Halimun Salak, Rumah Macan Tutul dan Penyangga Energi

Halimun Salak menyimpan habitat macan tutul sekaligus sumber energi penting.

Diterbitkan 31 Agustus 2026, 18:34 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Taman Nasional Gunung Halimun Salak memiliki peran penting bagi keberlangsungan makhluk hidup. Bentang alam tersebut menjadi habitat berbagai satwa langka sekaligus menopang aktivitas manusia.

Salah satu satwa yang menjadikan kawasan tersebut sebagai habitat adalah macan tutul Jawa (Panthera pardus melas). Sebanyak 51 individu berhasil diidentifikasi melalui pemasangan kamera pengintai di Taman Nasional Gunung Halimun Salak.

Temuan tersebut memberikan gambaran mengenai kondisi populasi predator puncak ekosistem hutan di Pulau Jawa sekaligus menunjukkan tantangan yang masih dihadapi dalam upaya konservasinya.

Sebanyak 240 kamera pengintai dipasang pada 120 petak survei. Dari 119 stasiun kamera yang dapat dianalisis, 113 di antaranya merekam keberadaan macan tutul Jawa.

Peneliti mengidentifikasi 23 individu jantan, 24 betina, serta empat individu yang jenis kelaminnya belum dapat ditentukan.

Selain macan tutul Jawa, kamera pengintai juga merekam berbagai satwa lain, seperti trenggiling, lutung Jawa, surili Jawa, elang Jawa, kucing kuwuk, dan landak Jawa.

Hasil survei menunjukkan macan tutul Jawa lebih banyak terdeteksi di kawasan dengan kondisi hutan yang relatif terjaga.

Direktur Yayasan SINTAS Indonesia, Hariyo T. Wibisono, mengatakan nilai penting temuan tersebut bukan hanya terletak pada jumlah individu yang berhasil diidentifikasi, tetapi juga pada pengetahuan yang dapat digunakan untuk menentukan langkah konservasi berikutnya.

“Angka 51 memberi kita informasi yang sangat berharga, tetapi konservasi tidak berhenti pada berapa individu yang berhasil terekam,” kata Hariyo, Senin (31/8/2026).

Menurut Hariyo, temuan 51 individu macan tutul Jawa tersebut menjadi pemicu untuk terus menjaga habitat dan keberlangsungan hidup satwa tersebut agar tidak punah.

Pasalnya, survei juga merekam adanya tekanan terhadap habitat di sejumlah bagian kawasan, termasuk perburuan, pembalakan, perambahan, dan aktivitas kendaraan.

“Justru, temuan itu membuka pertanyaan mengenai bagaimana menjaga habitat, sumber pakan, dan konektivitas kawasan ketika satwa liar, masyarakat, serta berbagai aktivitas manusia berbagi bentang alam yang sama. Yang lebih penting adalah apakah populasi ini dapat bertahan dalam jangka panjang. Itu bergantung pada kualitas habitat, ketersediaan mangsa, konektivitas antarhabitat, dan bagaimana berbagai tekanan terhadap kawasan dikelola,” ujar Hariyo.

 

Sumber Energi

Selain menjadi habitat satwa liar, Taman Nasional Gunung Halimun Salak juga memiliki sumber daya yang dimanfaatkan untuk mendukung kebutuhan manusia.

Kawasan yang memiliki gunung api tersebut menyimpan potensi energi panas bumi yang telah dimanfaatkan selama lebih dari tiga dekade.

Saat ini, Star Energy Geothermal Salak mengoperasikan pembangkit listrik tenaga panas bumi berkapasitas 403,2 megawatt (MW).

Keberadaan energi panas bumi di bentang alam dengan keanekaragaman hayati tinggi tersebut menunjukkan pentingnya menyelaraskan kebutuhan energi dengan perlindungan biodiversitas. Upaya tersebut tetap perlu memperhatikan prinsip konservasi dan keberlanjutan ekosistem.

Di Halimun-Salak, upaya menjaga keterhubungan ekosistem Gunung Salak dan Gunung Halimun dilakukan melalui pemulihan habitat dan pengembangan Green Corridor. Langkah tersebut juga mencakup pemantauan satwa menggunakan camera trap serta penguatan pengamanan kawasan bersama polisi hutan.

Star Energy Geothermal Salak terlibat dalam sejumlah upaya tersebut sebagai bagian dari pengelolaan lingkungan jangka panjang di sekitar wilayah operasinya.

Upaya tersebut juga menjawab persoalan yang muncul dari kajian JWLS. Jika konektivitas menjadi salah satu faktor penting bagi keberlangsungan populasi, koridor habitat perlu dijaga dan dipulihkan.

Sementara itu, jika perubahan penggunaan ruang perlu dipahami, pemantauan satwa harus berlangsung dalam jangka panjang. Ketika terdapat aktivitas manusia dalam lanskap yang sama, interaksinya dengan satwa liar juga perlu terus diukur.

Data JWLS selanjutnya akan digunakan dalam Population Viability Analysis (PVA) untuk melihat berbagai kemungkinan masa depan populasi macan tutul Jawa dan menentukan intervensi konservasi yang diperlukan.

Hasil analisis tersebut juga akan menjadi salah satu masukan bagi pembaruan Strategi dan Rencana Aksi Konservasi (SRAK) Macan Tutul Jawa.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6