Pencarian Panjang 5 Jurnalis dan 3 Awak Kapal di Selat Sunda

Keberadaan mereka hingga kini belum diketahui.

Diterbitkan 18 September 2026, 05:01 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Sudah lebih dari sepekan pencarian lima jurnalis dan tiga awak kapal yang hilang kontak di perairan Selat Sunda dilakukan. Waktu terus berlalu. Namun keberadaan mereka hingga kini belum diketahui.

Rombongan jurnalis tersebut berangkat dari kawasan Carita, Kabupaten Pandeglang, Banten, pada Senin, 7 September 2026 sekitar pukul 14.00 WIB. Mereka menumpangi speedboat Arupadhatu 1 dengan tujuan memotret aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Sekitar pukul 18.13 WIB, kru speedboat sempat mengabari rekannya bahwa kondisi mereka aman. Mereka juga mengirimkan foto aktivitas Gunung Anak Krakatau. Namun, beberapa menit kemudian, komunikasi dengan rombongan terputus.

Sejak saat itu, pencarian terhadap lima jurnalis dan tiga awak kapal di dalam speedboat terus dilakukan. Lima jurnalis tersebut yakni M. Bagus Khoirunnas (28) dari ANTARA, Ari Basuki (52) dari Merdeka.com, Yudhis (43) dari iNews, Daus (42) dari Anadolu, serta Donal (51), jurnalis lepas.

Sementara tiga awak kapal adalah Warta (55) selaku kapten kapal, Surakman (60) sebagai anak buah kapal (ABK), dan Heriyanto (49) sebagai pemandu.

Berbagai upaya dilakukan untuk menemukan mereka. Mulai dari pencarian di permukaan laut hingga penyisiran sejumlah wilayah yang diperkirakan berkaitan dengan jalur perjalanan.

Pada hari-hari awal, pencarian difokuskan di sekitar jalur perjalanan rombongan menuju Gunung Anak Krakatau. Tim menyisir perairan dari arah Carita hingga kawasan sekitar Anak Krakatau, termasuk sejumlah pulau di sekitarnya.

Tim pencarian dibagi lima kelompok atau Search and Rescue Unit (Sru). Sru pertama menggunakan KN SAR Tetuka, dengan area jangkauan 68 NM.

Sru kedua menggunakan kapal KAL Anyer, milik TNI AL, jarak pencarian 69 NM. Sru ketiga berasal dari Basarnas Lampung, menggunakan RIB 01 dan 03, dengan luas pencarian 67 NM.

Kemudian Sru 5 menggunakan KP Sanjaya milik Polairud Polda Banten, untuk jarak pencarian 67 NM.

"Untuk pencarian kita perluas," ujar Kasie Ops Basarnas Banten, Riski Dwi, Rabu (9/9/2026).

Memasuki hari kedua, pencarian belum menemukan petunjuk kuat. Tim SAR terus bergerak dengan mengandalkan kapal dan pengamatan visual. Kondisi di sekitar Gunung Anak Krakatau menjadi salah satu tantangan karena aktivitas vulkanik masih berlangsung.

Salah satu lokasi yang menjadi sorotan adalah Pulau Sertung. Tim SAR belum dapat melakukan penyisiran langsung di pulau tersebut karena berada dalam radius 3 kilometer dari Gunung Anak Krakatau yang masuk kawasan rawan. Pemantauan tetap dilakukan dari sejumlah titik menggunakan teropong.

Upaya menggunakan drone juga dilakukan. Namun, kabut asap tebal di sekitar lokasi membuat pemantauan dari udara belum maksimal. Basarnas terus berkoordinasi dengan BMKG dan PVMBG untuk mendapatkan informasi mengenai cuaca serta aktivitas gunung sebelum menentukan langkah pencarian.

Sisir Laut hingga Mulut Samudra Hindia

Pencarian kemudian semakin luas. Pada hari ketiga, sejumlah kapal dikerahkan untuk menyisir wilayah yang telah dibagi berdasarkan sektor.

Salah satu perjalanan pencarian dilakukan KN SAR Tetuka. Kapal tersebut berangkat dari Pelabuhan Ciwandan, Cilegon, pada Kamis, 10 September 2026 sekitar pukul 08.00 WIB.

Kapal membawa personel dari sejumlah unsur SAR, termasuk Basarnas, Bakamla, Polairud Polda Banten, dan Ditjen Hubla.

KN SAR Tetuka mendapat wilayah pencarian dari sekitar Pulau Rakata Besar hingga mulut Samudra Hindia. Dari atas kapal, tim melihat Gunung Anak Krakatau dan Pulau Sertung dari kejauhan.

Penyisiran kemudian diarahkan semakin jauh ke arah mulut Samudra Hindia. Kapal mencapai wilayah tersebut sekitar pukul 13.20 WIB, atau sekitar 30 mil laut dari Rakata Besar.

Namun, hingga sejauh itu pencarian belum menemukan objek yang dapat menjadi tanda keberadaan lima jurnalis dan tiga awak speedboat Arupadhatu 1. Tim kemudian kembali melakukan penyisiran dengan pola creeping line, yakni bergerak bolak-balik secara sistematis untuk mencakup area pencarian.

"Upaya pencarian akan terus kami lakukan secara maksimal," kata Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Banten, Al Amrad.

Temuan yang Belum Menjawab Keberadaan Rombongan

Di tengah pencarian, sejumlah benda ditemukan tim SAR. Salah satunya sebuah life jacket berwarna oranye dan buoy yang ditemukan KAL Anyer pada 10 September.

Temuan tersebut sempat menjadi perhatian karena ditemukan di sekitar wilayah pencarian. Namun, TNI AL menegaskan benda-benda itu belum dapat dipastikan berkaitan dengan rombongan Arupadhatu 1. Barang tersebut kemudian diamankan untuk dilakukan identifikasi lebih lanjut.

Temuan lainnya juga muncul pada hari-hari berikutnya. Tim SAR menemukan dua life jacket, helm proyek, dan jeriken. Lagi-lagi, belum ada kepastian bahwa barang-barang tersebut berasal dari speedboat yang ditumpangi lima jurnalis dan tiga awak kapal.

Bagi tim pencarian, setiap temuan tetap diperiksa. Namun, tanpa kepastian mengenai asal benda tersebut, pencarian tidak bisa langsung diarahkan pada kesimpulan tertentu.

Memasuki hari keempat, pencarian tidak lagi hanya mengandalkan laut. Tim SAR gabungan memperluas penyisiran hingga wilayah pesisir Bengkunat, Kabupaten Pesisir Barat, Lampung.

Area pencarian dibagi menjadi empat sektor dengan luas keseluruhan mencapai 3.216 mil laut persegi. Sejumlah armada bergerak secara bersamaan sesuai sektor masing-masing, sementara personel SAR juga menyisir kawasan pesisir melalui jalur darat.

Perluasan ini dilakukan untuk membuka kemungkinan baru. Jika rombongan tidak ditemukan di jalur laut yang telah disisir, tim juga memeriksa kawasan pesisir yang secara geografis masih mungkin berkaitan dengan pergerakan mereka.

Hari berganti, tetapi hasil pencarian belum berubah. Memasuki hari kelima, Tim SAR kembali memperluas operasi dengan mengerahkan 14 kapal yang dibagi ke dalam tujuh sektor.

Salah satu operasi dilakukan Kapal Polisi Sanjaya. Kapal tersebut menempuh perjalanan sekitar 80 mil atau 140 kilometer dengan waktu tempuh kurang lebih delapan jam untuk melakukan pemantauan di sekitar kawasan Pulau Sertung. Hasilnya masih nihil.

Cuaca Menjadi Tantangan

Pencarian tidak selalu berlangsung dalam kondisi ideal. Cuaca dan jarak pandang menjadi tantangan yang terus dihadapi tim SAR.

Pada hari ketujuh, kabut tebal membuat jarak pandang hanya sekitar 1 hingga 1,5 mil laut. Kondisi tersebut membatasi pengamatan visual yang menjadi salah satu metode penting dalam pencarian di laut.

Tim SAR Lampung yang menggunakan KN SAR Basudewa juga belum dapat melakukan penyisiran secara maksimal di sejumlah wilayah, termasuk kawasan Teluk Semangka hingga sekitar Pulau Tabuan. Kecepatan angin yang cukup tinggi dalam beberapa hari sebelumnya turut menyulitkan pergerakan armada.

Meski demikian, operasi tidak dihentikan. Setelah mengevaluasi pencarian sejak hari pertama hingga hari ketujuh, Tim SAR memutuskan memperpanjang operasi selama tiga hari, hingga Kamis, 17 September 2026.

Kekuatan personel dan peralatan tetap digunakan, dengan penyesuaian terhadap kondisi cuaca. Pemantauan dari udara juga dipertimbangkan, tetapi pengerahan helikopter harus memperhitungkan kondisi angin serta keberadaan debu vulkanik dari Gunung Anak Krakatau.

Menelusuri Kembali Titik Temuan

Memasuki hari kedelapan, pencarian kembali diarahkan ke sejumlah lokasi yang sebelumnya menjadi titik ditemukannya barang.

Tim SAR memfokuskan penyisiran pada area sekitar 3.963 mil laut persegi. Data arus dan gelombang dari BMKG digunakan sebagai salah satu pertimbangan untuk menentukan wilayah yang perlu diperiksa kembali.

Penyisiran juga dilakukan melalui jalur darat, mulai dari Pantai Carita menuju Pantai Anyer. Tim berjalan kaki menyisir kawasan pesisir dan sejumlah titik yang dinilai masih memiliki kemungkinan berkaitan dengan pencarian.

Pada hari kesembilan, kekuatan pencarian kembali diperbesar. Sebanyak 22 kapal dikerahkan dan area laut dibagi menjadi delapan sektor. Pencarian juga didukung dua drone thermal Basarnas serta pemantauan wilayah pesisir Pulau Enggano dan perairan Bengkulu.

Namun, hingga operasi hari kesembilan berakhir, belum ada tanda kuat mengenai keberadaan delapan orang tersebut.

Sebuah terpal hijau berukuran sekitar 10 x 10 meter ditemukan KN SAR Tetuka pada 16 September sekitar pukul 11.42 WIB. Benda itu diduga terbawa arus, tetapi setelah dilakukan pemeriksaan, diketahui speedboat yang dicari tidak membawa terpal tersebut. Karena itu, temuan tersebut tidak dapat dikaitkan dengan rombongan yang hilang.

Selain menyisir laut, Tim SAR juga meminta informasi dari kapal-kapal yang melintas di jalur pelayaran Selat Sunda. Informasi disebarkan melalui e-broadcast untuk memperluas kemungkinan adanya kapal yang melihat atau menemukan sesuatu berkaitan dengan pencarian. Namun, hingga hari kesembilan belum ada laporan yang mengarah pada keberadaan korban.

Pencarian Ditutup

Kamis, 17 September 2026 menjadi hari ke-10 sekaligus hari terakhir dari perpanjangan operasi SAR. Tim SAR gabungan kembali memperluas cakupan pencarian hingga mencapai sekitar 8.508 mil laut persegi.

Sebanyak 24 kapal dikerahkan dan area pencarian dibagi menjadi 10 sektor. Armada tersebut terdiri atas delapan kapal TNI AL, delapan kapal Polairud, tujuh kapal Basarnas, dan satu kapal KPLP.

Pencarian juga kembali menyentuh wilayah daratan. Tim menyisir pesisir Carita hingga Pantai Anyer untuk memastikan tidak ada area yang terlewat dalam operasi hari terakhir.

Sepuluh hari telah berlalu sejak Arupadhatu 1 terakhir diketahui keberadaannya. Laut Selat Sunda telah disisir dari sekitar Carita, kawasan Gunung Anak Krakatau, pulau-pulau di sekitarnya, hingga wilayah yang mengarah ke Samudra Hindia dan pesisir Sumatra.

Namun, hingga hari terakhir operasi pencarian, keberadaan lima jurnalis dan tiga awak kapal tersebut belum ditemukan. Karena tak ada tanda-tanda keberadaan mereka, Basarnas memutuskan menutup pencarian.

"Aturan kami di Basarnas ini, operasi SAR tujuh hari, ketujuh juga kita lakukan pencarian tidak ada tanda-tanda, objek juga, tadi sudah disampaikan Polair dan TNI AL juga. Kalau kami mengacu pada peraturan kami tersebut, seharusnya kita sudah closed," ujar Kepala Basarnas Banten, Al Amrad, Kamis, (17/09/2026).

Ke depannya, jika ada informasi temuan material terkait kapal Arupadhatu 1 beserta penumpangnya, maka operasi SAR bisa dibuka kembali.

Penyampaian informasi keseluruhan kapal yang melintas Selat Sunda akan terus dilakukan. Nelayan hingga masyarakat yang mengetahui informasi terkait Arupadhatu 1, bisa segera melapor ke kantor polisi terdekat atau langsung ke Basarnas Banten.

"Kami juga sudah menyampaikan e-brodcast, ke seluruh kapal yang melintas di Selat Sunda. Termasuk pencarian ke pulau-pulau tersebut (sekitar Selat Sunda). Kami akan memperkuat lagi dengan e-brodcast, jika ada informasi atau temuan, tentu akan kami tindak lanjuti," jelasnya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6