Kerusuhan Warnai Demo Biaya Hidup di Prancis, 1.800 Orang Ditangkap

Demo biaya hidup di Prancis mengundang sindiran dari wakil presiden AS. Ia menyoroti soal kebijakan imigrasi negara itu.

Diterbitkan 18 Oktober 2026, 20:55 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Paris - Prancis masih berupaya mengatasi dampak kerusuhan besar yang terjadi pada Sabtu (17/10/2026). Aksi demo yang berujung kekerasan itu menyebabkan kerusakan di berbagai wilayah, dengan 1.800 orang ditangkap, sebuah balai kota bersejarah dibakar, dan penjarahan terjadi secara luas.

"Rasanya seperti habis perang," kata Mehmet Ozeden (78), warga pusat kota Paris, kepada AFP pada Minggu (18/10), ketika jalanan masih dipenuhi sisa-sisa barikade yang hangus terbakar.

Kerusuhan ini semakin menambah tekanan terhadap Presiden Emmanuel Macron, yang masa jabatannya akan segera berakhir. Pemilihan presiden untuk menentukan penggantinya dijadwalkan berlangsung enam bulan lagi. Sebelumnya, Prancis juga dilanda demonstrasi mahasiswa selama berminggu-minggu, yang beberapa kali berujung kekerasan.

Kantor kepresidenan menyatakan Macron dijadwalkan menyampaikan pidato kepada rakyat Prancis pada Minggu pukul 20.00 waktu setempat atau Senin (19/10) pukul 01.00 WIB, setelah mengadakan pertemuan dengan sejumlah menteri utama.

Menteri Dalam Negeri Prancis Laurent Nunez mengatakan sebanyak 1.800 orang ditangkap di seluruh Prancis terkait kerusuhan dan penjarahan. Pihak berwenang tengah melakukan penyelidikan untuk mengidentifikasi para pelaku dan membawa mereka ke pengadilan.

Di Paris, sebanyak 557 orang masih ditahan setelah polisi melakukan penangkapan dalam jumlah yang memecahkan rekor. Kerusuhan di ibu kota Prancis itu juga menyisakan mobil-mobil hangus terbakar, etalase toko yang pecah, serta puing-puing yang berserakan di berbagai ruas jalan.

Wakil Wali Kota Paris Lamia El Aaraje mengatakan tingkat kekerasan yang terjadi di ibu kota Prancis itu belum pernah terlihat sebelumnya.

"Saya rasa kami belum pernah menyaksikan kekerasan separah ini," ujarnya.

Ratusan toko dijarah di Paris dan sejumlah kota lain, termasuk Marseille, Bordeaux, Nice, dan Strasbourg, selama demonstrasi menentang tingginya biaya hidup.

Satu orang meninggal dunia ketika demonstrasi utama berlangsung di Paris. Namun, para pejabat menyatakan kematian tersebut disebabkan oleh masalah kesehatan dan tidak berkaitan dengan aksi kekerasan.

Menurut Federasi Ritel dan Perdagangan, sekitar 1.500 tempat usaha mengalami kerusakan, dengan total kerugian diperkirakan mencapai ratusan juta euro.

Anita Gras, warga Paris yang sedang berlari pagi di antara puing-puing kerusuhan, mengaku melihat sekelompok pemuda menjarah sebuah toko sepatu olahraga.

"Mereka berada di sana sampai pukul 01.00 dini hari. Kami takut mereka akan melempari kami dengan sesuatu," jelasnya.

Warga lainnya, Cecile Rogue (57), juga mengaku ketakutan ketika melihat tumpukan sepeda yang hangus terbakar.

"Ini benar-benar mengerikan dan menakutkan. Sekelompok anak muda datang ke sini kemarin (Sabtu), menjarah dan menghancurkan semuanya tanpa takut mendapat hukuman," tuturnya.

Di Kota Limoges, sebuah balai kota bersejarah yang dibangun pada Abad ke-19 terbakar hingga hancur.

Pejabat pemerintah setempat, Maurice Barate, mengatakan kepada saluran berita LCI bahwa bangunan tersebut sengaja dibakar oleh sekelompok orang yang disebutnya sebagai "gerombolan liar". Api baru berhasil dipadamkan pada Minggu dini hari.

Sementara itu, Wali Kota Lyon Gregory Doucet menggambarkan situasi di kotanya sebagai kekacauan yang sangat memprihatinkan.

"Kekacauan yang melanda kota selama beberapa jam itu benar-benar mengerikan," katanya.

Sebuah kantor informasi pariwisata di pusat kota Lyon juga dibakar di tengah bentrokan dan penjarahan yang terjadi selama demonstrasi.

Pemerintah dan Oposisi Saling Menyalahkan

Kerusuhan tersebut kemudian memicu saling tuding di kalangan politikus Prancis. Pemerintah dan tokoh sayap kanan Marine Le Pen menyalahkan kelompok ekstrem kiri atas kekerasan yang terjadi.

Sebaliknya, pemimpin sayap kiri radikal Jean-Luc Melenchon menuduh pihak berwenang justru memperburuk ketegangan.

Wakil Wali Kota Paris dari Partai Sosialis, Lamia El Aaraje, menuding partai Le Pen bersikap seperti "petugas pemadam kebakaran yang justru menyulut api". Menurutnya, partai tersebut memanfaatkan kerusuhan untuk memperkuat ambisi Le Pen dalam pemilihan presiden.

Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) JD Vance juga ikut berkomentar. Melalui unggahan di platform X, ia mengaitkan kerusuhan tersebut dengan kebijakan imigrasi Prancis yang dinilainya telah membuka pintu bagi pendatang dari negara-negara berkembang, atau yang disebutnya sebagai tindakan "mengimpor dunia ketiga".

Kantor Perdana Menteri Prancis menyatakan Sebastien Lecornu dijadwalkan memimpin rapat darurat bersama para menteri pada Senin pukul 10.00 waktu setempat.

Pertemuan itu akan membahas persoalan asuransi dan bantuan bagi toko-toko yang terdampak kerusuhan, serta proses hukum terhadap para pelaku kekerasan.

Di Paris, sejumlah wisatawan terlihat berlarian sambil membawa koper pada Sabtu ketika jalanan dipenuhi gas air mata dan massa demonstran.

Seorang wisatawan asal Denmark, Soren Petersen, mengaku sedih melihat kerusakan bangunan di Paris.

"Ini bukan lagi demonstrasi. Apa yang terjadi sudah jauh melampaui aksi protes biasa," ungkapnya kepada AFP.

Seorang wisatawan asal AS, Jill Burns, juga mengaku ketakutan.

"Kami takut," ujarnya.

Menteri Dalam Negeri Prancis mengatakan sekitar 500 anggota polisi, petugas pemadam kebakaran, dan tenaga medis darurat terluka selama kerusuhan.

Aksi kekerasan tersebut terjadi di tengah demonstrasi nasional yang menurut Kementerian Dalam Negeri diikuti sekitar 550.000 orang. Sementara itu, serikat pekerja CGT memperkirakan jumlah peserta mencapai 800.000 orang.

Di Kota Saint-Etienne, Prancis selatan, seorang remaja laki-laki berusia 17 tahun kehilangan tangan kanannya akibat ledakan granat yang digunakan untuk mengendalikan massa.

Analis lembaga konsultan risiko politik Eurasia Group, Mujtaba Rahman, mengatakan melalui X bahwa sebagian besar demonstrasi pada Sabtu sebenarnya berlangsung damai.

Menurutnya, kekerasan hanya dilakukan oleh sebagian kecil kelompok ekstrem kiri, sedangkan penjarahan dilakukan oleh kelompok-kelompok dari kawasan pinggiran kota yang miskin dan memanfaatkan situasi untuk melakukan kejahatan.

"Semua ini menjadi kabar baik bagi Marine Le Pen," tuturnya.

Demonstrasi pada Sabtu sebelumnya diserukan oleh gerakan Rompi Kuning (Yellow Vest) dengan mengusung nama "Rompi Kuning dan Pemuda".

Gerakan tersebut pernah menggelar demonstrasi menentang pemerintahan Macron delapan tahun lalu, ketika pemerintah berencana menaikkan pajak bahan bakar.

Kali ini, tuntutan utama demonstran berkaitan dengan tingginya biaya hidup. Kondisi tersebut antara lain dipicu oleh perang di Timur Tengah, yang turut menyebabkan inflasi melonjak di Eropa dan berbagai belahan dunia lainnya.

Â