Liputan6.com, Jakarta - Pusat Koperasi Produsen Tahu Tempe Indonesia (Puskopti) mengungkap adanya kenaikan signifikan pada beban biaya produksi. Meski harga kedelai impor relatif stabil, para pengrajin kini tengah menanti realisasi janji pemerintah terkait implementasi subsidi kedelai impor sebesar Rp 2.000 per kilogram (kg).
Ketua Puskopti DKI Jakarta, Hedy Kuswanto, mengungkapkan bahwa harga kedelai impor saat ini berkisar antara Rp 10.800 hingga Rp 11.100 per kg. Meskipun tidak melonjak ekstrem, ia mengakui beban produksi pengrajin tahu-tempe masih sangat tertekan oleh faktor lain.
"Keluhan pengrajin tempe dan tahu adalah agar stimulus dari pemerintah bisa segera direalisasikan. Pemerintah sebelumnya berjanji memberikan subsidi kedelai Rp 2.000 per kg, dengan tahap pertama sebesar 250 ribu ton untuk para pengrajin," ungkap Hedy, Jumat (3/7/2026).
Advertisement
"Kalau di DKI Jakarta, harga kedelai tertinggi berkisar Rp 11.000–Rp 11.100 per kg, sedangkan yang terendah Rp 10.600–Rp 10.800 per kg. Tetapi seperti yang saya katakan, ada komponen lain yang harus dibebankan ke dalam biaya produksi," imbuhnya.
Ia berharap subsidi bahan baku tersebut dapat segera dikucurkan untuk memberikan keringanan. Pasalnya, pengrajin tahu-tempe harus menghadapi tambahan beban biaya dari bahan baku pendukung seperti plastik kemasan, minyak goreng, hingga biaya angkut logistik.
"Yang memberatkan dan menggerus laba tukang tempe dan tahu tidak hanya harga kedelai, tetapi juga komponen pendukung produksi seperti minyak goreng dan plastik. Ditambah lagi, daya beli masyarakat menurun karena situasi keuangan di tingkat bawah sedang sulit," jelas Hedy.
Rincian Beban Biaya Produksi yang Melonjak
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5555158/original/004473600_1776145313-tah3.jpg)
Hedy memberikan rincian kenaikan beban biaya produksi sepanjang Januari hingga Juni 2026. Beberapa komponen yang mengalami kenaikan tajam di antaranya:
- BBM (Non-Subsidi/Pertamax): Naik 32,58%
- Plastik Kemasan: Naik 57,14%
- Ongkos Angkutan Logistik: Naik 20%
Secara akumulatif, rata-rata kenaikan beban biaya produksi yang harus ditanggung pengrajin mencapai 36,24%.
Hedy menyampaikan bahwa kenaikan beban ini berdampak langsung pada menipisnya margin keuntungan usaha. Jika kondisi ini terus dibiarkan, dampaknya bisa meluas mulai dari ukuran produk yang terpaksa mengecil, menurunnya kapasitas produksi, sulitnya perputaran modal usaha, penurunan daya saing, hingga risiko gulung tikar.
Â
Advertisement
Ukuran Tahu-Tempe Terpaksa Mengecil
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3340049/original/016234000_1609759130-20210104-Produksi-Tempe-Kembali-Menggeliat-iqbal-1.jpg)
Siasat memperkecil ukuran produk menjadi pilihan terakhir bagi para pengrajin dalam beberapa waktu belakangan demi menutupi lonjakan biaya produksi tersebut.
"Memang pintar-pintarnya pengrajin menyiasati potongan atau ukuran produk. Walaupun belum bisa menutupi seluruh kerugian, minimal cara ini bisa membantu mengamankan biaya produksi harian," kata Hedy.
Ia menegaskan kembali bahwa saat ini harga kedelai impor di tingkat pengrajin sebenarnya masih berada di bawah Harga Acuan Pembelian (HAP) yang ditetapkan pemerintah, yaitu maksimal Rp 12.000 per kg. Namun, pemerintah tidak boleh penutup mata bahwa struktur masalahnya kini bergeser pada biaya operasional dan logistik bahan pendukung.
"Rata-rata kenaikan total beban biaya produksi tetap berada di angka 36,24% akibat komponen-komponen pendukung tersebut," pungkasnya.
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5566966/original/026954400_1777262107-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-04-27T105347.703.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9111045/original/054516000_1783054306-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-07-03T114409.776.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8359730/original/054220900_1782235074-063_2282965616.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8336960/original/043977000_1782207955-cek_fakta_-_bibit_Ikan_lele.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3944384/original/017346500_1645681782-20220224-PENGUSAHA-TAHU-TEMPE-MULAI-KEMBALI-PRODUKSI-FANANI-11.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9133935/original/022673500_1783073947-AP26184046344844.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4246766/original/006828700_1669910509-AP22335568653043.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8519978/original/083186800_1782447080-063_2283364620.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9108027/original/057222500_1783044209-063_2284404573.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9107329/original/011934200_1783043803-063_2284409214.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8624685/original/076624500_1782618194-000_B8K274B.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9107326/original/029939500_1783043802-063_2284407272.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9076838/original/076638200_1783028282-000_B8H386V.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9104370/original/097375700_1783042219-ronaldo.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5415752/original/060786800_1763419826-000_84BP8PA.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9105249/original/065305000_1783042685-por7.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9111027/original/077801500_1783052609-AP26183730218725.jpg)