Ketika Selera Konsumen Mengubah Wajah Bisnis Kuliner

Perubahan selera konsumen mendorong bisnis kuliner beradaptasi, dari menghadirkan pengalaman hingga memperkuat rantai pasok pangan.

Diterbitkan 18 September 2026, 21:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Perubahan selera konsumen ikut mengubah cara pelaku usaha mengembangkan bisnis kuliner. Makanan dan minuman tidak lagi hanya hadir sebagai produk untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, tapi berkembang menjadi bagian dari gaya hidup dan ruang interaksi sosial.

Perkembangan tersebut membuat pelaku industri perlu memahami kebiasaan, preferensi, serta alasan konsumen memilih sebuah produk. Bisnis food and beverage (F&B) juga menghadapi kebutuhan untuk menciptakan pengalaman yang membuat konsumen tidak sekadar datang sekali, namun memiliki alasan untuk kembali.

CEO Erajaya Food & Nourishment (EFN), Jeremy Sim, mengatakan perubahan perilaku konsumen menjadi salah satu pertimbangan dalam mengembangkan portofolio bisnis di sektor makanan, grocery, dan lifestyle.

"Bagi kami, bisnis F&B bukan hanya tentang menjual produk makanan dan minuman, namun juga bagaimana membangun lifestyle dan community di sekitar sebuah konsep," katanya di acara media gathering di Jakarta, Rabu, 16 September 2026.

Menurut dia, setiap segmen konsumen memiliki kebutuhan yang berbeda. Pelaku bisnis perlu menawarkan value proposition yang relevan agar mampu menarik konsumen baru, sekaligus mempertahankan pelanggan yang sudah ada.

Strategi tersebut mendorong EFN melihat peluang F&B tidak semata-mata melalui penambahan merek. Perusahaan juga mempertimbangkan relevansi sebuah bisnis terhadap konsumen Indonesia, potensi pertumbuhan, serta kemampuannya berkembang dalam skala besar.

Bisnis supermarket, misalnya, tidak hanya menghadirkan beragam produk, tapi juga berupaya memberikan kombinasi kualitas, kelengkapan, variasi, dan harga yang kompetitif.

 

Pentingnya Persepsi Harga

Persepsi harga menjadi salah satu aspek yang terus diperhatikan dalam menghadapi kebutuhan konsumen yang beragam. Pihaknya melakukan evaluasi harga secara berkala terhadap sejumlah kebutuhan sehari-hari untuk menjaga nilai yang diterima pelanggan.

Pengalaman berbelanja juga menjadi bagian dari upaya membangun hubungan yang lebih dekat dengan konsumen. Bisnis grocery memiliki frekuensi interaksi yang tinggi karena masyarakat membeli kebutuhan pangan dan rumah tangga secara rutin.

Kedekatan tersebut memberikan peluang bagi pelaku usaha untuk memahami pola permintaan dengan lebih baik. Informasi mengenai produk yang diminati konsumen dapat membantu perusahaan mengambil keputusan hingga ke sisi hulu rantai pasok.

EFN kemudian melihat penguatan rantai pasok sebagai bagian penting dalam pengembangan bisnis grocery. Mereka bermaksud mengeksplorasi hubungan yang lebih dekat dengan pemasok, petani, dan pelaku usaha yang berada di dalam ekosistem pangan.

 

Rantai Pasok Lebih Efisien

Jeremy menjelaskan, hubungan langsung dengan petani dapat membuka peluang untuk membangun rantai pasok yang lebih efisien. "Ketika kami memahami kebutuhan konsumen di hilir, informasi tersebut bisa diteruskan ke sisi hulu sehingga petani memiliki gambaran yang lebih jelas mengenai produk yang dibutuhkan pasar," kata dia.

Pendekatan tersebut dapat membantu pelaku pertanian menentukan jenis produk berdasarkan permintaan pasar. Perusahaan juga melihat peluang memberikan dukungan berupa teknologi, infrastruktur, input pertanian, serta informasi pasar pada petani.

EFN mengeksplorasi penggunaan model pertanian modern, termasuk greenhouse dan hydroponic farming. Model tersebut berpotensi membantu produsen menghadapi perubahan kondisi cuaca sekaligus menjaga konsistensi pasokan.

 

Skema Offtake

Penguatan hubungan dari petani hingga konsumen juga membuka peluang penerapan skema offtake. Mekanisme tersebut dapat memberikan akses pasar yang lebih jelas bagi hasil pertanian sekaligus membantu bisnis memperoleh pasokan yang sesuai dengan kebutuhan.

Perubahan selera konsumen pada akhirnya tidak hanya memengaruhi produk yang berada di rak supermarket atau daftar menu. Pergeseran tersebut ikut mendorong perubahan pada cara perusahaan mengelola rantai pasok, membaca permintaan, dan membangun hubungan dengan pelanggan.

EFN juga melihat peluang untuk mengembangkan bisnis lokal yang memiliki fundamental kuat. Indonesia menawarkan basis konsumen yang besar sehingga perusahaan dapat menggunakan pasar domestik sebagai fondasi sebelum membawa bisnis tertentu ke pasar internasional.

 

Pengembangan Merek Lokal

Pengembangan merek lokal menjadi bagian dari pandangan tersebut. Produk yang relevan, value proposition yang kuat, serta kemampuan menjangkau konsumen dalam skala luas menjadi sejumlah faktor yang diperhatikan untuk membangun bisnis yang dapat berkembang lebih jauh.

Pertumbuhan bisnis F&B juga menuntut kemampuan beradaptasi karena industri tersebut mencakup banyak tahapan. Pengembangan produk, produksi, quality control, distribusi, serta pengelolaan masa kedaluwarsa membutuhkan proses pembelajaran yang berkelanjutan.

EFN membuka ruang kolaborasi dan pertukaran pengetahuan dengan pelaku industri, serta entrepreneur F&B. Portofolio perusahaan ke depan akan mempertimbangkan relevansi terhadap konsumen, potensi skala, kekuatan rantai pasok, dan kemampuan menciptakan nilai dalam jangka panjang.

Strategi tersebut menempatkan perubahan kebutuhan konsumen sebagai salah satu faktor penting dalam membentuk arah bisnis food and nourishment.