Ubah Purun Jadi Tech Organizer, Inovasi Hijau Selamatkan Gambut Kalimantan

Melalui pendekatan inovasi material, Gaia Weave mengolah purun menjadi berbagai produk fungsional, seperti tech organizer hingga perlengkapan rumah tangga.

Diterbitkan 03 Oktober 2026, 18:07 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Lahan basah dan ekosistem gambut Kalimantan Selatan menyimpan potensi material hijau yang mampu menjawab kebutuhan gaya hidup digital modern.

Berangkat dari kepedulian terhadap lingkungan dan kesejahteraan masyarakat lokal, Alexandra Christy Untono, siswi kelas 12 ACS Jakarta, mendirikan Gaia Weave.

Organisasi tersebut merupakan sebuah wirausaha sosial yang mentransformasi rumput purun (Lepironia articulata) menjadi lini produk tech organizer dan aksesori bernilai tambah tinggi.

“Purun tumbuh subur di lingkungan yang basah. Dengan menciptakan nilai ekonomi dari purun, kami ingin membantu membangun insentif agar masyarakat tetap melihat nilai dari lanskap tempat purun tumbuh,” ujar Alexandra dalam keterangan resminya, Sabtu (3/10/2026).

Melalui pendekatan inovasi material, Gaia Weave mengolah purun menjadi berbagai produk fungsional, mulai dari tech organizer, document pouch, tas, hingga perlengkapan rumah tangga.

Langkah ini tak hanya menghadirkan alternatif produk berbasis sustainability, tetapi juga menjaga fungsi ekologis lahan gambut sebagai penyimpan cadangan karbon dan pengatur tata air. Dengan menjaga keberadaan purun, masyarakat terdorong merawat kawasan basah agar tidak dikeringkan atau dibakar.

Berdiri sejak 2025, Gaia Weave merancang rantai pasok dari hulu ke hilir untuk menjembatani keterampilan anyam tradisional dengan pasar modern. Saat ini, Gaia Weave telah merangkul 126 perajin di 15 desa di Kalimantan Selatan dengan kapasitas produksi mencapai 6.000 unit per bulan.

Produk-produknya hadir di lebih dari 100 gerai ritel seperti Ranch Market dan Dekoruma, serta diserap sektor korporasi untuk kebutuhan merchandise dan hadiah karyawan.

 

Ekonomi Sirkular

Pemberdayaan ini memberikan dampak ekonomi terukur. Kemitraan Gaia Weave berhasil meningkatkan pendapatan perajin hingga 100–150 persen, dari semula Rp 1 juta sampai Rp1,5 juta menjadi Rp 2,7 juta hingga Rp 3 juta per bulan.

Bagi petani lokal, menganyam purun di rumah seusai berladang memberikan tambahan penghasilan harian yang signifikan. Alexandra menegaskan ekonomi sirkular tidak hanya berfokus pada material terurai, melainkan juga kepastian keadilan ekonomi bagi para perajin dalam rantai pasok.

Rekam jejak Alexandra di bidang sustainability, termasuk pengalaman magang pemetaan rumput laut di NTT serta mendirikan jaringan daur ulang EcoFunCycle, menjadi fondasi kuat dalam mengelola Gaia Weave.

 

Mengawinkan Teknologi dan Transparansi

Melalui kanal digital seperti Instagram (@gaiaweave) dan laman resminya (www.gaiaweave.id), ia terus mengampanyekan pentingnya material ramah lingkungan kepada generasi muda.

Menatap tahun 2030, Gaia Weave memasang target besar untuk memberdayakan lebih dari 1.000 perajin, menembus pasar ekspor, serta menjalin kemitraan B2B dengan sektor perhotelan premium internasional.

Mengawinkan teknologi dan transparansi, perusahaan juga tengah menyiapkan sistem ketertelusuran berbasis kode QR. Inovasi ini memungkinkan konsumen memindai tech organizer milik mereka untuk mengetahui perjalanan produk serta dampak sosial-lingkungan yang dihasilkan secara langsung.