Olah Limbah Jadi Energi, Buka Peluang Lapangan Kerja Hijau

10 juta ton biomassa berpotensi kurangi emisi 12 juta ton dan ciptakan lapangan kerja hijau.

Diterbitkan 28 September 2026, 20:37 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Pengembangan bioenergi tidak hanya menjadi bagian dari transisi energi, tetapi juga membuka peluang ekonomi dan lapangan kerja hijau. PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) memperkirakan pemanfaatan sekitar 10 juta ton biomassa berpotensi menciptakan sekitar 150 ribu lapangan kerja (green jobs).

Untuk diketahui, lapangan kerja hijau adalah jenis pekerjaan yang berkontribusi secara langsung untuk melestarikan, memulihkan lingkungan, serta mendukung pembangunan ekonomi yang berkelanjutan dan rendah karbon

Direktur Biomassa PLN EPI Hokkop Situngkir, penciptaan lapangan kerja tersebut tersebar di sepanjang rantai pasok bioenergi, mulai dari penyediaan dan pengumpulan bahan baku, pengolahan, transportasi, hingga pemanfaatannya sebagai bahan bakar pembangkit.

“Green job yang tercipta dari 10 juta ton saja itu bisa mencapai sekitar 150 ribu lapangan kerja hijau baru,” kata Hokkop, dilansir Antara, Senin (28/9/2026).

Menurut Hokkop, pengembangan ekosistem bioenergi memberikan kesempatan bagi masyarakat di berbagai daerah untuk terlibat langsung dalam rantai pasok energi. Peluang tersebut mencakup petani, koperasi, BUMDes, pelaku usaha, agregator, hingga penyedia jasa logistik.

Selain menciptakan lapangan kerja, pemanfaatan 10 juta ton biomassa diproyeksikan berkontribusi terhadap pengurangan emisi sekitar 12 juta ton CO₂e.

Hokkop menjelaskan Indonesia memiliki sumber daya biomassa yang besar dan beragam, mulai dari kayu, residu pertanian, sekam padi, hingga berbagai sumber hayati lainnya.

Berdasarkan pemetaan PLN EPI, pemanfaatan biomassa saat ini mencapai sekitar 30,7 juta ton, sementara potensi biomassa yang belum termanfaatkan diperkirakan sekitar 60,6 juta ton.

Meski demikian, potensi biomassa yang belum termanfaatkan tersebut masih bersifat indikatif dan perlu mempertimbangkan aspek teknis, keekonomian, aksesibilitas bahan baku, serta kesiapan rantai pasok dari hulu hingga hilir.E

Ekosistem tersebut pun terus diperkuat, sepanjang periode 2023-2026, perusahaan telah merealisasikan penyediaan biomassa sebesar 4,77 juta ton.

Saat ini, pasokan untuk kebutuhan cofiring masih didominasi biomassa berbasis kayu dengan porsi lebih dari 77 persen.

Pengembangan bioenergi juga diperluas melalui berbagai produk, antara lain biomassa, biochar, syngas, biohidrogen, compressed biogas (CBG), biofuel, dan bioetanol.

Pemanfaatannya diarahkan untuk mendukung cofiring, menggantikan penggunaan bahan bakar pada pembangkit diesel, memenuhi kebutuhan industri, hingga pengembangan bahan bakar berkelanjutan.

 

Peluang Ekonomi Hijau bagi Generasi Muda

Peluang penciptaan lapangan kerja hijau juga sejalan dengan ekspansi energi terbarukan dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034.

Dalam skenario ARED, PLN merencanakan tambahan kapasitas energi terbarukan sebesar 12,22 gigawatt (GW) pada periode 2025-2029, atau sekitar 44 persen dari total tambahan kapasitas pembangkit sebesar 27,9 GW.

Tambahan kapasitas tersebut terdiri atas Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) sebesar 5,91 GW, Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) 3,20 GW, Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) 1,55 GW, panas bumi 0,95 GW, serta bioenergi 0,61 GW.

Salah satu pengembangan bioenergi yang terus didorong PLN EPI adalah implementasi pemanfaatan biomassa sebagai bahan bakar untuk mengurangi konsumsi batu bara (cofiring) pada Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU)

Terdapat 52 lokasi pembangkit batu bara dengan total kapasitas terpasang sekitar 18.154 megawatt (MW) yang memiliki potensi implementasi cofiring, dengan kebutuhan biomassa diperkirakan mencapai sekitar 9 juta ton per tahun.

Program tersebut juga menjadi bagian dari target Enhanced Nationally Determined Contribution (ENDC) 2030 sektor energi, dengan pemanfaatan biomassa melalui cofiring sebagai salah satu upaya mendukung pengurangan emisi gas rumah kaca.

Hokkop menilai besarnya peluang tersebut perlu dimanfaatkan generasi muda, bukan hanya dengan masuk sebagai tenaga kerja, tetapi juga dengan membangun usaha dan menjadi bagian dari rantai industri energi terbarukan.

“Teman-teman bisa menjadi tenaga kerja, pemainnya, agregatornya, dan lain-lain,” kata Hokkop.

Hokkop menegaskan transisi energi tidak hanya menghadirkan perubahan pada sumber energi, tetapi juga menciptakan ruang ekonomi dan profesi baru.

Karena itu, generasi muda memiliki peluang untuk mengambil peran sejak dari hulu hingga hilir, baik sebagai tenaga profesional, inovator, pelaku usaha, maupun agregator dalam ekosistem energi bersih.

“Transisi energi bukan hanya tentang mengganti sumber energi dan menurunkan emisi. Di dalamnya ada peluang ekonomi, lapangan kerja baru, dan ruang bagi generasi muda untuk menjadi pelaku utama masa depan energi Indonesia,” tutup Hokkop.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6