, Arsenio Balisacan melansir Straitimes, Jumat (3/7/2026).

Vietnam, salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di Asia, menargetkan pertumbuhan tahunan dua digit pada tahun 2026. Target tersebut didorong, antara lain, oleh serangkaian reformasi yang ramah terhadap dunia usaha serta program investasi infrastruktur berskala besar.

Namun, Filipina menghadapi tantangan yang lebih besar ke depan. Negara itu memangkas target pertumbuhan ekonominya untuk periode 2026 hingga 2030 akibat meningkatnya ketegangan di Timur Tengah serta peristiwa El Nino yang sangat kuat.

Dengan demikian tercatat, lima negara dengan ekonomi utama di Asia Tenggara yang mencakup Singapura, Malaysia, dan Thailand kini berada pada kategori berpendapatan menengah atas atau lebih tinggi.

Negara Lain

Negara lain yang juga naik ke kategori berpendapatan menengah atas adalah Yordania, Mikronesia, dan Sri Lanka. Sementara itu, Togo direklasifikasi dari negara berpendapatan rendah menjadi negara berpendapatan menengah bawah.

Bank Dunia menyatakan bahwa proporsi negara yang diklasifikasikan sebagai berpendapatan rendah telah menurun menjadi 11 persen, dari 30 persen pada tahun 1987.

Dengan kenaikan posisi ini, negara-negara yang masuk kategori berpendapatan menengah ke atas, memiliki peluang bisa mendapatkan akses yang lebih terbatas terhadap pendanaan pembangunan.

Filipina, misalnya, menerima pinjaman yang memiliki suku bunga di bawah pasar untuk membantu membiayai infrastruktur, pemulihan bencana, dan program sosial.

“Poin utamanya adalah, semakin naik dalam klasifikasi tersebut berarti Anda semakin mandiri dan mampu memenuhi kebutuhan serta sumber daya sendiri sebagai sebuah negara, termasuk dari sisi fiskal,” kata Kpala Ekonom Union Bank of the Philippines, Ruben Carlo Asuncion.

Meski begitu, Balisacan mengatakan, dengan kenaikan ini beberapa bantuan pembangunan resmi (Official Development Assistance) bersyarat lunak mungkin akan mengurangi memberikan bantuan ke negara-negara tersebut seiring waktu.

“Namun keuntungan dari fundamental yang lebih kuat dan akses pasar yang lebih baik diperkirakan akan lebih besar daripada penyesuaian tersebut,” tegas dia.

Dia menegaskan, klasifikasi baru ini tidak mengurangi tantangan yang masih dihadapi Filipina, karena kesenjangan pendapatan masih ada dan banyak orang masih mengalami kesulitan ekonomi.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6