Petani Sawit Swadaya Dapat Dukungan Rantai Pasok Berkelanjutan

WWF-CPOPC memperkuat rantai pasok sawit berkelanjutan dengan memastikan petani swadaya tetap memiliki akses ke pasar global.

Diterbitkan 18 September 2026, 20:34 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • WWF-Indonesia dan CPOPC bermitra dukung petani sawit swadaya berkelanjutan.
  • Kemitraan "Green Partnership" fokus transparansi, sertifikasi, dan produksi bertanggung jawab.
  • Tujuannya agar petani kecil dapat akses pasar global dan penuhi standar keberlanjutan.

Liputan6.com, Jakarta - WWF-Indonesia dan Council of Palm Oil Producing Countries (CPOPC) mendukung petani swadaya dalam menjaga rantai pasok sawit berkelanjutan sekaligus memastikan mereka tetap memiliki akses ke pasar global.

Kemitraan bertajuk Green Partnership ini mencakup transparansi rantai pasok, sertifikasi, produksi bertanggung jawab, pelestarian keanekaragaman hayati, serta pelibatan petani swadaya. Kerja sama tersebut ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) di Pullman Thamrin Jakarta, Jumat (18/9/2026).

Sekretaris Jenderal CPOPC Izzana Salleh mengatakan petani kecil masih membutuhkan dukungan agar dapat berpartisipasi dalam rantai pasok berkelanjutan.

"Karena itulah kemitraan seperti yang kami resmikan hari ini bersama WWF-Indonesia menjadi sangat penting. Dengan memadukan keahlian, pengalaman, dan jejaring masing-masing, kita dapat mewujudkan komitmen bersama, aksi yang bermakna, dan inklusif," ujar Izzana.

Menurutnya, skema sertifikasi keberlanjutan nasional seperti Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) dan Malaysian Sustainable Palm Oil (MSPO) menunjukkan komitmen negara produsen dalam meningkatkan praktik keberlanjutan.

Kolaborasi Perkuat Komoditas Perkebunan Berkelanjutan

Sementara itu, CEO WWF-Indonesia Aditya Bayunanda menilai penguatan komoditas perkebunan berkelanjutan membutuhkan kolaborasi antara negara produsen, pelaku usaha, lembaga sertifikasi, masyarakat sipil, petani swadaya, dan pasar global.

"Mewujudkan kredibilitas komoditas perkebunan berkelanjutan dibutuhkan negara produsen, termasuk pelaku usaha, lembaga sertifikasi, masyarakat sipil, petani swadaya, dan pasar global. Bagi kami, komoditas perkebunan berkelanjutan bukan sekadar isu rantai pasok, tetapi upaya menjaga keanekaragaman hayati Indonesia," ujar Aditya.

Pembahasan mengenai petani swadaya kemudian dilanjutkan melalui webinar "Leave No Smallholder Behind: Making EUDR Compliance an Opportunity for Inclusive Development".

Forum tersebut membahas tantangan penerapan European Union Deforestation Regulation (EUDR), khususnya terkait geolokasi, ketertelusuran, dan dokumentasi yang dapat memengaruhi akses petani kecil ke rantai pasok global.

Melalui kerja sama ini, WWF-Indonesia dan CPOPC mendorong agar transisi menuju rantai pasok sawit berkelanjutan berjalan secara inklusif. Petani kecil diharapkan tidak tertinggal dalam penerapan standar keberlanjutan sekaligus tetap dapat berpartisipasi dalam pasar global.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6