Iran Balas Serangan AS, Targetkan Fasilitas Militer di Bahrain dan Kuwait

Gencatan senjata AS-Iran kembali goyah setelah sengketa Selat Hormuz merembet ke serangan militer dan pencabutan konsesi minyak.

Diterbitkan 08 Juli 2026, 15:27 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Teheran - Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan telah menargetkan sejumlah fasilitas militer Amerika Serikat (AS) di Bahrain dan Kuwait pada Rabu (8/7). Serangan itu dilakukan setelah AS melancarkan gelombang serangan militer ke Iran sebagai respons atas serangan terhadap kapal-kapal tanker di Selat Hormuz.

IRGC mengatakan pihaknya melakukan operasi gabungan rudal dan drone terhadap sejumlah fasilitas penting militer AS di Bahrain, termasuk kawasan Bandar Salman dan Distrik Angkatan Laut Kelima, serta Pangkalan Udara Ali Al Salem di Kuwait. IRGC juga mengklaim telah menembak jatuh drone MQ-9 milik AS yang disebut berupaya mengganggu operasi tersebut.

Para pejabat mengatakan sirene serangan udara terdengar di Bahrain dan Kuwait. Militer Kuwait menyatakan sistem pertahanan udara negara itu tengah menghadapi serangan rudal dan drone "musuh".

Sebelumnya, AS melancarkan serangan militer baru dan mencabut izin yang memungkinkan Iran menjual minyak. Langkah itu diambil sebagai respons atas serangan terhadap tiga kapal tanker di selat tersebut.

Komando Pusat AS (CENTCOM) mengatakan lebih dari 60 kapal kecil milik IRGC termasuk di antara target serangan. Serangan itu disebut sebagai upaya untuk membuat Iran membayar mahal atas serangan terhadap pelayaran yang melanggar gencatan senjata.

"Agresi tanpa alasan oleh pasukan Iran merupakan pelanggaran yang jelas dan berbahaya terhadap gencatan senjata serta mengganggu kebebasan navigasi," kata CENTCOM dalam pernyataan.

Komando militer gabungan tertinggi Iran, Markas Pusat Khatam al-Anbiya, mengecam serangan AS sebagai tindakan agresi terang-terangan. Markas itu mengancam akan memberikan respons yang menghancurkan dan memperingatkan bahwa Iran tidak akan membiarkan campur tangan AS dalam pengelolaan selat tersebut.

Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf, yang juga menjadi salah satu negosiator senior, menuduh AS telah melanggar kesepakatan gencatan senjata. Menurut Qalibaf, pelanggaran itu tidak hanya terlihat dari serangan militer terbaru AS. Ia turut menyinggung pemberlakuan kembali sanksi minyak, pelanggaran terhadap "penyesuaian" Iran di Selat Hormuz, serta serangan Israel terhadap Lebanon.

"Era perundungan dan pemerasan sudah berakhir," kata Qalibaf dalam unggahan di X. "Kami tidak akan menyerah."

Harga Minyak Naik

Dalam langkah yang berpotensi menjadi pukulan besar bagi kesepakatan tersebut, AS pada Selasa mencabut konsesi utama yang sebelumnya memungkinkan Iran menjual minyak di pasar internasional.

Harga minyak naik lebih dari 3 persen setelah AS mengumumkan langkah itu.

Seorang pejabat AS sebelumnya mengatakan para negosiator tetap bekerja dengan iktikad baik untuk mencapai kesepakatan akhir dengan Iran.

Namun, kendali atas Selat Hormuz memberi Iran daya tawar yang sangat besar. Dengan posisi tersebut, Iran pada dasarnya mampu memaksa kebuntuan dengan militer terkuat di dunia.

Para analis menilai Iran menggunakan serangan terhadap kapal-kapal untuk menunjukkan daya tawar itu saat merundingkan kesepakatan damai jangka panjang dengan AS.

Berdasarkan kesepakatan sementara AS-Iran, Kementerian Keuangan AS pada 22 Juni menerbitkan lisensi umum yang memungkinkan penjualan minyak mentah, produk petrokimia, dan produk minyak bumi asal Iran hingga 21 Agustus.

Setelah mencabut lisensi tersebut pada Selasa, AS memberi waktu kepada Iran hingga 17 Juli untuk menghentikan seluruh transaksi secara bertahap.

Kementerian Luar Negeri Iran mengecam langkah itu sebagai pelanggaran terhadap kerangka kesepakatan untuk mengakhiri perang. Kementerian tersebut mengatakan AS harus bertanggung jawab atas konsekuensi yang timbul.

Pada Rabu dini hari, kementerian itu menyatakan Iran akan mengambil tindakan apa pun yang dianggap perlu untuk melindungi kepentingan dan keamanan nasionalnya.

Meski Iran membantah bertanggung jawab atas serangan terbaru terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz, Qatar menyalahkan Iran atas insiden itu. Salah satu kapal yang diserang adalah kapal tanker gas alam cair raksasa milik Qatar, Al Rekayyat, yang dilaporkan terkena drone hingga memicu kebakaran di ruang mesin. Awak kapal dilaporkan selamat dan sedang dievakuasi.

Selain itu, sebuah kapal tanker minyak mentah berbendera Arab Saudi, yang diyakini sebagai supertanker Wedyan, juga rusak di lepas pantai Oman. Penyebab kerusakan kapal tersebut belum segera diketahui.

Kementerian Luar Negeri Iran menyebut tuduhan Qatar membingungkan dan menegaskan bahwa Iran menjalankan komitmennya dengan sungguh-sungguh. Namun, kementerian itu meengaskan pula kapal-kapal komersial berisiko jika menggunakan rute yang tidak dikoordinasikan dengan Iran.

Seorang pejabat AS lainnya, yang berbicara dengan syarat anonim, mengatakan indikasi awal menunjukkan Iran telah menembaki tiga kapal komersial.

Para pemimpin ulama Iran berupaya membangun sistem permanen untuk memungut biaya di selat tersebut. Jika diterapkan, sistem itu akan mengubah secara besar-besaran keseimbangan kekuatan di kawasan, tempat Washington sejak lama berperan sebagai penjamin keamanan.

Serangan AS terjadi di tengah rangkaian prosesi pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei.