Liputan6.com, Jakarta - Nenek Moyangku Seorang Pelaut menjadi penggalan lagu yang melekat dengan budaya Indonesia sebagai negara kepulauan. Mengangkat kembali jejak maritim, Tugu Hotels & Restaurants menghadirkan pengalaman bersantap bertema Nenek Moyangku Seorang Pelaut atau My Forefather, the Great Seafarer sepanjang Agustus. Program ini mengajak para tamu menelusuri sejarah perjalanan rasa Nusantara melalui hidangan-hidangan khas dari berbagai daerah.
Sebagai bangsa maritim, Indonesia tumbuh dari perjalanan, perdagangan, dan pertemuan budaya yang berlangsung di sungai maupun laut. Jauh sebelum jalan raya dan jalur udara menyambungkan antardaerah, urat nadi Nusantara mengalir di perairan yang membawa rempah, hasil bumi, hingga cara memasak ke pelabuhan-pelabuhan.
Seluruh menu dalam program ini disajikan di atas rakit bambu yang dibuat khusus. Bukan sekadar dekorasi, rakit menjadi simbol perjalanan panjang masyarakat yang selama berabad-abad memanfaatkan aliran sungai untuk mengangkut hasil bumi, rempah, kopi, hingga ikan dari pedalaman menuju pelabuhan—sekaligus penanda bahwa jalur air menyatukan kehidupan di kepulauan.
Advertisement
Dari Flores Ke Jawa Timur: Jejak Rasa
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9315911/original/010157600_1785902646-unnamed__5_.jpg)
Salah satu sajian yang dihadirkan adalah Molo Weti Nakeng dari Flores. Hidangan ini terinspirasi dari tradisi nelayan setempat ketika ayah dan anak menyelam bersama sebelum mengikuti upacara penghormatan kepada leluhur serta laut yang menjadi sumber kehidupan mereka.
Dari Jawa Timur, program ini menampilkan Bebek Ireng Ungkep, resep turun-temurun yang dimasak perlahan hingga bumbu meresap sempurna. Teknik memasak yang sabar menonjolkan karakter rempah khas Jawa Timur dalam rasa yang dalam.
Kisah perkebunan kopi Nusantara diangkat melalui Kawisari Plantation, yang merepresentasikan perjalanan biji kopi dari lereng Gunung Kelud sampai akhirnya dinikmati di berbagai penjuru Indonesia. Narasi kopi ini menautkan lanskap agraris dengan budaya minum harian masyarakat.
Advertisement
Kilas Sejarah Di Piring: Blitar, Bali, Lombok, Jakarta
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9315912/original/026514800_1785902646-unnamed__6_.jpg)
Jejak sejarah tampak pada Mangasati, hidangan khas Blitar yang dikenal sebagai salah satu menu favorit Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, saat pulang ke kota kelahirannya. Kehadiran menu ini menautkan memori keluarga dengan cita rasa daerah.
Dari Bali, Lawar Embung mempertahankan rasa autentik lewat perpaduan kelapa, rempah-rempah, dan hasil bumi lokal. Komposisi bahannya menegaskan karakter pangan setempat yang menyatu dengan ritual dan budaya.
Lombok diwakili Berengkes Laut Pantai Sire, olahan hasil laut yang dibungkus daun pisang dan dimasak perlahan menggunakan racikan bumbu Nusantara. Teknik ini menghadirkan aroma daun yang menyatu dengan kelembutan daging ikan.
Perjalanan kuliner ditutup oleh Jakarta melalui Nasi Kecombrang. Hidangan ini dipilih sebagai representasi kota pelabuhan yang sejak berabad-abad menjadi titik pertemuan aneka budaya, etnis, serta tradisi kuliner dari berbagai wilayah.
Tema Maritim Dan Komitmen Tugu Hotels
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9315909/original/022974100_1785902645-unnamed__3_.jpg)
Jika dinikmati satu per satu, seluruh menu tersebut merupakan hidangan khas daerah. Namun ketika disusun menjadi satu rangkaian bersantap, tiap sajian menghadirkan potongan cerita tentang bagaimana alur sungai dan laut membentuk kekayaan rasa Indonesia.
Melalui tema Nenek Moyangku Seorang Pelaut, Tugu Hotels & Restaurants tidak hanya menawarkan pengalaman mencicipi hidangan Nusantara, tetapi juga mengajak tamu melihat makanan sebagai bagian dari sejarah bangsa. Setiap resep lahir dari perjalanan manusia, perdagangan, dan pertukaran budaya yang berlangsung selama ratusan tahun.
Lewat pengalaman kuliner ini, Tugu Hotels kembali menegaskan komitmen merawat warisan budaya Indonesia. Bukan semata melalui koleksi artefak, bangunan bersejarah, maupun karya seni yang menjadi ciri khasnya, melainkan juga lewat resep-resep tradisional yang terus dihidupkan agar dinikmati generasi masa kini.
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9316075/original/017563100_1785912131-cek_fakta_-_OJK_pinjaman_online__pinjol_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9315947/original/020958800_1785905048-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-08-05T114257.981.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5180934/original/084797400_1743849572-20250405-Monas-HER_4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8714532/original/000144500_1782797436-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-06-30T122233.633.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9315910/original/090806300_1785902645-unnamed__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9313977/original/089455200_1785728507-WhatsApp_Image_2026-08-03_at_10.40.29.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9314530/original/088127400_1785749236-WhatsApp_Image_2026-08-01_at_5.49.09_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9308407/original/032727000_1785140188-max-griss-WkscgH9qUa0-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9312584/original/002523800_1785513007-WhatsApp_Image_2026-07-31_at_18.32.05__2_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9311454/original/023435700_1785402764-Media_Asset_-_Mie_Sapi_Gajahan.jpg.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4186742/original/058119100_1665397609-Tiong_Bahru_Bakery_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3026682/original/084553100_1579498553-ola-mishchenko-VRB1LJoTZ6w-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9309763/original/027452200_1785253311-haruuuu_chan_1779797811_3905547904349950818_3077089599.jpg)