Liputan6.com, Beijing - Pertemuan Presiden China Xi Jinping dan Perdana Menteri India Narendra Modi di New Delhi pada September 2026 memunculkan spekulasi bahwa kedua negara mulai memperbaiki hubungan. Namun, pertemuan tersebut dinilai belum menjadi titik balik dalam hubungan bilateral India dan China yang masih diwarnai perselisihan perbatasan dan persoalan strategis lainnya.
Dalam analisis yang dimuat The Diplomat, kunjungan Xi untuk menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS memang menjadi momentum penting bagi kedua negara untuk melanjutkan komunikasi tingkat tinggi. Meski demikian, pertemuan tersebut tidak serta-merta menunjukkan adanya perubahan mendasar dalam hubungan mereka.
India dan China sama-sama terlibat dalam BRICS dan Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO). Namun, partisipasi dalam organisasi multilateral tersebut tidak berarti keduanya memiliki kepentingan yang sejalan, dikutip dari laman The Diplomat.
Advertisement
India telah lama menjadikan keterlibatan dalam forum multilateral sebagai bagian dari kebijakan luar negerinya, terlepas dari hubungannya dengan China.
Sejak bentrokan di Lembah Galwan pada 2020, India berupaya menstabilkan hubungan dengan Beijing sekaligus mengelola perbedaan di antara keduanya. Upaya ini kembali mendapat momentum di tengah memburuknya hubungan India dengan Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump. Namun, keinginan India untuk menjaga komunikasi dengan China tidak semata-mata disebabkan oleh ketegangan dengan Washington.
Bagi New Delhi, mencegah terulangnya bentrokan perbatasan seperti di Galwan merupakan prioritas. Insiden serupa dapat menimbulkan tekanan politik dan domestik yang besar. Karena itu, dialog dengan Beijing dipandang penting untuk mengendalikan ketegangan, meskipun tidak berarti India harus mengubah sikapnya terhadap persoalan mendasar kedua negara.
India juga tidak pernah sepenuhnya menghentikan dialog dengan China setelah bentrokan Galwan. Pertemuan terbaru dengan demikian lebih mencerminkan kelanjutan upaya mengelola perbedaan daripada perubahan mendasar dalam kebijakan India terhadap Beijing.
Â
Â
Sengketa Perbatasan Masih Menjadi Penghalang Utama
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5335768/original/021925600_1756802991-AP25244147832015.jpg)
Perselisihan wilayah tetap menjadi hambatan terbesar dalam hubungan India-China. Pernyataan terbaru Beijing yang tidak mengakui wilayah persatuan Ladakh di bawah pemerintahan India kembali menegaskan dalamnya perbedaan posisi kedua negara mengenai persoalan teritorial.
Selain sengketa perbatasan, hubungan China dengan Pakistan dan ketimpangan perdagangan bilateral juga menjadi sumber ketegangan. Hingga kini, belum terlihat kemajuan berarti dalam penyelesaian persoalan-persoalan mendasar tersebut.
Perbedaan pandangan juga terlihat dalam pernyataan resmi setelah pertemuan Modi dan Xi. Kedua negara mengeluarkan keterangan masing-masing tanpa pernyataan bersama. Keterangan China menyinggung Tibet dan Taiwan, sementara keterangan India tidak memuat rujukan yang sama.
Beijing menyebut India sebagai mitra, tetapi istilah tersebut tidak digunakan dalam keterangan resmi New Delhi. Perbedaan bahasa diplomatik ini menunjukkan bahwa kedua pihak belum memiliki pemahaman politik bersama yang cukup kuat untuk menandai perubahan besar dalam hubungan bilateral.
Â
Advertisement
Hubungan India-AS Bukan Satu-satunya Penentu
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5335772/original/025038400_1756803086-AP25244163710916.jpg)
Memburuknya hubungan India dengan Amerika Serikat dan ketidakpastian mengenai komitmen Washington terhadap keamanan Indo-Pasifik turut memengaruhi perhitungan strategis New Delhi. Meski demikian, kebijakan India terhadap China tidak dapat dijelaskan hanya melalui hubungannya dengan Washington.
India memiliki kepentingan keamanan sendiri, terutama dalam mencegah konflik perbatasan baru. Negara-negara lain di kawasan Indo-Pasifik juga tetap menghadapi persoalan keamanan masing-masing, terlepas dari perubahan prioritas Amerika Serikat.
Karena itu, ketegangan India-AS tidak otomatis membuat India semakin dekat dengan China. New Delhi dapat mempertahankan dialog dengan Beijing sambil mengevaluasi hubungannya dengan Washington. Kedua hubungan tersebut tidak harus saling menentukan.
Hubungan India-China sendiri masih belum kembali ke kondisi sebelum bentrokan 2020. Kerja sama keamanan kedua negara masih terbatas, sementara latihan militer bersama Hand-in-Hand belum dilanjutkan. Kepercayaan yang dibutuhkan untuk membangun kerja sama lebih erat juga belum pulih.
Bagi India, konflik perbatasan tetap menjadi persoalan keamanan utama. Bentrokan Galwan mengubah persepsi ancaman New Delhi terhadap China dan memunculkan pertanyaan mengenai efektivitas pengaturan yang selama ini digunakan untuk menjaga perdamaian di sepanjang Garis Kendali Aktual atau Line of Actual Control (LAC).
Pertemuan tingkat tinggi dapat membantu meredakan ketegangan untuk sementara, tetapi tidak bisa menggantikan kemajuan nyata di lapangan. India juga diperkirakan tidak akan kembali ke posisi sebelumnya terkait kebijakan Satu China tanpa adanya rujukan atau jaminan yang sepadan dari Beijing mengenai prinsip Satu India.
Pertemuan Xi dan Modi di India memang menarik perhatian karena beberapa tahun sebelumnya pertemuan semacam itu masih sulit dibayangkan. Namun, momentum diplomatik tersebut belum mengubah cakupan maupun sifat persoalan yang memisahkan kedua negara.
Untuk saat ini, India dan China masih berupaya mencegah krisis baru sembari mempertahankan perbedaan mendasar mereka. Dialog dapat membantu menjaga agar hubungan tidak semakin memburuk, tetapi tanpa penyelesaian persoalan utama, hubungan kedua negara belum berada pada jalur menuju normalisasi menyeluruh.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8782149/original/002861400_1782877955-Cek_fakta_-_SIM_seumur_hidup.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5441706/original/046861700_1765516083-jasa_marga.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9354245/original/038987000_1790044500-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-09-22T093245.164.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9376859/original/003006800_1792395079-Screenshot_2026-10-19_133859.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3156926/original/090557500_1592541316-india_china.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1409523/original/014973200_1479454255-China.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1411690/original/061832400_1479707390-India.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1409459/original/084990600_1479451750-Xi_Jinping.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9374953/original/008947000_1792115215-1.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5312560/original/060717400_1754968440-WhatsApp_Image_2025-08-12_at_09.48.53_5f3125cb.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9373598/original/035832400_1791969676-Mesin_Pencacah_Sampah_3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9372965/original/088403400_1791939609-WhatsApp_Image_2026-10-13_at_2.07.21_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355267/original/005978200_1790095519-Menagg.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9371001/original/004173100_1791721798-WhatsApp_Image_2026-10-11_at_6.54.17_AM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5582945/original/056926200_1778132999-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4192232/original/046280400_1665758549-IMG_20221014_193652.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4953473/original/059895800_1727324477-Screenshot__199_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3439060/original/027890100_1619331962-WhatsApp_Image_2021-04-25_at_08.18.15.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5501317/original/009183900_1770893383-Foto_Ilustrasi__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9375974/original/091703800_1792287626-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5301189/original/052540900_1753940731-5.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9374914/original/099874700_1792101415-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9316857/original/017858700_1785992293-90-16.webp)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9373938/original/089014500_1792013910-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2947434/original/027332300_1571819804-Ilustrasi_Goldman_Sachs__AFP_PHOTO_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/863260/original/052439900_1430188326-apartemen-4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9346574/original/077949100_1789182048-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2704247/original/044238300_1547530681-Bendera_China.jpg)