Jangan Langsung Beli Skincare, Cek Dulu Kondisi Kulit Wajah Pakai AI

Skin AIdentify, teknologi analisis kulit berbasis AI dari ERHA, diklaim berbeda dengan skin analysis yang ada saat ini.

Diterbitkan 04 Juli 2026, 05:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Tren skincare viral terus memengaruhi kebiasaan masyarakat dalam memilih produk perawatan kulit wajah. Berbagai rekomendasi yang beredar di media sosial membuat banyak konsumen tergoda membeli produk tanpa mengetahui terlebih dahulu kondisi kulit mereka.

Menjawab keadaan tersebut, sebuah teknologi analisis kulit berbasis kecerdasan buatan (AI) bernama Skin AIdentify resmi diperkenalkan untuk membantu masyarakat memahami kondisi kulit sebelum menentukan produk perawatan. Teknologi ini memberi analisis awal secara digital sehingga pengguna memperoleh gambaran kondisi kulit hanya melalui selfie.

"Skin AIdentify berbeda dari skin analysis atau skin scanning yang sudah ada di pasaran saat ini. Teknologi ini menjadi pintu masuk menuju ekosistem dermatologi yang mencakup layanan teledermatologi, klinik, hingga apoteker sehingga pengguna bisa memperoleh rekomendasi produk maupun perawatan yang lebih sesuai dengan kebutuhannya," ujar Direktur Brand & Marketing ERHA Skincare Group, Afril Wibisono, melalui rilis pada Lifestyle Liputan6.com, Kamis, 2 Juli 2026.

Teknologi tersebut dirancang sebagai asisten digital yang membantu pengguna mengenali kondisi kulit secara lebih objektif. Sistem AI menganalisis foto wajah yang diunggah pengguna, kemudian menghasilkan laporan mengenai berbagai parameter kesehatan kulit.

Kemudahan akses menjadi salah satu keunggulan layanan tersebut. Pengguna cukup mengambil foto selfie melalui perangkat digital, lalu sistem akan memproses gambar untuk menghasilkan analisis dalam hitungan menit.

Hasil analisis tidak hanya menunjukkan jenis kulit, seperti kering, berminyak, sensitif, kombinasi, atau mature. Sistem juga mengevaluasi kondisi skin barrier, tingkat hidrasi, pigmentasi, inflamasi, tekstur kulit, serta tanda-tanda penuaan.

 

Evaluasi Lebih Rinci

Evaluasi yang lebih rinci diharapkan dapat memberi gambaran lebih lengkap dibanding sekadar mengenali tipe kulit. Teknologi AI tersebut turut menilai sejumlah indikator penting.

Di antaranya, yakni kelembapan kulit, produksi minyak atau sebum, elastisitas, warna kulit, melasma, hiperpigmentasi, tingkat kemerahan akibat inflamasi, bekas jerawat, ukuran pori-pori, kerutan halus, dan potensi kulit mengalami kekenduran.

Hasil evaluasi kemudian disajikan sebagai dasar bagi pengguna untuk menentukan langkah perawatan berikutnya. Menurut Afril, analisis awal tersebut bertujuan membantu masyarakat mengambil keputusan yang lebih tepat di tengah maraknya produk skincare yang sedang populer di media sosial.

"Melalui hasil analisis ini, pengguna dapat mengetahui apakah masalah kulit yang dialami masih tergolong ringan atau sudah membutuhkan perhatian dan penanganan lebih lanjut. Kami ingin mendorong masyarakat agar lebih bijak sebelum memutuskan menggunakan produk tertentu," katanya.

 

Layanan Konsultasi Lanjutan

Selain menampilkan laporan kondisi kulit, sistem juga terhubung dengan layanan konsultasi lanjutan. Pengguna dapat melanjutkan proses melalui telekonsultasi, memperoleh rekomendasi produk, atau mendapatkan rujukan menuju layanan klinik jika hasil analisis menunjukkan perlunya penanganan lebih mendalam.

Integrasi tersebut membuat proses perawatan berlangsung lebih terarah sejak tahap identifikasi awal. Layanan ini juga didukung jaringan klinik kecantikan ERHA yang telah hadir di 112 kota di Indonesia, serta fasilitas digital clinic untuk konsultasi jarak jauh. 

"Pengguna dapat memulai perjalanan perawatan dari telekonsultasi, memperoleh rekomendasi produk yang sesuai, hingga mengakses layanan klinik apabila membutuhkan penanganan lebih advanced. Konektivitas ini memudahkan masyarakat mendapatkan solusi kesehatan kulit secara lebih praktis dan menyeluruh," tutur Afril.

Pemanfaatan AI di Dunia Kecantikan

Pemanfaatan AI di industri kecantikan terus berkembang seiring meningkatnya kebutuhan konsumen akan layanan yang lebih personal. Sejumlah perusahaan mulai memanfaatkan teknologi tersebut untuk membantu proses analisis kulit, menyusun rekomendasi perawatan, hingga mendukung konsultasi awal secara digital.

Teknologi AI memungkinkan proses identifikasi kondisi kulit berlangsung lebih cepat melalui analisis foto wajah. Sistem mempelajari berbagai indikator, mengolahnya menjadi laporan yang dapat digunakan sebagai dasar menentukan langkah perawatan.

Pendekatan berbasis data ini memberi konsumen referensi yang lebih objektif dibandingkan hanya mengandalkan ulasan produk atau tren di media sosial. Perkembangan tersebut mencerminkan perubahan layanan kecantikan yang semakin mengedepankan personalisasi.

Konsumen kini didorong tidak hanya mencari produk yang sedang populer, tapi juga sesuai dengan kondisi kulitnya. Kehadiran teknologi AI menjadi salah satu upaya menjembatani kebutuhan tersebut dengan menghadirkan analisis awal yang lebih praktis sebelum pengguna berkonsultasi lebih lanjut dengan tenaga profesional.