Puluhan Orang Geruduk Rumah Bos Investasi Bodong di Sukabumi

Kasus ini mencuat setelah dana investasi Rp 1 miliar tidak jelas pemanfaatannya.

Diterbitkan 06 Juli 2026, 22:06 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Puluhan korban dugaan investasi bodong melabrak sebuah rumah di Kampung Sekarwangi, Kelurahan Cibadak, Kabupaten Sukabumi. Aksi protes ini dipicu oleh macetnya dana investasi yang tidak kunjung menemui kejelasan.

Ketua RW setempat Kris Mediansyah menyebut warga terpaksa mendatangi pengelola karena akses komunikasi yang tersumbat selama berbulan-bulan.

"Mereka datang ke sini minta kejelasan. Katanya, kata mereka yang jadi korban itu, investasi bodong lah," ujar Kris di lokasi, Senin (6/7/2026).

Menurut Kris, warga sudah kehilangan kesabaran karena janji pengembalian modal terus-menerus diingkari. Saat ini, situasi sudah mulai diredam dan kedua belah pihak kabarnya telah menunjuk kuasa hukum untuk menyelesaikan kasus ini secara formal.

"Kami berupaya menjaga ketertiban, jangan sampai ada tindakan anarkis. Pihak korban dan pihak pengelola sudah menyewa pengacara," tambah Kris.

Sementara itu, salah satu korban, Fatma Nurliah, meluapkan kekecewaannya atas hasil mediasi di kantor kelurahan. Bagi para korban, alasan yang disampaikan pihak pengelola sama sekali tidak masuk akal.

"Jawaban mereka tidak masuk logika. Kami jelas belum puas dengan hasil musyawarah kemarin," ungkap Fatma.

Fatma juga membongkar kecurigaannya terhadap gaya hidup terduga pelaku sebelum bisnis tersebut dinyatakan bangkrut. Pelaku diketahui sempat membeli barang-barang mewah.

"Mana mungkin uang Rp 1 miliar tidak dia rasakan. Beberapa bulan sebelum bangkrut, dia beli iPhone dan laptop. Katanya itu hasil dari jualan seblak," kata Fatma.

Kini, para korban yang diperkirakan mencapai 60 orang dengan total kerugian Rp 1 miliar sepakat membawa kasus ini ke ranah hukum karena pihak pengelola dianggap tidak memiliki itikad baik. Fatma sendiri mengaku merugi belasan juta rupiah.

"Kerugian saya Rp 19 juta, baru balik Rp 320 ribu. Jatuhnya kita yang rugi, tapi kita yang diintimidasi," tutur dia.