Psikolog Ungkap Dampak Buruk Anak di Sukabumi Kecanduan Hirup Bensin

Seorang anak yatim di Sukabumi kecanduan menghirup aroma bensin.

Diterbitkan 07 Juli 2026, 19:07 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kasus seorang anak yatim piatu berkebutuhan khusus berinisial H (11) di Sukabumi yang mengalami kecanduan akut menghirup bensin terus mendapat perhatian serius. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) bersama Unit Pelaksana Teknis Daerah Perlindungan Perempuan dan Anak (UPTD PPA) mendesak penanganan cepat terhadap fenomena memprihatinkan ini.

Anggota Pokja Pendidikan KPAI sekaligus Psikolog, Dikdik Hardy, menjelaskan bahwa kebiasaan menghirup aroma bensin untuk mencari ketenangan berkaitan erat dengan masalah perkembangan. Menurutnya, anak-anak usia prasekolah kerap mencari objek indrawi tertentu demi memicu rasa nyaman.

"Secara biologis perilaku tersebut memang memunculkan hormon dopamin sehingga memberikan efek menenangkan," jelas Dikdik, Selasa (7/7/2026).

Dikdik menyamakan hal ini dengan kebiasaan balita yang tidak bisa tidur tanpa memeluk boneka tertentu.

Namun, jika kecanduan ekstrem ini terus bertahan hingga usia sekolah, hal tersebut menjadi sinyal kuat adanya hambatan psikologis yang serius pada anak.

"Bila perilaku kecanduan yang tidak lazim masih muncul pada masa sekolah, kemungkinannya si anak mengalami fiksasi, regresi atau ABK," jelas dia.

Untuk mengatasinya, Dikdik menyarankan metode pengalihan objek secara bertahap menggunakan aroma lain yang menyengat namun aman bagi kesehatan fisik sang anak.

Sementara itu, pihak UPTD PPA Kota Sukabumi menegaskan bahwa langkah intervensi lapangan sebenarnya sudah berjalan. Pihaknya tercatat telah memberikan layanan penanganan psikologis secara berkala kepada H.

"Sudah dua kali mendapat layanan pendampingan dari UPTD," kata Kepala UPTD PPA Kota Sukabumi, Hendra.

Terkait hasil pemeriksaan kejiwaan, Hendra menyebut detailnya harus dikonfirmasikan langsung dengan tim psikolog yang menangani H.