Mengenal Cabo Verde, Negara yang Sempat Membuat Messi Cs Kewalahan

Melihat ekonomi Cabo Verde, atau juga disebut Tanjung Verde, negara yang terdiri dari gugusan pulau terletak di lepas pantai barat Afrika.

Diterbitkan 05 Juli 2026, 11:29 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Cabo Verde menjadi sorotan publik setelah tim nasionalnya sempat merepotkan Argentina dalam laga Piala Dunia 2026. Mereka memaksa Lionel Messi Cs untuk bermain lebih hingga pertandingan berakhir dengan skor menang tipis 3-2 untuk Argentina.

Meski berstatus negara kepulauan kecil di lepas pantai Afrika Barat, Cabo Verde ternyata memiliki perkembangan ekonomi yang cukup menjanjikan di tengah berbagai tantangan sosial dan lingkungan. Data World Bank Data360 menunjukkan ekonomi Cabo Verde tumbuh 6,3% pada 2025. 

Pertumbuhan tersebut mendorong pendapatan per kapita masyarakat hingga mencapai US$ 5.796,47 dan menempatkan negara berpenduduk sekitar 527 ribu jiwa itu dalam kategori negara berpendapatan menengah atas (upper middle income) di kawasan Afrika Barat dan Tengah.

Di balik capaian tersebut, pemerataan kesejahteraan masih menjadi pekerjaan rumah. Indeks Gini Cabo Verde berada di angka 42,5 pada 2025. Angka itu memang lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya yang sempat menyentuh 52,5, tetapi masih menunjukkan ketimpangan distribusi pendapatan yang cukup tinggi.

Persoalan kemiskinan juga belum sepenuhnya teratasi. World Bank mencatat sekitar 37,1% penduduk masih hidup dengan pengeluaran di bawah US$ 3 per hari berdasarkan metode Purchasing Power Parity (PPP) 2021. Kondisi itu menandakan pertumbuhan ekonomi belum dinikmati secara merata oleh seluruh masyarakat.

Ketahanan pangan menjadi tantangan lain yang dihadapi Cabo Verde. Pada 2023, sekitar 46.100 orang mengalami kerawanan pangan akut pada tingkat tinggi. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan beberapa tahun sebelumnya sehingga memperlihatkan perlunya penguatan sistem pangan nasional.

Sebagai negara kepulauan, Cabo Verde juga menghadapi tekanan terhadap ketersediaan air bersih. Tingkat pemanfaatan air tawar mencapai 59,68% dari total sumber daya yang tersedia pada 2022. Tingginya pemanfaatan itu mencerminkan semakin besarnya tekanan terhadap cadangan air yang memang terbatas.

 

Pembangunan Infrastruktur

Di sisi lain, pembangunan infrastruktur terus berjalan seiring meningkatnya urbanisasi. Sebanyak 77,63% penduduk kini tinggal di wilayah perkotaan pada 2025. Sementara itu, investasi swasta di sektor infrastruktur mencapai US$ 64 juta pada 2023 meski nilainya masih berfluktuasi.

Komitmen terhadap lingkungan juga mulai terlihat. Emisi gas rumah kaca dari sektor transportasi tercatat sebesar 0,23 ton COâ‚‚ ekuivalen pada 2021. Angka tersebut tergolong rendah dibandingkan banyak negara berkembang lainnya, meski pengembangan transportasi yang lebih ramah lingkungan masih perlu didorong.

Kualitas hidup masyarakat pun menunjukkan perbaikan. Harapan hidup penduduk mencapai 76,22 tahun pada 2024. Di sektor ketenagakerjaan, partisipasi angkatan kerja perempuan mencapai 50,47%, yang menunjukkan sekitar separuh perempuan usia produktif telah terlibat dalam aktivitas ekonomi.

Transformasi Digital

Transformasi digital berlangsung cukup pesat. Pengguna internet telah mencapai 74,74% dari total populasi pada 2025. Sementara itu, jaringan seluler minimal 3G telah menjangkau 95,26% penduduk pada 2024 sehingga akses telekomunikasi semakin merata.

Meski demikian, keamanan digital masih memerlukan perhatian. Global Cybersecurity Index (GCI) 2024 menempatkan Cabo Verde pada skor 51,5 dari 100.

Indikator Makro Ekonomi

Dilansir dari AFDB, Cabo Verde juga menunjukkan perbaikan pada sejumlah indikator makroekonomi. Pemerintah berhasil membalikkan posisi fiskal dari defisit 1,1% terhadap PDB pada 2024 menjadi surplus 1,1% pada 2025. Pada periode yang sama, rasio utang publik turun dari 109,2% menjadi 103,7% terhadap PDB berkat pengendalian belanja dan dukungan pembiayaan lunak.

Stabilitas sektor keuangan turut menguat. Cadangan devisa meningkat menjadi 978 juta euro pada November 2025 dari 729 juta euro setahun sebelumnya, didorong oleh investasi asing langsung dan remitansi. Rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) juga terus menurun sehingga menopang ketahanan sistem perbankan.

Meski telah naik status menjadi negara berpendapatan menengah atas pada 2025, Cabo Verde masih menghadapi tantangan struktural. Sekitar 60% pelaku usaha masih berada di sektor informal sehingga belum berkontribusi terhadap penerimaan pajak. Di sisi lain, pasar modal domestik masih belum berkembang dan belum terintegrasi dengan pasar keuangan regional maupun global.

Lembaga keuangan internasional memperkirakan ekonomi Cabo Verde masih akan tumbuh 4,7% pada 2026 dan 5% pada 2027, ditopang sektor pariwisata serta pembangunan infrastruktur. Namun, prospek tersebut dibayangi ketidakpastian perdagangan global dan meningkatnya kebutuhan pembiayaan investasi yang diperkirakan mencapai sekitar US$ 235 juta per tahun.

 

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6