Perbedaan Kolase dan Mozaik, Pahami dari Pengertian, Bahan, hingga Contohnya

Perbedaan kolase dan mozaik terletak pada bahan penyusun, teknik, serta hasil akhirnya.

Diterbitkan 08 Juli 2026, 14:38 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Perbedaan kolase dan mozaik sering kali membingungkan karena keduanya sama-sama dibuat menggunakan teknik menempel. Padahal, kedua karya seni ini memiliki perbedaan yang cukup jelas, terutama dari bahan yang digunakan dan cara penyusunannya.

Kolase dibuat dengan memanfaatkan berbagai jenis bahan yang bentuk aslinya masih dapat dikenali, seperti kertas, kain, daun kering, atau biji-bijian. Sementara itu, mozaik disusun dari kepingan-kepingan kecil yang umumnya berasal dari bahan sejenis, seperti pecahan kaca, keramik, batu, atau potongan kertas berwarna, kemudian dirangkai hingga membentuk gambar atau pola tertentu.

Mengetahui perbedaan kolase dan mozaik penting agar kamu tidak keliru saat membuat maupun menilai sebuah karya. Keduanya sama-sama tergolong karya seni rupa dua dimensi yang juga sering disandingkan dengan montase.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, mozaik atau mosaik adalah seni dekorasi bidang dengan kepingan bahan keras berwarna yang disusun dan ditempelkan dengan perekat. Definisi ini menjadi pijakan awal untuk memahami perbedaannya dengan kolase.

Mengenal Apa Itu Kolase dan Mozaik

Sebelum membedah perbedaannya, penting untuk memahami definisi masing-masing karya seni terlebih dahulu. Keduanya termasuk seni tempel, tetapi memiliki karakter bahan dan hasil akhir yang berlainan.

Secara istilah, kata kolase berasal dari bahasa Prancis coller yang berarti merekat. Dalam buku Seni Rupa untuk Anak Usia Dini (2022), Farida Mayar menjelaskan bahwa kolase merupakan karya seni yang dibuat dengan menggabungkan kegiatan melukis atau menggambar dengan teknik menempel berbagai bahan pada suatu bidang. Oleh karenanya, emahami pengertian kolase tidak bisa dilepaskan dari perpaduan antara melukis dan menempel.

Ciri khas kolase adalah bahan-bahannya yang beragam dan bentuk aslinya tetap terlihat meski sudah menyatu. Kolase memanfaatkan pembentuk, tekstur, dan warna asli mediumnya, sehingga keindahannya justru berasal dari bentuk asli medium yang masih utuh dan tetap dapat dikenali walau telah menjadi satu kesatuan. Untuk mendalami hal ini, kamu bisa menyimak penjelasan tentang apa yang dimaksud dengan kolase secara lebih rinci.

Sementara itu, mozaik adalah gambar yang tersusun dari kepingan-kepingan kecil sejenis. Sebagai karya seni, mozaik dibuat dengan menempatkan kepingan berwarna, biasanya berupa ubin kecil, dalam suatu pola sehingga membentuk sebuah gambar. Berbeda dengan seni kolase yang mengutamakan bahan campuran, mozaik justru menonjolkan keseragaman kepingan penyusunnya.

Baik kolase maupun mozaik sama-sama dibangun dari berbagai unsur seni rupa seperti titik, garis, bidang, dan warna. Perbedaannya baru terasa ketika kita menelisik jenis bahan dan cara penyusunannya.

Perbedaan Kolase dan Mozaik yang Perlu Dipahami

Perbedaan kolase dan mozaik paling mudah dikenali melalui komponen penyusun serta cara merangkainya. Pada dasarnya, kolase biasanya disusun oleh foto atau gambar-gambar kecil lainnya, sementara mozaik disusun oleh panel, potongan, atau bagian berwarna saja. Berikut rincian pembedanya yang perlu kamu pahami.

  1. Jenis bahan penyusun. Kolase menggunakan aneka bahan yang berbeda jenis, mulai dari kertas, kain perca, biji-bijian, hingga daun kering. Mozaik hanya memakai satu jenis kepingan sejenis, seperti pecahan kaca, keramik, atau potongan kertas warna dengan ukuran hampir sama.
  2. Wujud komponen saat dipisahkan. Pada kolase, tiap bahan penyusun tetap dikenali bentuk aslinya walau sudah ditempel. Pada mozaik, kepingan yang dipisahkan hanya berupa potongan atau bagian berwarna tanpa bentuk khusus.
  3. Teknik penyusunan. Kolase disusun lebih bebas, bahannya boleh bertumpuk atau saling menimpa. Mozaik menuntut kepingan diletakkan berdampingan secara rapi mengikuti pola tertentu.
  4. Tekstur dan tampilan. Kolase menghadirkan tekstur yang beragam karena bahannya bervariasi. Mozaik cenderung memiliki permukaan lebih seragam dan kerap berkilau saat memakai kaca atau keramik.
  5. Jenis perekat dan media. Kolase umumnya cukup memakai lem kertas biasa pada bidang datar. Mozaik sering membutuhkan perekat khusus dan bisa diaplikasikan pada dinding maupun lantai.
  6. Ketahanan dan pemanfaatan. Mozaik dikenal awet dan banyak dipakai untuk dekorasi interior serta arsitektur. Kolase lebih fleksibel, ringan, dan populer sebagai karya seni modern.
  7. Asal dan usia karya. Kolase merupakan bentuk seni relatif modern yang berkembang pada abad ke-20. Mozaik justru sudah dikenal sejak peradaban kuno ribuan tahun silam.

Agar makin jelas, bayangkan sebuah gambar kupu-kupu. Pada kolase, sayap kupu-kupu bisa dibentuk dari foto-foto berwarna kuning atau hitam, sedangkan pada mozaik sayap yang sama dibentuk dari potongan kertas warna kuning atau hitam.

Perbedaan mendasarnya tetap pada sifat bahan penyusun, seperti yang bisa kamu praktikkan lewat panduan cara membuat kolase langkah demi langkah. Untuk perbandingan tiga karya sekaligus, tersedia pula ulasan tentang bedanya kolase dengan montase dan mozaik, serta beragam contoh kolase yang bisa dijadikan referensi.

Persamaan Kolase dan Mozaik

Meski berbeda, kolase dan mozaik memiliki banyak titik temu yang membuat orang sering keliru membedakannya. Persamaan pertama terletak pada teknik dasar, yaitu sama-sama menempel dan menyusun potongan bahan untuk membentuk sebuah gambar utuh. Keduanya juga termasuk kelompok karya seni yang dibuat dengan teknik tempel.

Persamaan kedua ada pada wujudnya sebagai seni rupa dua dimensi yang dibangun dari banyak bagian kecil. Keduanya sama-sama melibatkan penggabungan berbagai elemen menjadi satu karya, dibentuk dengan merangkai bagian-bagian yang lebih kecil menjadi karya seni yang lebih besar. Karena itu, kolase dan mozaik kerap masuk dalam kategori yang sama bersama contoh karya seni dua dimensi lainnya.

Ketiga, bahan bakunya sama-sama mudah ditemukan di lingkungan sekitar. Serbuk kayu, cangkang telur, pecahan kaca, daun kering, hingga biji-bijian bisa dimanfaatkan untuk kedua karya. Inilah alasan kolase dan mozaik populer sebagai kegiatan prakarya dan bahkan bisa dikembangkan menjadi kerajinan tangan dari barang bekas.

Terakhir, keduanya sama-sama menuntut kreativitas, ketelitian, dan kesabaran tinggi dalam proses pembuatannya. Nilai keindahan karya tidak terletak pada satu potongan, melainkan pada bagaimana seluruh bagian dirangkai menjadi kesatuan yang harmonis. Prinsip inilah yang menjadikan seni tempel begitu digemari dari bangku sekolah hingga studio seniman profesional.

Sejarah dan Jejak Kolase serta Mozaik dalam Seni Dunia

Sejarah kedua karya ini justru memperlihatkan perbedaan usia yang sangat jauh. Kolase modern baru muncul pada awal abad ke-20 melalui gerakan Kubisme. Kolase menjadi bentuk seni selama periode Kubisme Sintetis Picasso dan Braque pada 1912 hingga 1914, ketika Pablo Picasso mulai menempelkan kain minyak pada permukaan karya berjudul Still Life with Chair Caning.

Teknik potong-tempel ini kemudian menjadi cikal bakal seni campuran yang berbeda dari seni lukis tradisional. Seniman John Stezaker, dikutip dari Tate, mengatakan, "Kolase membuka ruang kesadaran secara sangat langsung. Kolase juga menjadi cara untuk melihat kembali berbagai citra yang terus-menerus kita konsumsi."

Perkembangan berikutnya datang dari gerakan Dada. Hannah Hoch turut mempelopori teknik photomontage bersama pasangannya saat itu, Raoul Hausmann. Seniman Hannah Hoch, dikutip dari The Art Story, mengungkapkan, "Saya selalu berusaha mengeksploitasi fotografi. Saya menggunakannya seperti warna, atau seperti penyair menggunakan kata."

Seniman Dada lain, Kurt Schwitters, dikutip dari AnOther, mendeskripsikan konsep Merz-nya sebagai "penggabungan segala material yang bisa dibayangkan untuk tujuan artistik." Jejak eksplorasi inilah yang membuat kolase dekat dengan montase dalam ranah fotografi.

Berbeda jauh, mozaik adalah salah satu seni dekoratif tertua di dunia. Dilansir dari World History Encyclopedia, mozaik berupa desain dan gambar dari kepingan kecil atau tesserae telah digunakan untuk menghiasi lantai, dinding, langit-langit, dan benda berharga sejak sebelum catatan tertulis ada.

Mengutip Britannica, pada zaman kuno mozaik dibuat dari kerikil yang belum dipotong, lalu bangsa Yunani menyempurnakan seni ini dengan tesserae, yaitu kubus-kubus kecil dari batu, kaca, dan keramik.

Kejayaan mozaik berlanjut hingga masa Romawi dan Bizantium. Contoh paling terkenal adalah Alexander mosaic yang ditemukan di Pompeii, menggambarkan kemenangan Aleksander Agung. Karena keindahannya tersusun dari kepingan dan bukan sapuan kuas, mozaik bahkan kerap disebut sebagai lukisan tanpa cat. Perjalanan panjang inilah yang menegaskan bahwa mozaik jauh lebih tua dibanding kolase maupun sebuah lukisan modern.

Manfaat Membuat Kolase dan Mozaik

Selain menghasilkan karya yang indah, kegiatan membuat kolase dan mozaik menyimpan banyak manfaat, terutama bagi anak. Tujuan dari seni menempel ini di antaranya adalah untuk melatih motorik halus, melatih koordinasi tangan-mata dan konsentrasi, meningkatkan kepercayaan diri, mengungkapkan ekspresi, serta mengasah kemampuan kognitif. Berikut rincian manfaatnya yang perlu diketahui.

  1. Melatih motorik halus. Kegiatan memotong, menyusun, dan menempel melibatkan gerakan otot kecil pada jari dan tangan.
  2. Meningkatkan kreativitas. Anak belajar memadukan warna, bentuk, dan bahan sesuai imajinasinya.
  3. Melatih konsentrasi dan kesabaran. Menempel kepingan satu per satu menuntut fokus dan ketelitian.
  4. Mengenalkan warna, bentuk, dan tekstur. Beragam bahan membantu anak memahami sifat material di sekitarnya.
  5. Melatih koordinasi mata dan tangan. Kemampuan ini penting untuk keterampilan menulis di kemudian hari.
  6. Menumbuhkan rasa percaya diri. Anak merasa bangga saat mampu menyelesaikan sebuah karya sendiri.

Manfaat tersebut sejalan dengan berbagai manfaat menggambar bagi perkembangan anak yang juga mengasah kreativitas dan daya pikir. Karena itu, kolase dan mozaik sangat cocok dijadikan aktivitas keluarga, misalnya dengan memanfaatkan kerajinan tangan dari bahan daur ulang. Selain menyenangkan, kegiatan ini juga memperkenalkan konsep seni dua dimensi sejak dini.

Pertanyaan dan Jawaban Seputar Kolase dan Mozaik

Apa perbedaan utama kolase dan mozaik?

Perbedaan utamanya terletak pada bahan penyusun. Kolase menggunakan aneka bahan berbeda jenis yang bentuk aslinya masih dapat dikenali, sedangkan mozaik memakai kepingan kecil sejenis yang disusun rapi mengikuti pola tertentu hingga membentuk gambar.

Apa perbedaan kolase, montase, dan mozaik?

Kolase menempel beragam bahan berbeda menjadi satu karya, montase menggabungkan banyak gambar atau foto jadi menjadi susunan baru bermakna, sementara mozaik menyusun kepingan sejenis. Penjelasan lengkapnya bisa disimak pada ulasan perbedaan kolase, montase, dan mozaik beserta contoh gambar montase.

Apa saja bahan untuk membuat kolase dan mozaik?

Bahan kolase antara lain kertas, kain perca, daun kering, biji-bijian, hingga kertas warna, sedangkan mozaik memakai kepingan sejenis seperti pecahan kaca, keramik, batu, kertas warna, atau kulit telur. Semuanya direkatkan dengan lem sesuai jenis materialnya, seperti dijelaskan dalam panduan seni tempel dan cara membuatnya.