Erupsi Gunung Anak Krakatau Bikin Usaha Wisata Lesu

Banyak pengunjung membatalkan perjalanan wisata mereka dengan alasan keselamatan.

Diterbitkan 06 Juli 2026, 15:37 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Meningkatnya aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) tak hanya berdampak pada aktivitas pelayaran dan nelayan. Peristiwa itu juga memukul sektor pariwisata di Selat Sunda. Sejumlah pelaku usaha wisata mengaku mengalami penurunan drastis pemesanan setelah wisatawan dilarang mendekati kawasan gunung demi alasan keselamatan.

Salah seorang pengusaha jasa open trip Krakatau, Chandra mengatakan, saat ini wisatawan hanya diperbolehkan menikmati pemandangan Gunung Anak Krakatau dari atas kapal dengan jarak aman.

Pengunjung sudah tidak lagi diizinkan mendarat di kawasan gunung menyusul peningkatan aktivitas vulkanik.

"Sekarang enggak bisa ke sana, cuma melihat dari jauh. Dari atas kapal saja, habis itu balik lagi," ujar Chandra dikonfirmasi, Senin (6/7/2026).

Dia bilang, pembatasan tersebut mulai diberlakukan sejak akhir pekan lalu setelah aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau meningkat dan otoritas mengeluarkan larangan mendekati radius berbahaya.

Sebelum pembatasan diterapkan, wisatawan masih dapat mengikuti paket open trip menuju kawasan Krakatau.

Dalam satu perjalanan, kapal biasanya mengangkut sekitar 50 peserta dengan tarif Rp 400 ribu per orang. Biaya tersebut sudah mencakup transportasi kapal, menginap di Pulau Sebesi, konsumsi, dokumentasi, hingga perlengkapan keselamatan.

 

Banyak Wisatawan Batalkan Perjalanan

Namun sejak status aktivitas gunung meningkat, banyak calon wisatawan memilih membatalkan perjalanan. Sebagian bahkan mengalihkan tujuan liburan ke destinasi lain di Lampung.

"Kemarin sudah ada satu rombongan yang batal. Ada yang dari Bekasi, dari Palembang juga akhirnya enggak jadi ke Krakatau, mereka pindah wisata ke Pahawang," ungkapnya.

Chandra mengaku tidak ingin mengambil risiko dengan tetap membawa wisatawan mendekati Gunung Anak Krakatau. Menurutnya, ancaman abu vulkanik maupun gas beracun menjadi pertimbangan utama demi keselamatan pengunjung.

"Saya enggak mau memaksa. Takut beracun. Kita enggak tahu kondisi kesehatan masing-masing orang. Mending enggak usah dipaksakan," bebernya.

Kondisi tersebut berdampak langsung terhadap pendapatan pelaku usaha wisata. Selama ini, wisata Gunung Anak Krakatau menjadi salah satu sumber penghasilan utama masyarakat yang tinggal di sekitar Pulau Sebesi.

"Kalau wisata Krakatau tutup ya sepi. Penghasilan pasti menurun. Biasanya seminggu bisa ada trip, sekarang banyak yang batal," ucapnya.

Untuk tetap bertahan, Chandra kini mengandalkan jasa transportasi laut yang melayani penyeberangan penumpang dari Pelabuhan Canti menuju Pulau Sebesi dan sebaliknya.

"Sekarang ngangkut penumpang dari Canti ke Sebesi saja. Sambil nunggu kondisi Krakatau benar-benar normal lagi," tuturnya.

Â