Anak Krakatau 5 Kali Erupsi dalam 12 Jam

Gunung Anak Krakatau masih terus bergejolak hingga hari ini.

Diterbitkan 08 Juli 2026, 10:16 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Lampung - Gunung Anak Krakatau (GAK) yang berada di Selat Sunda mengalami lima kali erupsi dalam kurun waktu kurang dari 12 jam, hingga Rabu (8/7/2026), pukul 10.00 WIB pagi ini. Hal itu diungkap petugas pos pantau Gunung Anak Krakatau, Muhammad Dika Nurzaman, Rioboniek Situmorang dan Deny Mardiono.

Berdasarkan data yang disajikan oleh Muhammad Dika Nurzaman dalam rentang waktu 00.00 WIB hingga 06.00 WIB, Gunung Anak Krakatau sudah berulang kali meletus dengan amplitudo 24.4 hingga 26.1 mm.

Letusan pertama terjadi pukul 00.11 WIB, dengan ketinggian kolom abu tidak teramati, karena dalam kondisi malam hari. Sedangkan dalam rekaman seismogram, amplitudo maksimumnya 24mm selama 40 detik.

Letusan berlanjut pukul 05.50 WIB, dengan ketinggian mencapai 250 meter, kolom abu berwarna kelabu hingga hitam, mengarah ke barat laut. Dalam rekaman seismogram, amplitudo maksimumnya 26.1 mm selama 44 detik.

Erupsi masih berlanjut di pukul 07.11 WIB, dalam laporan yang disusun oleh Rioboniek Situmorang, tercatat ketinggian kolom abu 250 meter berwarna kelabu hingga hitam, amplitudo maksimumnya 44.4 mm, selama 31 detik.

Erupsi yang terjadi pukul 08.42 WIB dan disusun oleh Deny Mardiono, ketinggian letusan Gunung Anak Krakatau menurun, menjadi 100 meter dari atas puncak. Kolom abu berwarna hitam tebal kearah barat laut, dengan amplitudo maksimum 35 mm selama 40 detik.

Letusan Gunung Anak Krakatau kembali terjadi pukul 09.35 WIB setinggi 200 meter diatas puncak, dengan kolom abu berwarna kelabu mengarah ke barat laut. Amplitudo maksimumnya 49 mm selama 27 detik.

Saat ini, pos pantau GAK di Pasauran Anyer, Kabupaten Serang, Banten, menetapkan status gunung berapi di Selat Sunda pada Level III atau Siaga, dengan larangan aktifitas dalam radius 3 km dari kawah aktif.

 

Aktivitas Wisata Masih Aman

Meski masih bergejolak, Pemkab Serang Banten dan PVMBG menjamin wisata pantai di kawasan Anyer dan Cinangka masih aman untuk dikunjungi pada masa libur sekolah.

"Kondisi Gunung Anak Krakatau melandai dan dinyatakan aman. Kami mengajak wisatawan, baik lokal maupun luar daerah, untuk tidak khawatir menghabiskan libur sekolah bersama keluarga di pesisir Serang," kata Wakil Bupati (Wabup) Serang Muhammad Najib Hamas.

Wabup Najib juga meluruskan bahwa video yang beredar di media sosial memperlihatkan seolah-olah Gunung Anak Krakatau dalam kondisi erupsi besar adalah hoaks atau hasil suntingan yang tidak benar.

"Kami telah meninjau langsung Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau PVMBG di Desa Pasauran, Kecamatan Cinangka, Kabupaten Serang, bahwa video yang beredar tersebut tidak benar," paparnya.

Jaminan keamanan dari Pemkab Serang tersebut didukung penuh oleh pemantauan dari PVMBG. Petugas Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau (GAK) Deny Mardiono menjelaskan bahwa meskipun tremor masih terekam, potensi bahaya sangat jauh dari kawasan wisata.

"Radius bahaya berada dalam jarak tiga kilometer dari pusat erupsi. Sementara untuk Pantai Anyer, Cinangka, dan Carita itu jaraknya kurang lebih 42 kilometer. Jadi material vulkanik tidak akan sampai ke sana," ucap Deny.

Terkait sebaran abu vulkanik, Deny menyebut hal itu bergantung pada arah angin. Berdasarkan pantauan visual CCTV, saat ini hanya terlihat kepulan asap putih setinggi lima hingga 10 meter. Ia juga menegaskan Badan Geologi telah mengeluarkan surat resmi untuk membantah hoaks erupsi yang beredar.

Pihak PVMBG memastikan akan terus memantau dan memperbarui laporan aktivitas Gunung Anak Krakatau setiap enam jam. Pelaku pariwisata dan masyarakat dapat mengakses informasi tersebut secara mandiri melalui aplikasi Magma Indonesia atau situs web resmi PVMBG.

"Kami mengimbau masyarakat untuk tetap beraktivitas seperti biasa, tidak terpancing isu bohong, dan selalu berkoordinasi dengan pemerintah daerah maupun BPBD agar informasi yang diterima benar dan akurat," ujar Deny.

Â