Bank Indonesia Prediksi Ekonomi Indonesia 2026 Tumbuh 4,9%-5,7%

Bank Indonesia (BI) juga melihat ketahanan eksternal tetap kuat dapat mendukung pertumbuhan ekonomi.

Diterbitkan 19 Agustus 2026, 15:50 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Bank Indonesia (BI) memperkirakan ekonomi Indonesia tumbuh 4,9%-5,7% pada 2026 dengan ketahanan eksternal yang tetap kuat. BI menilai surplus perdagangan, aliran investasi portofolio asing, dan cadangan devisa yang tinggi menjadi penopang ketahanan eksternal Indonesia.

BI mencatat neraca perdagangan Indonesia periode Januari-Juni 2026 mencatat surplus kumulatif US$ 3,58 miliar. Namun, neraca perdagangan pada Juni 2026 mencatat defisit US$ 0,45 miliar.

"Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia 2026 berada dalam kisaran 4,9 hingga 5,7%,” kata Pjs. Gubernur BI Destry Damayanti dalam konferensi pers RDG BI yang disiarkan daring, Rabu (19/8/2026).

BI juga mencatat aliran investasi portofolio asing pada kuartal III 2026 hingga 14 Agustus 2026 mencatat net inflow US$ 1,8 miliar. Aliran modal tersebut berasal antara lain dari penerbitan global bonds pemerintah, surat berharga negara, dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

“Ketahanan eksternal tetap kuat ditopang dengan sinergi kebijakan pemerintah dan Bank Indonesia dalam menghadapi gejolak global,” ujar Destry.

BI mencatat posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Juni 2026 mencapai US$ 145,3 miliar. Posisi tersebut setara dengan pembiayaan 5,5 bulan impor atau 5,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.

Destry mengatakan posisi cadangan devisa tersebut berada di atas standar kecukupan internasional sebesar tiga bulan impor. Kondisi tersebut memperkuat kemampuan Indonesia menghadapi tekanan eksternal dan menjaga stabilitas ekonomi.

“Posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Juni 2026 tetap terjaga sebesar US$ 145,3 miliar,” kata Destry.

BI akan terus memperkuat sinergi kebijakan dengan pemerintah untuk menjaga ketahanan eksternal di tengah ketidakpastian ekonomi dan pasar keuangan global.

IMF Prediksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Sentuh 5% pada 2026

Sebelumnya, International Monetary Fund (IMF) atau Dana Moneter Internasional  mempertahankan prediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia di 5% pada 2026. Pertumbuhan ekonomi Indonesia itu meningkat jadi 5,1% pada 2027.

Proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia itu tertuang dalam laporan IMF bertajuk World Economic Outlook Update: Global Economy in Crosscurrents of War and Technology yang rilis Juli 2026, dikutip Kamis, (9/7/2026). Pertumbuhan ekonomi Indonesia itu tidak berubah dari dari proyeksi sebelumnya dalam laporan World Economic Outlook (WEO) pada April 2026.

Selain itu, IMF juga memprediksi pertumbuhan ekonomi ASEAN 5 terdiri dari Indonesia,Malaysia, Filipina, Singapura dan Thailand sebesar 4,1% pada 2026. Sedangkan 2027, pertumbuhan ekonomi ASEAN diprediksi naik menjadi 4,3%. Pertumbuhan ekonomi ASEAN 5 pada 2026 itu tidak berubah dari proyeksi sebelumnya April 2026. Sedangkan pertumbuhan ekonomi 2027 di ASEAN turun 0,1%.

Adapun pertumbuhan ekonomi Indonesia ini lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi global yang diprediksi mencapai 3% pada 2026. Pertumbuhan ekonomi global turun dari 3,5% tahun lalu, dan 3,1% yang diprediksi pada April 2026.

 

Prospek Ekonomi Dunia

Mengutip AP, IMF menurunkan prospek ekonomi dunia pada 2026. Hal ini dengan alasan guncangan energi yang disebabkan oleh Perang Iran. Namun, dampak dari konflik tersebut sebagian diimbangi oleh investasi yang meningkat di bidang kecerdasan buatan dan teknologi lainnya.

IMF memprediksi ekonomi global tumbuh melambat sebesar 3% pada 2026, turun dari 3,5% tahun lalu, dan dari 3,1% yang diperkirakan pada April 2026. IMF memprediksi pertumbuhan global akan pulih menjadi 3,4% pada 2027.

Iran menanggapi serangan AS dan Israel pada 28 Februari dengan menutup Selat Hormuz, yang dilalui seperlima minyak mentah dan gas alam dunia. Harga energi melonjak, menekan bisnis dan konsumen. IMF kini memperkirakan harga minyak akan naik hampir 32% tahun ini, dan harga konsumen global secara keseluruhan akan meningkat 4,7% pada 2026. Angka ini akan naik dari 4,1% pada 2025 dan berarti kemajuan selama dua tahun dalam mengatasi inflasi telah terhenti.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6