Paviliun Raden Saleh di Taman Ismail Marzuki, Mengembalikan Wisma Seni yang Hilang

Paviliun Raden Saleh yang dikelola Artotel Group tak hanya menerima seniman, tapi juga pengunjung umum yang ingin menikmati staycation di kawasan TIM.

Diterbitkan 07 Juli 2026, 11:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Wisma seni yang hilang dari Taman Ismail Marzuki kini kembali. Wujudnya adalah hotel yang yang dikelola oleh Artotel Group di lantai 8--12 Gedung Ali Sadikin bernama Paviliun Raden Saleh, Artotel Curated. 

"Penginapan ini jadi penantian kami yang sudah lama. Bukan saja sejak revitalisasi TIM ini selesai, 2022, tapi sebetulnya sudah 30 tahun, sekitar tahun 1995--1996, revitalisasi awal TIM dan salah satunya yang hilang adalah wisma seni," kata Bambang Prihadi, Ketua Dewan Kesenian Jakarta, di Jakarta, April 2026.

Keberadaan wisma seni sangat strategis, terutama bagi para seniman yang berkegiatan di pusat seni bersejarah di Jakarta. Mereka tak perlu jauh-jauh mencari penginapan, terutama jika berasal dari luar kota. Walau disebut wisma seni, tempat tersebut dikelola selayaknya hotel secara profesional.

"Kehadiran Paviliun Raden Saleh, ARTOTEL Curated bukan sekadar sebagai hotel, melainkan sebagai platform yang menghidupkan kembali dialog antara seni dan masyarakat," kata Eduard Rudolf Pangkerego, CEO Artotel Group.

"Sebagai bagian dari ekosistem seni di Taman Ismail Marzuki, Paviliun Raden Saleh diharapkan dapat menjadi ruang kolaboratif bagi seniman, kurator, komunitas, sertapublik luas untuk saling bertukar gagasan dan inspirasi," sambungnya.

Hotel tersebut dilengkapi dengan 139 kamar dengan enam tipe kamar, yakni Superior Bunk Bed, Family Bunk Bed, Deluxe, Suite, Junior Suite, dan Executive Suites. Untuk tipe kamar bunk bed, terdapat dua pasang tempat tidur tingkat sehingga bisa diisi oleh empat orang dalam satu kamar.

Sementara, tipe kamar Executive Suites memiliki halaman dengan pemandangan lepas ke pusat kota. Hotel tersebut dilengkapi dengan fasilitas restoran, kolam renang, dan tiga ruang pertemuan yang berkapasitas hingga 100 orang.

 

 

Jejak Raden Saleh di Setiap Kamar

Pada setiap kamar, jejak Raden Saleh tampak, terutama dari poster bergambar sang maestro. Tak heran bila sosoknya begitu kuat mengingat sejarah Taman Ismail Marzuki (TIM) tak bisa dilepaskan darinya. Kawasan tersebut dulunya adalah halaman belakang rumah Raden Saleh.

Kawasan itu sempat menjadi kebun binatang dan area publik warga Jakarta sebelum diubah jadi pusat seni. Sementara, seluruh koleksi kebun binatang dipindahkan ke Ragunan.

Bambang Prihadi menyatakan bahwa kebun binatang merupakan salah satu wujud kegelisahan sang seniman yang melanglangbuana di Eropa atas perkembangan sains di Indonesia. Ia, kata Bambang, ingin orang-orang di Jakarta yang saat itu belum merdeka, mempelajari ilmu pengetahuan secara menyenangkan.

Di tempat itu pula, pertunjukan seni digelar, wujud kecintaan Raden Saleh pada seni agar juga bisa dirasakan warga pribumi. Oleh Artotel, sejarah cikal bakal Ragunan ditampilkan lewat beragam gambar hewan di dinding selasar yang pernah menjadi koleksi kebun binatang di masa itu.

Berkembang Jadi Planetarium dan TIM

Setelah Indonesia merdeka, tanah dan bangunan milik Raden Saleh yang sebagian dihibahkan ke negara kemudian dimanfaatkan untuk pendirian Planetarium. Pembangunannya diinisiasi oleh Presiden ke-1 RI, Sukarno, yang juga terinspirasi oleh kecintaan Raden Saleh pada ilmu pengetahuan. Planetarium itu resmi dibuka pada 10 November 1968.

Pada tanggal yang sama, Taman Ismail Marzuki juga diresmikan. Inisiatif pembuatan pusat seni datang dari sejumlah seniman dari berbagai perkumpulan, seperti Balai Budaya dan seniman Senen. 

"Ketika tempat ini terbengkalai sekian tahun, kemudian Ali Sadikin memerintahkan tempat ini menjadi pusat kesenian yang dinamai Taman Ismail Marzuki. Prosesnya begitu cepat, kalau menurut arsip-arsip yang kami baca, kurang dari setahun," tutur Bambang.

"Pembangunannya juga tidak lama, tidak lebih dari enam bulan, oleh arsitek Tjong (Wastu Pragantha Zhong), yang menandai visi budaya Ali Sadikin begitu kuat," imbuhnya.

Maka, ia menekankan bahwa kawasan itu semakin dikembangkan untuk kegiatan seni, termasuk seni kreatif, seni hiburan, dan populer di Jakarta. Sementara, keberadaan wisma seni menjadi cara untuk menambah dana yang dibutuhkan kawasan agar bisa terus beroperasi.

 

Profil Singkat Raden Saleh

Mengutip kanal Regional Liputan6.com, Raden Saleh Sjarif Boestaman atau lebih dikenal Raden Saleh merupakan pelopor pelukis modern di Indonesia. Ia dilahirkan di Semarang pada 1807 dan merupakan aristokrat Jawa yang berdarah campuran Hadramaut-Jawa.

Darah Hadramaut Raden Saleh berasal dari ayahnya, Husen bin Alwi bin Awal bin Yahya, yang juga merupakan Sayyid atau keturunan Muhammad. Sayyid, dalam khazanah Islam nusantara merujuk pada keturunan Hasan bin Ali bin Abi Thalib. Sedangkan, Starif merupakan keturunan Husein bin Ali bin Abi Thalib.

Raden Saleh mulai belajar melukis sedari muda pada Auguste Antoine Joseph Payen (1792-1853), seorang pelukis Belgia beraliran naturalis. Payen yang mengetahui bakat Raden Saleh kemudian mengirim bangsawan Jawa itu untuk menuntut ilmu di Eropa dibawah bimbingan Cornelis Kruseman dan Andreas Schelfhout.

Sosok Schelfhout yang melukis dengan aliran romantik inilah yang kemudian mulai memengaruhi Raden Saleh untuk melukis dengan gaya seni tersebut. Tak hanya itu, Raden Saleh merupakan pionir pelukis aliran romantik di Asia. Jejak aliran romantik dalam seni rupa ini kemudian diikuti oleh Juan Luna, seorang pelukis Filipina.

Selama berkarya, Raden Saleh banyak membuat lukisan bertema perburuan, potret, dan lain sebagainya. Dalam beberapa karyanya, Raden Saleh juga banyak dipengaruhi juga oleh pelukis masa sebelumnya. Sebut saja Rembrandt Harmenszoon van Rijn, pada karya lukisan Kapal Karam Dilanda Badai yang dilukis pada 1840.