Kolaborasi Lintas Negara Jadi Kunci Hadapi Krisis Iklim di Asia Tenggara

Sebanyak 500 peserta dari Asia Tenggara berkumpul membahas krisis iklim

Diterbitkan 10 September 2026, 12:34 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Pegiat iklim Asia Tenggara berkolaborasi atasi krisis, manfaatkan teknologi digital.
  • Al Gore perkenalkan Climate TRACE, platform pelacak emisi gas rumah kaca global.
  • Pelatihan ini tekankan kepemimpinan, jejaring, dan kolaborasi regional untuk aksi iklim.

Liputan6.com, Jakarta - Pegiat iklim di Asia Tenggara berkolaborasi dalam merumuskan penanganan krisis iklim yang terus berkembang, salah satunya dengan memanfaatkan teknologi digital.

Pemabahasan tersebut digagas oleh The Climate Reality Project kegiatan program Climate Reality Leadership Corps Training.Kegiatan tersebut mempertemukan 500 peserta dari berbagai negara di Asia Tenggara untuk memperkuat pengetahuan, keterampilan, jejaring, dan kepemimpinan dalam menghadapi krisis iklim.

Program tersebut membahas perkembangan ilmu pengetahuan iklim, ketahanan energi ASEAN, pembiayaan solusi iklim, ketahanan pangan dan air, kesehatan, kepemimpinan kaum muda, mobilitas hijau, serta berbagai keterampilan untuk mendorong aksi iklim.

Al Gore, mantan Wakil Presiden Amerika Serikat sekaligus pendiri dan Chairman The Climate Reality Project, menyampaikan presentasi utama mengenai perkembangan krisis iklim, dampaknya yang semakin nyata, serta berbagai solusi yang tersedia, dengan perhatian khusus pada Asia Tenggara.

Ia juga memaparkan Climate TRACE, platform berbasis data yang memungkinkan sumber dan lokasi emisi gas rumah kaca di berbagai belahan dunia dilacak secara lebih rinci.

"Sehingga dapat mendukung aksi iklim yang lebih terarah," kata Al Gore, Kamis (10/9/2026).

 

Berbagi Pengalaman

Dalam sesi tersebut, salah satu panelis, Amanda Katili Niode, Direktur The Climate Reality Project Indonesia (2009–2026) dari Omar Niode Foundation, berbagi pengalaman selama lebih dari 17 tahun membangun komunitas Climate Reality Leaders yang telah mengikuti program bersama Al Gore, para ilmuwan, dan komunikator.

"Nilai sebuah pelatihan tidak berhenti ketika acara selesai, tetapi terlihat dari bagaimana para Climate Reality Leaders terus membawa pengetahuan tersebut ke lingkungan masing-masing, memperkuat jejaring, dan mengajak lebih banyak orang berpartisipasi," kata Amanda.

Ia juga mengangkat bagaimana sebuah pelatihan dapat berkembang menjadi gerakan melalui keterlibatan generasi muda, komunikasi publik, kerja bersama komunitas, serta berbagai karya kolaboratif yang menghubungkan isu iklim dengan cerita, visual, dan pengalaman manusia.

Pengalaman Indonesia tersebut kini memasuki babak baru melalui The Climate Reality Project Asia, yang menghubungkan lebih dari 4.000 Climate Reality Leaders dari berbagai negara di kawasan dan membuka peluang lebih luas bagi pertukaran pengalaman, pembelajaran bersama, serta kolaborasi lintas negara.

Pelatihan ini menekankan pentingnya kepemimpinan iklim yang tidak hanya bertumpu pada pengetahuan, tetapi juga pada kemampuan membangun jejaring, menggerakkan komunitas, dan memperkuat kolaborasi regional untuk mempercepat aksi iklim di Asia Tenggara.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6