Energi dari Olahan Sampah Didorong Jadi Alternatif Batu Bara dan Gas

Olahan sampah berpotensi menjadi energi alternatif bagi industri sekaligus mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.

Diterbitkan 04 Oktober 2026, 14:53 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Pemerintah menghubungkan produsen energi hijau sampah dengan industri besar sebagai pembeli.
  • KLH/BPLH menjembatani produsen energi sampah dan industri untuk keberlanjutan.
  • Pengolahan sampah butuh skala ekonomi besar agar efisien dan berkelanjutan.

Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah siap menghubungkan produsen energi hijau hasil olahan sampah daerah dengan industri besar sebagai pengguna energi alternatif. Hal ini sebagai alternatif pengganti energi fosil.

Menteri Lingkungan Hidup (LH) Moh Jumhur Hidayat mengatakan, langkah tersebut dilakukan agar produk hasil pengolahan sampah memiliki pembeli yang jelas. Dengan demikian, pengolahan sampah di daerah dapat berlangsung secara berkelanjutan.

"Pemerintah akan mendorong kalau ada kesulitan soal pembeli dan sebagainya, nanti kami akan coba komunikasi. Karena sebaliknya, dari pihak pembeli juga sudah menghubungi kami (KLH). Mereka mencari di mana ada produk-produk yang seperti ini, tolong diberitahu untuk bisa dia peroleh," kata Jumhur, dilansir Antara, Minggu (4/10/2026).

Sampah Diolah Jadi Energi Alternatif

Jumhur mengatakan pemanfaatan bahan bakar dari olahan sampah dapat menjadi salah satu alternatif bagi industri padat energi untuk mengurangi ketergantungan pada batu bara dan gas bumi.

Namun, produk hasil pengolahan sampah di daerah masih menghadapi tantangan dalam mendapatkan pembeli. Karena itu, KLH/BPLH tidak hanya mendorong daerah mengolah sampah, tetapi juga bersedia menjadi penghubung rantai pasok antara penghasil energi hijau di daerah dan industri berskala nasional.

Pemanfaatan biomassa organik juga dinilai tidak hanya berkaitan dengan substitusi energi fosil. Inisiatif tersebut membuka peluang bagi perusahaan untuk mendapatkan pengakuan atas penurunan emisi.

Langkah tersebut dinilai penting bagi sektor industri untuk memenuhi target Net Zero Emission (NZE), sekaligus meningkatkan daya saing dan kredibilitas di pasar global.

 

Pengolahan Sampah Perlu Skala Ekonomi

Jumhur menyoroti jarak antara wilayah pengolah sampah dan pusat industri sebagai salah satu tantangan dalam pemanfaatan energi dari sampah.

Menurut dia, persoalan tersebut dapat diatasi melalui perhitungan bisnis yang matang. Salah satu strateginya adalah menggabungkan pengolahan sampah dari beberapa kabupaten agar volume yang dihasilkan lebih besar dan biaya per unit lebih rendah.

"Misal mengerjakan pengolahan sampah yang menghasilkan 1.000 ton dengan menghasilkan 100 ton bisa jadi tenaga kerja manusianya sama jumlahnya tapi hasilnya lebih banyak yang 1.000 ton. Artinya per unit, biaya yang dikeluarkan atau cost-nya lebih rendah. Biasanya orang bisnis akan berpandangan seperti itu," jelas Menteri Jumhur.

KLH/BPLH berharap pengelolaan sampah yang terhubung dengan pasar dapat memberikan manfaat bagi pemerintah daerah, pengelola sampah, hingga industri sebagai pembeli.

Keberhasilan pengelolaan sampah di Klungkung ditargetkan menjadi model percontohan nasional agar daerah lain dapat mengolah sampah menjadi energi sekaligus menjaga kebersihan lingkungan.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6