Ricuh Hari Damai Aceh, Anggota TNI-Polri Sempat Dikejar dan Diusir Massa

Menurut Aulianda, sempat terdengar letusan senjata ke udara, disusul pelemparan batu dan aksi saling kejar antara massa dan aparat.

Diterbitkan 15 Agustus 2026, 20:13 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kericuhan mewarnai peringatan Hari Damai Aceh di sekitar Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, Sabtu (15/8/2026). Direktur YLBHI-LBH Banda Aceh Aulianda Wafisa menyebut persoalan bendera Bulan Bintang menjadi pemicu bentrokan antara massa dan aparat gabungan.

Aulianda mengatakan mobilisasi warga dari sejumlah kabupaten/kota menuju Banda Aceh telah berlangsung sejak dua hingga tiga hari sebelum peringatan Hari Damai Aceh.

Menurut dia, sejumlah warga yang menuju Banda Aceh sempat diperiksa aparat gabungan di perjalanan. Pemeriksaan tersebut berkaitan dengan dugaan membawa atribut bendera Bulan Bintang.

“Mobilisasi ke Banda Aceh itu sejak 2-3 hari yang lalu sudah jalan, kawan-kawan warga dari kabupaten/kota,” kata Aulianda saat dihubungi, Sabtu (15/8/2026) malam.

“Di tengah jalan, mereka sudah di-razia oleh aparat gabungan TNI-Polri terkait dengan ditengarai ada atribut-atribut seperti bendera Bulan Bintang,” sambungnya.

Aulianda menyebut pemeriksaan terhadap warga masih berlangsung hingga Jumat (14/8/2026) malam. Sebagian warga tidak dapat melanjutkan perjalanan ke Banda Aceh, sementara sebagian lainnya berhasil tiba di ibu kota provinsi tersebut.

Setibanya di Banda Aceh, massa berkumpul di halaman Masjid Raya Baiturrahman. Menurut Aulianda, kegiatan tersebut awalnya direncanakan berlangsung damai dengan agenda zikir, doa, dan refleksi 21 tahun perdamaian Aceh.

“Diniatkan memang awalnya itu untuk damai, zikir, doa, macam-macamlah. Kemudian juga kalau kita lihat itu, ada membicarakan tentang situasi Aceh saat inilah, refleksi tentang 21 tahun damai,” ujarnya.

Namun, sebagian massa tetap membawa bendera Bulan Bintang. Aulianda mengatakan atribut tersebut tidak digunakan untuk menyuarakan kemerdekaan atau separatisme.

“Tapi Bulan Bintang ini yang kemudian ketika mau dikibarkan itu kan dihalau oleh aparat TNI. Ketika dihalau, dicoba dirampas, ya sudah pasti warga merespons perampasan atribut bendera ini,” katanya.

Ketegangan kemudian pecah. Menurut Aulianda, sempat terdengar letusan senjata ke udara, disusul pelemparan batu dan aksi saling kejar antara massa dan aparat gabungan.

“Ketika massa sudah merespons, ya sudah pastilah kemudian timbul chaos. Sempat meletus senjata ke atas, terjadi pelemparan batu, saling kejar, dan lain sebagainya,” ujarnya.

Aulianda menyebut kericuhan tidak hanya terjadi di halaman Masjid Raya Baiturrahman. Ketegangan juga berlangsung di sejumlah titik yang berdekatan dengan kompleks masjid.

“Di seputaran Masjid Baiturrahman itu kan ada Pendopo Gubernur. Jadi dekat memang itu semacam satu hamparan gitulah. Jadi pengibaran bendera Bulan Bintang juga terjadi di berbagai titik,” jelasnya.

Menurut dia, personel TNI dan Polri sempat diusir massa dari sekitar masjid ketika situasi memanas.

“Beberapa personel TNI itu sempat diusir oleh warga keluar dari masjid. Polisi juga diusir. ‘Ini hajatan kami, kalian ngapain di sini?’ gitu,” kata Aulianda.

Ia menyebut ketegangan berlangsung hingga sore hari dan terjadi di sejumlah titik.

“Dari pagi sudah mulai,” ujarnya.

 

Simpang Siur Korban Luka

Terkait jumlah korban luka, Aulianda mengatakan informasi yang diterimanya masih simpang siur. Koalisi masyarakat sipil belum dapat memastikan jumlah korban karena informasi yang beredar sebagian besar berasal dari foto dan video di lapangan.

“Informasi simpang siur ya. Ada yang luka, kemudian sembuh, tapi agak sulit nih kita konfirmasi,” katanya.

Aulianda mengatakan pihaknya masih berupaya memastikan informasi mengenai korban melalui jaringan jurnalis yang berada di lokasi.

“Dari teman-teman jurnalis yang masih meliput di lapangan juga masih simpang siur. Kita cuma dapat informasi berupa foto-foto, video, kan itu agak sulit diverifikasi,” pungkasnya.

TNI Buka Suara

Mabes TNI menyayangkan kericuhan yang terjadi saat peringatan Hari Damai Aceh di halaman Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, Sabtu (15/8/2026).

Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI, Mayjen TNI Muhammad Nas mengimbau seluruh pihak menghormati simbol negara dan menjaga ketertiban agar suasana damai di Aceh tetap terpelihara.

“Sangat kita sayangkan kejadian ini. TNI mengimbau mari kita hormati simbol negara dan kepada seluruh pihak agar sama-sama menjaga ketertiban serta tidak melakukan tindakan yang dapat memicu konflik dan mengganggu suasana damai,” kata Nas saat dikonfirmasi.

Nas mengatakan TNI terus berkoordinasi dengan aparat keamanan dan pemerintah daerah untuk menjaga situasi di Aceh tetap kondusif.

“TNI senantiasa berkoordinasi dengan aparat keamanan dan pemerintah daerah dalam rangka menjaga stabilitas serta kondusivitas wilayah,” ujarnya

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6