Perajin Tahu Tempe Keluhkan Beban Biaya Produksi Naik

Ketua Pusat Koperasi Produsen Tahu Tempe DKI Jakarta Hedy Kuswanto memaparkan rincian kenaikan biaya produksi tahu tempe.

Diterbitkan 03 Juli 2026, 10:18 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Perajin tahu-tempe mengungkap kenaikan beban biaya produksi dalam beberapa waktu belakangan. Alhasil, ukuran tahu dan tempe dibuat menjadi lebih kecil.

Ketua Pusat Koperasi Produsen Tahu Tempe Indonesia (Puskopti) DKI Jakarta, Hedy Kuswanto mengungkap kenaikan beban biaya produksi yang menekan produsen. Alhasil, mengurangi ukuran tahu dan tempe menjadi salah satu cara menghemat.

"Memang pintar-pintarnya perajin menyiasati potongan atau ukuran, walaupun belum bisa meng-cover semua, minimal bisa mambantu menutupi biaya produksi," kata Hedy kepada Liputan6.com, Jumat (3/7/2026).

Dia mengatakan, harga kedelai impor di tingkat perajin berkisar Rp 10.800-11.100 per kilogram (kg). Angka ini masih di bawah harga acuan pembelian (HAP) pemerintah maksimal Rp 12.000 per kg di tingkat pengrajin. Namun, Hedy menegaskan, beban biaya produksi tak sebatas pada bahan baku. 

Ada beban lain yang berasal dari komponen pendukung, seperti harga bahan bakar minyak (BBM), biaya logistik, hingga kemasan plastik. Dalam hitungannya, rata-rata kenaikan biaya produksi mencapai 32 persen.

"Rata-rata kenaikan beban biaya produksi 36,24 persen," ungkapnya.

Beban Biaya Produksi

Hedy memberikan rincian kenaikan beban biaya produksi dari Januari-Juni 2026. Di antaranya BBM 32,58% yang berasal dari hitungan penggunaan BBM non subsidi Pertamax.

Lalu, plastik kemasan naik 57,14%, serta ongkos angkutan logistik naik 20%. Dengan begitu, rata-rata kenaikan beban biaya produksi mencapai 36,24%.

Hedy menyampaikan, kenaikan beban ini berdampak pada menipisnya margin keuntungan usaha pengrajin tahu-tempe. Kemudian, ukuran produk mengecil, menurunnya kapasitas produksi, sulitnya modal usaha, penurunan daya saing, hingga risiko berhentinya usaha.

 

Tagih Janji Pemerintah

Diberitakan sebelumnya, Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo) kembali mendesak pemerintah segera merealisasikan program subsidi kedelai bagi pengrajin tempe dan tahu. Desakan itu muncul di tengah lonjakan biaya produksi yang dinilai semakin menekan keberlangsungan usaha para pengrajin.

Sekretaris Jenderal Gakoptindo Wibowo Nurcahyo mengatakan kondisi saat ini sudah semakin memberatkan pelaku usaha tempe dan tahu. Karena itu, pihaknya menagih komitmen pemerintah untuk menjalankan program subsidi yang sebelumnya telah dibahas lintas kementerian.

"Kondisi ini memberatkan perajin tempe tahu. Kami menagih janji pemerintah,” kata Wibowo kepada Liputan6.com, Kamis (17/6/2026).

Menurut dia, pembahasan mengenai subsidi kedelai sebenarnya telah dilakukan dalam rapat koordinasi lintas kementerian. Namun hingga kini program tersebut belum juga berjalan.

“Hal ini sudah dirapatkan lintas kementerian. Tinggal pelaksanaan, tapi ada yang menghambat ini terealisasikan,” ujarnya.

 

Surati Menko Pangan

Sebagai tindak lanjut, Gakoptindo telah mengirimkan surat kepada Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan untuk meminta percepatan realisasi program sekaligus menyerahkan data calon penerima subsidi yang telah diverifikasi.

Dalam surat tersebut, Gakoptindo menyatakan, dukungannya terhadap upaya pemerintah menjaga stabilitas pangan dan keberlangsungan usaha mikro serta kecil. Gakoptindo itu juga menegaskan bahwa data yang disampaikan telah dihimpun melalui jaringan koperasi primer dan pusat koperasi produsen tempe tahu di berbagai daerah.

Data yang diserahkan mencakup jumlah perajin, kapasitas produksi, hingga kebutuhan kedelai yang digunakan dalam proses produksi. Gakoptindo juga memastikan seluruh data telah disusun secara akurat dan dapat dipertanggungjawabkan karena pelaksanaan program nantinya berada di bawah pengawasan pemerintah dan instansi terkait.

 

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6