Laporan Liputan6.com dari Nara Jepang: Meracik Bumbu Kare di Toko Obat Herbal Berusia 8 Abad

Kare adalah bukti fusi budaya antara Jepang dan India. Toko obat herbal berusia delapan abad berusaha melestarikannya dengan membuka workshop.

Diterbitkan 07 Juli 2026, 16:57 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Siapa yang tidak familiar dengan kare Jepang? Makanan berempah itu adalah bukti fusi budaya terjadi di Jepang. Dibawa dari India, makanan itu kini berkembang sebagai salah satu comfort food warga setempat. Saya berkesempatan belajar meracik sendiri bumbu kare dipandu oleh Kikuoka Yasumasa, generasi ke-24 pemilik toko obat herbal Kikuoka Kampo.

Bersama rombongan Accor Group, kami tiba di toko tersebut sekitar pukul 3 sore pada pertengahan April 2026. Hujan mengiringi langkah kami menuju toko yang berlokasi di Naramachi, Nara, Jepang, salah satu area bersejarah yang masih tersisa.

Seorang perempuan lanjut usia menyambut kami dan langsung mengantar kami ke halaman samping toko. Di sanalah terdapat ruang workshop meracik bumbu kare berbiaya 3.300 yen (sekitar Rp 366 ribu). Meski mungil, ruang berkapasitas maksimal sekitar 10--12 orang dalam satu sesi itu tertata rapi.

Di meja utama tertata timbangan, air mineral dalam botol, hingga rempah-rempah kering untuk bahan kami meracik. Sebelum dimulai, Yasumasa mempersilakan kami mengenakan celemek dan menyimpan barang-barang kami di pojok ruangan.

Ia lalu menerangkan apa yang harus kami lakukan selama sesi membuat kare. Lalu, kami diminta mengisi form berisi nama yang akan ditempel di kemasan untuk bumbu kare yang kami racik kemudian.

Di masing-masing titik, ia sudah menaruh wadah berisi bumbu kare dasar, timbangan, wadah aluminium, sudip, dan sendok kayu untuk menngambil bahan-bahan kering sesuai takaran. Tersedia pula penjelasan tentang 25 macam rempah untuk bahan kare disertai manfaat kesehatannya. Hanya saja, seluruh penjelasan tertulis dalam bahasa Jepang.

 

 

Campur Rempah Ini dan Itu

Tibalah saatnya kami bereksperimen dengan rempah yang tersedia. Saya coba mengikuti sesuai resep yang ada, dengan penambahan dan pengurangan berat sesuai selera. 

Sebagai penyuka kare sedikit pedas, saya menambahkan bubuk cabai lebih banyak ke dalamnya. Ada pula kunyit dan fenugreek yang aromanya bikin ketagihan. Sementara, angelica membuat saya penasaran karena disebut sebagai bahan khas Jepang untuk kare.

Proses membaui, meracik, dan menimbang itu ternyata cukup memakan waktu. Tidak terasa hampir sejam waktu berlalu ketika Yasumasa masuk untuk mengumpulkan bumbu kare yang kami racik sendiri. Masing-masing dari kami mendapatkan dua bungkus bumbu kare, satu bumbu kare dasar dan satu lagi bumbu kare rempah.

Yasumasa juga menyempatkan menilai bumbu kare buatan kami, apakah cocok untuk dikombinasikan dengan sayur, ikan, ayam, atau daging. Hasilnya, kare buatan saya lebih pas untuk sayur dan ayam. 

 

Kari, Ayurveda, dan Manfaat Kesehatan

Berdasarkan informasi yang tertera pada lembar informasi yang dibagikan, disebutkan bahwa kare atau kari, pada dasarnya menggunakan rempah-rempah yang berfungsi sebagai obat-obatan dalam Ayurveda, sistem pengobatan tradisional India. Zat-zat itu juga diperkenalkan ke Eropa dan China yang kemudian digunakan di negara setempat dengan harapan memberikan efek pengobatan.

Sementara, rempah-rempah tersebut dibawa ke Jepang oleh utusan Jepang ke Tiongkok pada masa Dinasti Tang. Rempah-rempah yang dimaksud adalah kunyit (bahan utama kari), adas, pala, dan cengkeh. Bahan tersebut sangat penting dalam pengobatan tradisional Tiongkok yang disebut kanpo, khususnya mengobati masalah pencernaan. 

Disebutkan pula bahwa kari memberi efek pengobatan berdasarkan hasil studi yang dilakukan Profesor Tei Sotetsu (Mekanisme Pertahanan Biologis) dari Fakultas Kedokteran Universitas Tokyo. Ia sebelumnya meminta enam orang berusia 20-an dan 30-an untuk mengonsumsi bumbu kari tanpa tambahan apa pun, dan mengukur aliran darah otak mereka selama satu jam.

Ia menemukan bahwa aliran darah tetap 2--4 persen lebih tinggi daripada sebelum makan, dan efek serupa diamati pada orang yang berusia lebih dari 65 tahun. Nasi kari adalah hidangan populer di kalangan anak-anak dan remaja, tetapi fakta bahwa hidangan ini meningkatkan aliran darah otak menjadikannya hidangan yang sangat direkomendasikan untuk para lansia.

Sejarah Toko Obat Herbal Kikuoka

Di sisi lain, sejarah toko obat herbal yang kami datangi juga tak kalah menarik. Diketahui bahwa keluarga Kikuoka awalnya berasal dari klan Fujiwara.

Sekitar 800 tahun lalu, pada akhir periode Heian, Lady Eishoin, istri Kiso Yoshinaka, Shogun Asahi yang berada di puncak kejayaan klan Seiwa Genji, mencari banyak obat mujarab untuk meringankan penderitaan rakyat. Ia mempelajari farmakologi di bawah bimbingan cendekiawan terkemuka dan berbudi luhur Tang Ma Teng dan mewariskan obat-obatan herbal yang dipelajarinya kepada keluarga tersebut..

Pada Januari tahun pertama Genryaku, Yoshinaka terbunuh di Awazugahara di Provinsi Omi, dan Eishoin melarikan diri bersama kedua putra Jogen ke kastil keluarga Shirato di Shirato, Provinsi Yamato, di mana Jogen menggantikan posisi keluarga Shirato.

Pada masa pemerintahan Eisho di periode Muromachi, Shirato Hogen Tanehide sangat menyukai bunga krisan dan mempersembahkannya kepada Kaisar Go-Kashiwabara. Kaisar sangat terkesan dan, sebagai hadiah, menganugerahinya nama keluarga Kikuoka dan desain krisan terbalik, dan setelah itu mengubah nama Shirato menjadi Kikuoka.

Sebelumnya, pada tahun Bunmei 12, ia pindah ke Jalan Sanjo dan diangkat ke posisi penting sebagai anggota kantor pemerintahan Nanto oleh istana kekaisaran. Selama beberapa generasi, Kikuoka bertanggung jawab untuk melindungi Kuil Kasuga Taisha dan menjaga ketertiban umum di Nara. Di samping tugas-tugas ini, ia juga mempelajari farmakologi dan memberikan obat kepada orang sakit, menyelamatkan mereka yang menderita penyakit yang tidak dapat disembuhkan, yang sangat menyenangkan mereka.

Memasuki masa Restorasi Meiji, anak cucu Kikuoka meneruskan bisnis penjualan obat-obatan herbal. Pada musim gugur 2002, toko obat itu pindah dari Jalan Sanjo, tempat kami berada selama 520 tahun, ke Naramachi, jalan tertua yang tersisa di Nara.