Asa Nelayan di Tengah Status Siaga Anak Krakatau

Peningkatan aktivitas Gunung Anak Krakatau membuat nelayan yang biasa beroperasi di kawasan tersebut perlahan menjauh.

Diterbitkan 06 Juli 2026, 13:35 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Lampung Status Level III (Siaga) Gunung Anak Krakatau (GAK) membawa tantangan baru bagi nelayan di perairan Selat Sunda.

Yudi, nelayan yang juga pengurus Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Lampung Selatan, bercerita, keselamatan menjadi prioritas utama mayoritas nelayan sejak aktivitas Gunung Anak Krakatau meningkat.

Mereka memilih mematuhi larangan beraktivitas dalam radius 5 kilometer dari kawah dan tidak lagi mencari ikan di sekitar Pulau Krakatau.

"Sekarang tidak ada yang sampai ke Pulau Krakatau. Paling jauh hanya sekitar Pulau Sebuku dan itu pun hanya satu dua orang. Mayoritas melaut di sekitar Kalianda," kata Yudi dikonfirmasi, Senin (6/7/2026).

Meski tetap melaut, Yudi mengaku peningkatan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau berdampak pada hasil tangkapan ikan.

"Biasanya kalau ada getaran atau letusan Gunung Anak Krakatau, hasil tangkapan nelayan ikut berkurang," ungkap dia.

"Perbandingannya sangat jauh, bisa sampai 75 persen. Tetapi belum bisa disimpulkan seluruhnya akibat letusan Gunung Anak Krakatau karena baru selesai fase terang bulan dan nelayan juga baru mulai kembali melaut," sambungnya.

Di tengah kondisi tersebut, Yudi berharap aktivitas Gunung Anak Krakatau segera mereda agar nelayan bisa kembali melaut dengan tenang dan hasil tangkapan kembali normal.

"Mudah-mudahan tidak berlangsung lama. Kasihan teman-teman nelayan yang menggantungkan hidup dari hasil melaut," ucapnya.

Pengalaman serupa disampaikan nelayan Pulau Pasaran, Edi Muhtadi. Ia mengatakan para nelayan umumnya memilih menjauh dari kawasan Gunung Anak Krakatau saat erupsi.

Namun, desakan ekonomi membuat sebagian nelayan tetap nekat melaut lebih dekat ke wilayah tersebut.

"Kalau sedang erupsi ya nelayan menjauh. Tetap melaut, tapi menghindar ke lokasi yang lebih aman. Imbauan pemerintah juga ada, tetapi memang masih ada saja yang berani mendekat karena mencari penghasilan di laut," cerita dia.

Kondisi Terkini Gunung Anak Krakatau

Gunung Anak Krakatau (GAK) sampai hari ini, Senin (6/7/2026), masih berada pada status Siaga (Level III). Masyarakat maupun kapal, terutama nelayan, masih dilarang beraktivitas dalam radius tiga kilometer dari puncak gunung api yang berada di perairan Selat Sunda tersebut.

Berdasarkan data Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), menurut hasil pemantauan sepanjang Senin (6/7/2026), peiode pukul 00.00-06.00 WIB pagi tadi, Gunung Anak Krakatau terpantau mengalami 4 kali gempa Hybrid/Fase Banyak dengan amplitudo 3 mm, S-P tidak teramati dan lama gempa 7-10 detik, lalu 1 kali gempa Tremor Menerus dengan amplitudo 1-4 mm, dominan 1 mm.

Kapus PVMBG Rita saat dihubungi tim Regional Liputan6.com, Senin (6/7/2026) mengatakan, secara umum pihaknya mencatat aktivitas Gunung Anak Krakatau belum menurun, sehingga masih ditetapkan di level III (Siaga).

"Aktivitas Gunung Anak Krakatau hari ini terekam tremor menerus yang mengindikasikan terjadinya fluida yang keluar menuju permukaan. Meskipun belum ada lagi suplai magma yang terdeteksi, namun aktivitas Gunung Anak Krakatau masih belum stabil dan dapat berpotensi erupsi kembali," katanya.