Polisi Telusuri Dugaan Perundungan di Balik Kematian Dokter Adrian

Dokter Adrian diduga menjadi korban perundungan alias bullying selama menempuh masa pendidikan Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS).

Diterbitkan 08 Juli 2026, 14:28 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Manado - Satreskrim Polresta Manado bergerak cepat mendalami rumor di media sosial terkait kematian seorang peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) atas nama dr Adrian Rantung. Dokter muda tersebut diduga menjadi korban perundungan alias bullying selama menempuh masa pendidikan.

Pihak kepolisian menegaskan bahwa proses penyelidikan akan berjalan secara profesional, objektif, dan transparan, tanpa mengabaikan asas praduga tak bersalah.

Kasat Reskrim Polresta Manado Kompol Elwin Kristanto, didampingi Kasi Humas Polresta Manado IPTU Agus Haryono, menjelaskan bahwa timnya telah melakukan serangkaian langkah awal untuk mengumpulkan fakta di lapangan.

"Kami telah melakukan serangkaian langkah penyelidikan, mulai dari menelusuri informasi yang tersebar di media sosial, berkoordinasi dengan pihak RSUP Prof Dr RD Kandou Manado, mengumpulkan dokumen, hingga meminta keterangan dari sejumlah pihak," ujar Kompol Elwin Kristanto, Rabu (8/7/2026).

Elwin mengatakan, seluruh informasi yang berkembang, termasuk dugaan adanya perundungan, masih didalami dan belum dapat disimpulkan sebagai fakta.

Penyebab Kematian Belum Dipastikan

Berdasarkan koordinasi dengan Instalasi Forensik RSUP Prof Dr RD Kandou Manado, penyebab kematian pasti dr AR secara medis belum bisa disimpulkan secara menyeluruh. Hal ini dikarenakan pihak keluarga meminta untuk tidak dilakukan autopsi, melainkan hanya pemeriksaan fisik luar.

Polisi juga berbaring menyimpan informasi mengenai lokasi meninggalnya korban. Hasil pendalaman menunjukkan bahwa dr AR tidak meninggal dunia saat menjalani perawatan di RSUP Prof Dr RD Kandou. Jenazah korban dibawa ke rumah sakit sudah dalam kondisi meninggal dunia untuk proses pemeriksaan luar dansaran pemula, sebelum akhirnya dipulangkan ke Kabupaten Morowali untuk dimakamkan.

Belum Ada Laporan Resmi Keluarga

Hingga saat ini, pihak keluarga korban diketahui belum melayangkan laporan resmi ke kepolisian terkait dugaan perundungan atau tindak pidana lainnya. Meski begitu, Polresta Manado memastikan pencarian akan terus berjalan.

"Hingga saat ini belum ada laporan resmi dari pihak keluarga. Namun demikian, kami tetap melakukan pendalaman terhadap seluruh informasi yang beredar. Apabila nantinya ditemukan fakta, alat bukti, maupun unsur pidana yang cukup, tentu akan kami tindak lanjuti sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku," tegas Kompol Elwin Kristanto.

Ia juga mengimbau masyarakat agar tidak berspekulasi berlebihan atau menyebarkan informasi yang belum terverifikasi secara hukum.

Saat ini, Satreskrim Polresta Manado telah mengerahkan tim patroli siber untuk menghubungkan aktivitas media sosial guna meredam penyebaran hoaks dan narasi provokatif yang dapat mengganggu kamtibmas. Polisi berjanji akan menyampaikan setiap perkembangan kasus ini kepada publik secara terbuka berdasarkan alat bukti yang sah.

 

Meninggal di Rumah Ortu

Diberitakan sebelumnya, jenazah Adrian Rantung, seorang dokter Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Anestesiologi di RSUP Prof Dr RD Kandou Manado dipulangkan ke rumahnya di Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah pada, Senin (6/7/2026). Kematian dokter Adrian sempat viral di medsos, dan informasi yang beredar menyebutkan dia meninggal di kamar kos akibat perundingan.

"Untuk jenazah Dokter Adrian sudah dibawa pulang ke rumahnya di Morowali pada Senin kemarin," ujar salah satu anggota keluarga dokter Adrian yang ditemui di rumah milik orang tua (ortu) dokter Adrian pada, Selasa (7/7/2026).

Ibu paruh baya itu mengaku sebagai tante dari dokter Adrian yang baru datang ke Manado untuk menjaga rumah tersebut. Pasalnya, seisi rumah itu berangkat ke Morowali untuk mengantar jenazah.

"Dokter Adrian bertugas di Morowali. Istrinya juga bekerja di sana," ujarnya.

Dia juga mengaku, dokter Adrian ditemukan meninggal dunia di rumah orangtuanya di Kelurahan Malalayang Satu Barat, Kecamatan Malalayang, Kota Manado.

Sementara itu, Ketua Lingkungan 6, Kelurahan Malalayang Satu Barat, Nontje Hebingadil membenarkan bahwa dokter Adrian tinggal bersama orangtuanya di Kelurahan tersebut. Dokter yang bertugas di Morowali itu sedang mengambil pendidikan dokter spesialis di RSUP Prof Kandou Manado.

"Dia memang warga kami, dari kecil saya mengenal keluarga dokter ini. Sebelum akhirnya dokter Adrian bertugas di Morowali," ujar Nontje saat ditemui di kantor Kelurahan Malalayang Satu Barat pada, Selasa (7/7/2026).

Nontje mengatakan, dokter Adrian diketahui meninggal dunia pada, Minggu (5/7/2026), saat akan dibangunkan oleh ayahnya. Sebelum tidur, dokter Adrian berpesan agar tidak usah dibangunkan, karena dia akan bertugas pada malam hari.

"Saat ayahnya masuk kamar dan akan membangunkan, ternyata dokter Adrian sudah meninggal dunia," ujar Nontje.