Liputan6.com, Jakarta - Artificial Intelligence (AI) menekan lapangan kerja, terutama bagi lulusan baru atau fresh graduate yang mulai memasuki dunia profesional. Dana Moneter Internasional (IMF) memperingatkan bahwa perkembangan AI berpotensi mengubah kebutuhan tenaga kerja secara luas, sehingga pemerintah perlu menyiapkan langkah untuk melindungi pekerja muda.Â
"Orang-orang yang pertama-tama perlu dikhawatirkan adalah kaum muda yang memasuki pasar tenaga kerja," ucap Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva, dikutip dari CNBC, Rabu (14/10/2026).
Dia menggambarkan dampak AI terhadap pasar kerja sebagai 'tsunami' yang bergerak perlahan. Di mana, lulusan baru biasanya memulai karier melalui pekerjaan rutin dan berulang sebelum berkembang ke posisi yang lebih tinggi.
Advertisement
Namun, ketika pekerjaan awal itu mulai berkurang akibat otomatisasi, kesempatan anak muda untuk membangun pengalaman profesional ikut terancam.
Presiden Singapura Tharman Shanmugaratnam, yang turut memimpin Dewan Pekerjaan Bank Dunia, meminta pemerintah menjadikan kebijakan ketenagakerjaan yang pernah diterapkan selama pandemi Covid-19 dan krisis keuangan sebagai strategi jangka panjang.
Ia menilai pemerintah perlu bekerja sama dengan sektor swasta serta memberikan insentif kepada perusahaan agar merekrut lulusan baru. Pasalnya, permintaan terhadap pekerja untuk mengisi posisi awal setelah kelulusan semakin berkurang.
Presiden Bank Dunia Ajay Banga memperkirakan sebanyak 1,2 miliar anak muda akan mencapai usia 18 tahun dalam 15 tahun mendatang. Sektor swasta, yang menyumbang sekitar 75–85% lapangan kerja di berbagai negara, diperkirakan harus menampung sebagian besarnya.
Sementara, IMF memperkirakan sekitar 40% pekerjaan di seluruh dunia akan mengalami perubahan, penurunan kebutuhan tenaga kerja, atau penghapusan akibat AI. Paparan dampaknya diperkirakan mencapai 60% di negara maju dan 23% di negara berpendapatan rendah.
Â
AI Berpotensi Dorong Pertumbuhan Ekonomi
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5399808/original/048930800_1762008770-AI.jpg)
Dampak ini terlihat di sektor teknologi Amerika Serikat. Shanmugaratnam menyebut permintaan terhadap lulusan perguruan tinggi mengalami penurunan, sementara keunggulan upah yang biasanya dimiliki pemegang gelar sarjana juga menyusut.
Namun, tak dapat dipungkiri, AI juga menjadi salah satu pendorong pertumbuhan ekonomi global tahun ini. Investasi dan perdagangan terkait teknologi ini membantu menopang aktivitas ekonomi di sejumlah negara, dengan pertumbuhan global diperkirakan tetap mendekati 3% meski menghadapi guncangan pasokan energi.
Georgieva memperkirakan penerapan AI bisa meningkatkan pertumbuhan ekonomi sebesar 0,5–1 poin persentase di negara maju Asia dan 0,2–0,8 poin persentase di negara berkembang Asia. Dalam skenario tertinggi, peningkatan ini berpotensi mengimbangi dampak penuaan penduduk terhadap perekonomian.
Banga juga menilai AI berpeluang menciptakan pekerjaan dan meningkatkan produktivitas, terutama di negara berpendapatan menengah dan menengah bawah. Namun, Shanmugaratnam mengingatkan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak otomatis menghasilkan lebih banyak lapangan kerja.
Ia mencontohkan China, India, dan negara berkembang di Asia Tenggara yang masih mencatat pertumbuhan ekonomi cukup baik, tetapi penciptaan pekerjaannya relatif lemah. Menurut dia, AI berisiko memperlebar kesenjangan itu jika pemerintah dan pelaku usaha bersikap pasif.
Karena perubahan pekerjaan akibat AI diperkirakan berlangsung secara bertahap, pekerja masih memiliki waktu untuk beradaptasi. Upaya itu perlu didukung perusahaan melalui pelatihan di tempat kerja serta universitas melalui pendidikan yang lebih praktis dan sesuai kebutuhan industri.
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4588612/original/076171200_1695698562-20230926-Bansos-Beras-Arbas-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9373717/original/089421500_1791973478-Cek_fakta_Bank_Mandiri_--.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5191453/original/000691000_1744960231-RaziaNTB1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5541033/original/082609300_1774846921-jusuf_kalla_-_iran_klaim_kunjungan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2778923/original/042611700_1555309754-kecerdasan.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9372965/original/088403400_1791939609-WhatsApp_Image_2026-10-13_at_2.07.21_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355267/original/005978200_1790095519-Menagg.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9371001/original/004173100_1791721798-WhatsApp_Image_2026-10-11_at_6.54.17_AM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5582945/original/056926200_1778132999-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4192232/original/046280400_1665758549-IMG_20221014_193652.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4953473/original/059895800_1727324477-Screenshot__199_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3439060/original/027890100_1619331962-WhatsApp_Image_2021-04-25_at_08.18.15.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5501317/original/009183900_1770893383-Foto_Ilustrasi__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9364651/original/002458200_1791013905-A6_00020.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363979/original/062618200_1790927438-WhatsApp_Image_2026-10-02_at_14.34.23.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9357258/original/082951000_1790238985-IMF.webp)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2922918/original/005670200_1569486698-kristalina.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/663000/original/IMF-logo.jpg)