Cara Berhenti Jadi People Pleaser di Tempat Kerja agar Tak Terjebak Selalu Mengiyakan

Kebiasaan selalu mengiyakan permintaan di kantor bisa memicu stres. Kenali batasan dan mulai belajar berkata tidak dengan tegas agar tak jadi people pleaser.

Diterbitkan 02 September 2026, 07:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - People pleaser di tempat kerja sering berusaha melakukan berbagai hal untuk membuat rekan kerja atau atasan merasa senang. Kebiasaan selalu membantu dan sulit menolak permintaan dapat terlihat sebagai sikap positif, tapi pola tersebut bisa membuat seseorang mengabaikan kebutuhan sendiri.

Beban pekerjaan yang bertambah, waktu istirahat yang berkurang, serta tekanan untuk memenuhi ekspektasi orang lain dapat muncul ketika seseorang terus mengatakan iya. Pekerja yang memiliki kecenderungan people pleasing biasanya sulit menolak permintaan, melansir Very Well Mind, Kamis, 13 Agustus 2026.

Ia juga terlalu memikirkan penilaian orang lain, merasa bersalah setelah mengatakan tidak, dan khawatir dianggap egois. Di lingkungan profesional, perilaku tersebut dapat terlihat ketika seseorang menerima tugas tambahan meski pekerjaan utamanya belum selesai.

Ia pun menyetujui pendapat yang sebenarnya tidak disukai, atau mengambil tanggung jawab atas kesalahan yang bukan menjadi bagiannya. "Tidak" tidak harus disertai penjelasan panjang untuk menjadi jawaban yang sah.

Prinsip tersebut menjadi salah satu langkah penting bagi pekerja yang ingin keluar dari kebiasaan people pleasing. Seseorang perlu memahami bahwa menetapkan batasan bukan berarti menolak membantu, melainkan menentukan bantuan yang masih sesuai dengan kapasitas dan tanggung jawabnya.

 

Langkah pertama dapat dimulai dengan mengenali batas kemampuan. Pekerja perlu mengetahui jumlah pekerjaan yang sedang ditangani, tenggat yang harus dipenuhi, serta energi yang tersedia sebelum menerima permintaan baru.

Jangan Korbankan Pekerjaan Utama

Ketika seorang rekan meminta bantuan, jangan langsung memberikan jawaban. Beri waktu untuk mempertimbangkan apakah permintaan tersebut memang bisa dipenuhi tanpa mengorbankan pekerjaan utama.

Menunda jawaban juga membantu seseorang mengambil keputusan secara lebih objektif. Kalimat seperti "Saya cek pekerjaan saya terlebih dahulu" atau "Saya perlu melihat jadwal sebelum memastikan" dapat memberikan ruang untuk berpikir.

Cara ini lebih sehat dibandingkan mengatakan iya secara spontan, lalu merasa tertekan karena harus menyelesaikan terlalu banyak pekerjaan. Pekerja juga dapat mulai berlatih mengatakan tidak melalui permintaan sederhana.

Tolak tugas kecil yang tidak mendesak ketika kapasitas sudah penuh. Sampaikan pendapat dalam diskusi tanpa terus mengikuti suara mayoritas. Latihan tersebut membantu membangun rasa percaya diri sebelum menghadapi situasi kerja yang lebih sulit.

 

Menentukan Prioritas

Menentukan prioritas menjadi bagian penting dalam menghentikan people pleasing. Setiap permintaan perlu dibandingkan dengan tanggung jawab utama dan target pekerjaan.

Jika tugas tambahan berpotensi mengganggu pekerjaan yang memiliki tenggat lebih dekat, pekerja dapat menjelaskan kondisi tersebut pada rekan kerja atau atasan. Pekerja juga perlu menghindari kebiasaan membuat alasan berlebihan saat menolak.

Penjelasan yang terlalu panjang justru dapat membuka ruang bagi orang lain untuk menawar atau mengubah permintaan agar tetap mendapatkan bantuan. Sampaikan penolakan secara langsung, sopan, dan jelas. Contohnya, "Saya belum bisa mengambil tugas ini karena sedang menyelesaikan pekerjaan dengan tenggat hari ini."

People pleasing juga dapat muncul karena rasa tidak aman, kepercayaan diri yang rendah, perfeksionisme, atau pengalaman masa lalu. Seseorang mungkin mencari penerimaan dari orang lain dengan menjadi sangat membantu.

Tak Langsung Berubah Dramatis

Pekerja perlu membedakan motivasi membantu karena memang ingin membantu dengan tindakan yang muncul karena takut tidak disukai. Kebiasaan selalu mengutamakan orang lain dapat membawa sejumlah dampak.

Pekerja bisa mengalami frustrasi ketika terus menerima tugas yang sebenarnya tidak ingin dilakukan. Tekanan untuk memenuhi ekspektasi banyak orang juga dapat meningkatkan stres dan kecemasan. Energi mental yang seharusnya digunakan untuk mencapai tujuan pribadi atau menyelesaikan pekerjaan utama dapat ikut terkuras.

 

Perubahan tidak perlu berlangsung secara drastis. Mulailah dengan mengenali permintaan yang tidak mendesak, memberi jeda sebelum menjawab, menentukan prioritas, lalu menyampaikan batasan dengan tegas.

 Ketika seseorang mulai menghargai kapasitasnya sendiri, mengatakan tidak di tempat kerja tidak lagi terasa sebagai tindakan egois, melainkan bagian dari cara menjaga produktivitas dan kesejahteraan diri.