PLTS 100 GW Diprediksi Ciptakan 5,52 Juta Lapangan Kerja

Program PLTS 100 GWp diperkirakan membutuhkan investasi sekitar US$ 73 miliar atau Rp 1.140 triliun.

Diterbitkan 25 Agustus 2026, 20:31 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (Menteri ESDM) Bahlil Lahadalia menyebut pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) 100 GWp berpotensi menciptakan sekitar 5,52 juta lapangan kerja di Indonesia.

"Bisa menciptakan lapangan pekerjaan kurang lebih sekitar 5,52 juta lapangan kerja,” kata Bahlil saat peluncuran dan groundbreaking program PLTS 100 GWp di Bali, Selasa (25/8/2026).

Bahlil mengatakan program PLTS 100 GWp membutuhkan investasi sekitar US$ 73 miliar atau lebih dari Rp 1.140 triliun. Pemerintah akan menjalankan pembangunan tersebut secara masif dalam tiga tahun untuk mempercepat pengembangan energi surya nasional.

Pemerintah pada tahap awal melakukan groundbreaking PLTS berkapasitas 5,3 GWp. Pemerintah juga menyiapkan PLTS berkapasitas 1.000 MWp beserta baterai penyimpanan energi di Bali.

Bahlil mengatakan pengembangan PLTS akan memberikan manfaat ekonomi apabila rantai pasok pembangkit melibatkan tenaga kerja dan industri dalam negeri. Pemerintah juga mendorong penggunaan panel surya dan baterai yang dapat meningkatkan nilai tambah domestik.

“Kalau panel suryanya dibuat oleh jerih payah rakyat Indonesia, dan baterai listriknya dihasilkan dari keringat tenaga kerja Indonesia, maka energi surya ini adalah energi Indonesia,” ujar Bahlil.

Program PLTS 100 GWp juga diproyeksikan menurunkan emisi hingga 140 juta ton CO2 per tahun. Pemerintah memperkirakan pengurangan emisi tersebut memiliki nilai ekonomi karbon sekitar Rp 6,31 triliun.

Bahlil menegaskan pemerintah akan memperluas pembangunan PLTS hingga wilayah yang belum memperoleh akses listrik. Pemerintah akan mengintegrasikan program tersebut dengan agenda listrik masuk desa untuk memperluas manfaat pembangunan energi surya.

Pemerintah Buka Lelang PLTS 30 GW Tahap Awal

Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahdalia, mengatakan proyek pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt (GW) akan dimulai tahun ini. Lelang tahap awal sebesar 30 GW akan dilakukan pada 2026.

Bahlil menjelaskan, pembangunan PLTS menjadi upaya pemerintah untuk mengalihkan ketergantungan pada bahan bakar fosil. Ia telah membahas bersama Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, bahwa tahap awal proyek PLTS dengan kapasitas 30 GW akan dimulai dalam waktu dekat.

"Tahun ini kita sudah mulai. Di tahun 2026 kita akan mulai masuk tahap pertama dengan pembangunan 30 GW. Ini dengan Pak Darmo—mana tadi? Pak Dirut PLN ya—kita sudah bahas, tendernya kita akan mulai lakukan sekarang," jelas Bahlil dalam Indonesia International Geothermal Convention & Exhibition (IIGCE) 2026 di JICC Senayan, Jakarta, dikutip Kamis (20/8/2026).

Pengembangan energi baru terbarukan (EBT) menjadi salah satu perhatian utama pemerintah. Hal tersebut juga tertuang dalam Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2025–2035 dengan porsi bauran energi sebesar 70–75 persen.

"Sekaligus dengan energi baru terbarukan. Mulai dari gas, solar panel, geothermal, hingga air, semuanya," ungkapnya.

Salah satu yang diungkapkan oleh Presiden Prabowo Subianto yakni mengenai rencana pengembangan PLTS 100 GW dalam beberapa tahun ke depan. "Kita akan mendorong untuk membangun PLTS, Pembangkit Listrik Tenaga Surya, sebesar 100 GW dalam kurun waktu beberapa tahun ke depan," ungkap Presiden.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6