Begini Kondisi Sebaran Debu Vulkanik Anak Krakatau Pagi Ini

MAGMA Indonesia juga tidak mendeteksi erupsi baru.

Diterbitkan 10 September 2026, 07:22 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • BMKG tidak mendeteksi debu vulkanik Anak Krakatau pada 10 September 2026.
  • Abu vulkanik Anak Krakatau berubah arah dari barat laut ke barat daya pada 9 September.
  • Perubahan arah abu dipengaruhi angin; masyarakat diminta pantau informasi terbaru.

Liputan6.com, Jakarta - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan kondisi terbaru sebaran debu vulkanik Gunung Anak Krakatau, Kamis (10/9/2026).

Disebutkan, sebaran debu vulkanik Gunung Anak Krakatau tidak terdeteksi dalam analisis citra RGB Himawari-9 yang dilakukan pada 10 September 2026 pukul 04.00 WIB.

"Sebaran debu vulkanik Gunung Anak Krakatau tidak terdeteksi," demikian seperti dikutip dari laman BMKG.

Sementara itu, MAGMA Indonesia (Multiplatform Application for Geohazard Mitigation and Assessment in Indonesia) mencatat Gunung Anak Krakatau tidak terpantau kembali erupsi pada Kamis.

Tercatat, erupsi terjadi pada Rabu 9 September 2026, pukul 00.47 WIB. Meskipun mengalami letusan, aktivitas vulkanik tersebut tidak dapat diamati secara visual.

 

Analisis BMKG Abu Vulkanik Anak Krakatau Berubah Arah

Sebelumnya, sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau (GAK) mengalami perubahan arah, Rabu (9/9/2026) siang. Jika pada pagi hari abu vulkanik bergerak ke arah barat laut dan berpotensi masuk ke wilayah Teluk Lampung, siang ini sebarannya justru cenderung menjauh dari wilayah Lampung.

Berdasarkan analisis citra satelit Himawari-9 yang dilakukan BMKG pada pukul 13.00 WIB, sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau teridentifikasi bergerak ke arah barat daya.

Pada ketinggian permukaan hingga sekitar 5.000 kaki atau 1,5 kilometer, abu vulkanik terpantau mengarah ke barat daya. Sebarannya mencakup sebagian wilayah Selat Sunda hingga bagian barat Pandeglang.

Prakirawan BMKG Radin Inten Lampung, Yoyok Dewantoro mengatakan, perubahan arah sebaran abu vulkanik dipengaruhi kondisi angin pada lapisan atmosfer.

"Untuk kondisi siang ini, berdasarkan analisis citra satelit, sebaran abu vulkanik lebih mengarah ke barat daya sehingga cenderung menjauh dari wilayah Lampung. Sebelumnya pada pagi hari, sebaran bergerak ke barat laut dan berpotensi memengaruhi wilayah Teluk Lampung," kata Yoyok, Rabu (9/9/2026).

Yoyok menjelaskan, arah sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau dapat berubah mengikuti pola dan kecepatan angin pada ketinggian yang berbeda.

Karena itu, masyarakat diminta tetap memantau perkembangan terbaru aktivitas Gunung Anak Krakatau serta informasi mengenai arah sebaran abu vulkanik.

"Perubahan arah sebaran ini sangat bergantung pada pola dan kecepatan angin. Jadi masyarakat tetap perlu memperhatikan informasi terbaru karena arah sebaran abu dapat berubah sewaktu-waktu," jelasnya.

Meski sebaran abu pada lapisan rendah cenderung menjauh dari Lampung, analisis citra satelit Himawari-9 juga menunjukkan kondisi berbeda pada lapisan atmosfer yang lebih tinggi.

Pada ketinggian hingga sekitar 7.000 kaki atau 2,1 kilometer, sebaran abu vulkanik masih terpantau bergerak ke arah barat laut dan mencakup sebagian wilayah Teluk Lampung.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6