Hari Damai Aceh Ricuh, Kapolri Pastikan Situasi Terkendali

Aparat kepolisian melakukan langkah-langkah untuk meredakan situasi di sejumlah wilayah Aceh.

Diterbitkan 17 Agustus 2026, 19:04 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo memastikan situasi setelah kericuhan dalam peringatan Hari Damai Aceh sudah terkendali. Menurutnya, aparat kepolisian telah melakukan langkah-langkah untuk meredakan situasi di sejumlah wilayah Aceh.

"Beberapa kegiatan yang tentunya muncul di beberapa waktu terakhir di beberapa wilayah, seluruh jajaran sudah melakukan langkah-langkah dan situasinya seluruhnya sudah terkendali," kata Listyo di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Senin (17/8/2026).

Sementara itu, Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Maruli Simanjuntak memastikan tidak ada penambahan personel TNI AD setelah kericuhan tersebut. Ia menyebut kondisi di Aceh saat ini sudah kondusif.

"Baik, iya. Enggak perlu. Katanya saya sudah tanya sampai tadi pagi saya cek, Pangdam tidak perlu," jelasnya.

Maruli menegaskan TNI AD tetap mendukung tugas kepolisian dalam menjaga keamanan di Aceh, termasuk dalam proses penegakan hukum terhadap pihak-pihak yang dinilai bersalah.

"Ya kami mendukung kepolisian untuk bisa menegakkan hukum gitu," ujar Maruli.

 

Kericuhan Hari Damai Aceh

Sebelumnya, kericuhan mewarnai peringatan Hari Damai Aceh di sekitar Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, Sabtu (15/8/2026). Direktur YLBHI-LBH Banda Aceh Aulianda Wafisa menyebut persoalan bendera Bulan Bintang menjadi pemicu bentrokan antara massa dan aparat gabungan.

Aulianda mengatakan mobilisasi warga dari sejumlah kabupaten/kota menuju Banda Aceh telah berlangsung sejak dua hingga tiga hari sebelum peringatan Hari Damai Aceh. Dalam perjalanan, sejumlah warga disebut sempat diperiksa aparat gabungan terkait dugaan membawa atribut bendera Bulan Bintang.

"Mobilisasi ke Banda Aceh itu sejak 2-3 hari yang lalu sudah jalan, kawan-kawan warga dari kabupaten/kota," kata Aulianda saat dihubungi, Sabtu (15/8/2026) malam.

"Di tengah jalan, mereka sudah di-razia oleh aparat gabungan TNI-Polri terkait dengan ditengarai ada atribut-atribut seperti bendera Bulan Bintang," sambungnya.

Aulianda menyebut pemeriksaan terhadap warga masih berlangsung hingga Jumat (14/8/2026) malam. Sebagian warga tidak dapat melanjutkan perjalanan ke Banda Aceh, sedangkan sebagian lainnya berhasil tiba di ibu kota provinsi tersebut.

Setibanya di Banda Aceh, massa berkumpul di halaman Masjid Raya Baiturrahman. Menurut Aulianda, kegiatan tersebut semula direncanakan berlangsung damai dengan agenda zikir, doa, dan refleksi 21 tahun perdamaian Aceh.

"Diniatkan memang awalnya itu untuk damai, zikir, doa, macam-macamlah. Kemudian juga kalau kita lihat itu, ada membicarakan tentang situasi Aceh saat inilah, refleksi tentang 21 tahun damai," ujarnya.

Namun, sebagian massa tetap membawa bendera Bulan Bintang. Aulianda mengatakan atribut tersebut tidak digunakan untuk menyuarakan kemerdekaan atau separatisme.

"Tapi Bulan Bintang ini yang kemudian ketika mau dikibarkan itu kan dihalau oleh aparat TNI. Ketika dihalau, dicoba dirampas, ya sudah pasti warga merespons perampasan atribut bendera ini," katanya.

 

Ketegangan Pecah

Ketegangan kemudian pecah. Menurut Aulianda, sempat terdengar letusan senjata ke udara, disusul pelemparan batu dan aksi saling kejar antara massa dan aparat gabungan.

"Ketika massa sudah merespons, ya sudah pastilah kemudian timbul chaos. Sempat meletus senjata ke atas, terjadi pelemparan batu, saling kejar, dan lain sebagainya," ujarnya.

Aulianda menyebut kericuhan tidak hanya terjadi di halaman Masjid Raya Baiturrahman. Ketegangan juga berlangsung di sejumlah titik yang berdekatan dengan kompleks masjid.

"Di seputaran Masjid Baiturrahman itu kan ada Pendopo Gubernur. Jadi dekat memang itu semacam satu hamparan gitulah. Jadi pengibaran bendera Bulan Bintang juga terjadi di berbagai titik," jelasnya.

Menurut dia, personel TNI dan Polri sempat diusir massa dari sekitar masjid ketika situasi memanas.

"Beberapa personel TNI itu sempat diusir oleh warga keluar dari masjid. Polisi juga diusir. 'Ini hajatan kami, kalian ngapain di sini?' gitu," kata Aulianda.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6