JXB 2026, Pesona Parfum Lokal yang Tak Andalkan Aroma Dupe

Diracik parfumer berlisensi, brand parfum lokal, Blackstag, mengandalkan bahan-bahan lokal untuk produknya.

Diterbitkan 04 Juli 2026, 09:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kehadiran berbagai merek parfum lokal menjadi salah satu daya tarik di Jakarta X Beauty (JXB) 2026. Di tengah derasnya tren parfum dengan aroma yang terinspirasi dari merek internasional alias dupe, sejumlah pelaku industri justru memilih menghadirkan identitas wewangian yang benar-benar orisinal.

Langkah tersebut menunjukkan perkembangan industri parfum dalam negeri yang semakin berani membangun karakter sendiri sekaligus menjawab kebutuhan konsumen yang mencari aroma berbeda. Meningkatnya minat masyarakat terhadap parfum lokal juga mendorong produsen berinvestasi pada proses pengembangan aroma yang lebih serius.

Mereka tidak hanya berfokus pada kemasan atau strategi pemasaran, tapi juga memperhatikan kualitas komposisi wewangian sejak tahap peracikan. Owner Blackstag, Adhin Abdul Hakim, mengatakan sejak awal merek parfumnya dibangun dengan prinsip tidak meniru aroma parfum lain.

Menurutnya, setiap varian dikembangkan dari racikan baru bersama perfumer profesional berlisensi internasional. "Blackstag adalah brand lokal yang authentic, bukan inspired dari brand parfum mana pun. Kami menjaga keaslian DNA parfum di tengah maraknya parfum-parfum Timur Tengah yang masuk ke Indonesia," katanya di Jakarta, Kamis, 2 Juli 2026.

Komitmen tersebut berangkat dari keyakinan bahwa parfum lokal mampu bersaing melalui kreativitas, bukan sekadar mengikuti tren pasar. Penggunaan jasa fragrance house dan perfumer profesional menjadi bagian penting untuk menghasilkan aroma yang memiliki karakter kuat sekaligus tetap relevan dengan preferensi masyarakat Indonesia.

Dengan cara itu, setiap produk diharapkan mempunyai identitas yang mudah dikenali tanpa harus mengandalkan kemiripan dengan parfum populer. Inspirasi aroma juga lahir dari kekayaan alam Indonesia yang selama ini dikenal sebagai salah satu pemasok bahan baku parfum dunia.

 

Bahan Baku Lokal

Adhin mengaku sering menemukan berbagai tanaman aromatik ketika bekerja menjelajahi sejumlah daerah di Indonesia. Pengalaman tersebut membuka pandangannya mengenai besarnya potensi komoditas lokal untuk diolah menjadi parfum berkualitas.

Ia mencontohkan nilam dari Aceh hingga Sulawesi Tengah, serta gaharu yang banyak ditemukan di berbagai wilayah Indonesia merupakan bahan yang memiliki kualitas tinggi di pasar global. "Saya sering datang ke kebun-kebun patchouli di Indonesia," katanya.

Pengembangan parfum tidak berhenti pada pencarian bahan baku. Setiap varian melewati proses seleksi yang cukup panjang sebelum dipasarkan.

Tim harus memilih satu aroma dari puluhan sampel yang disiapkan perfumer, kemudian mengujinya pada banyak orang untuk mengetahui ketahanan, perubahan aroma, dan kecocokan dengan aktivitas sehari-hari.

 

Waktu Berbulan-bulan

Proses tersebut bahkan membutuhkan waktu berbulan-bulan karena parfum harus melalui tahap pematangan aroma. Setelah itu, produk kembali diuji pada sejumlah orang dengan karakter kulit yang berbeda agar hasil akhirnya sesuai dengan standar yang diinginkan.

Selain mengembangkan aroma, Blackstag juga menghadirkan konsep desain kemasan yang berbeda pada setiap varian. Strategi ini dipilih agar masing-masing parfum memiliki identitas visual sendiri dan tidak hanya dibedakan melalui warna label. 

Menurut Adhin, pilihan desain itu sempat membuat sebagian orang mengira produknya berasal dari Timur Tengah. Namun, ia justru melihat anggapan tersebut sebagai peluang untuk memperkenalkan bahwa produk tersebut merupakan hasil karya anak bangsa yang diproduksi di Bandung.

Parfum Paling Laris

Saat ini, Blackstack memiliki enam varian parfum yang dipasarkan dengan karakter aroma berbeda. Berdasarkan penjualan, tiga varian terlaris adalah Maison Al Oud, Nightfall, dan Bright. Selain itu, Rain Noir juga kembali dihadirkan setelah sebelumnya sempat habis dan banyak diminta kembali oleh konsumen.

Maison Al Oud, Adhin menjelaskan, menawarkan perpaduan oud yang disesuaikan dengan selera masyarakat Indonesia, dengan saffron, vanila, dan madu. Nightfall menghadirkan aroma segar dengan sentuhan citrus dan jasmine tea, sedangkan Bright mengusung karakter gourmand melalui kombinasi vanila, karamel, susu, dan sedikit aroma pisang.

Selama penyelenggaraan Jakarta X Beauty 2026, Blackstag menawarkan harga khusus untuk seluruh variannya. Parfum yang di platform daring dijual mulai kisaran Rp 350 ribuan dipasarkan dengan harga promo sekitar Rp 295 ribu, sementara varian yang biasanya dibanderol di atas R p400 ribu ditawarkan sekitar Rp350 ribu.

Pembelian bundle bahkan akan mendapat diskon tambahan Rp 20 ribu untuk masing-masing parfum. Pengunjung juga dapat memperoleh kaus gratis untuk pembelian minimal empat botol parfum selama pameran berlangsung di Jakarta International Convention Center (JICC), Senayan, Jakarta, 2─5 Juli 2026.