Trump Jadikan Nama Mohammad Bahan Candaan

Presiden Trump melontarkan lelucon tentang nama Mohammad saat mengejek jabatan presiden Iran dalam pidato kampanye di Georgia.

Diterbitkan 19 Oktober 2026, 10:00 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Washington, DC - Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan lelucon tentang populernya nama Mohammad di dunia Muslim saat mengejek jabatan presiden Iran dalam pidato kampanye pada Jumat.

"Anda tahu, jika Anda ragu dengan nama seseorang dari Timur Tengah, cukup katakan 'Mohammad'," kata Trump kepada massa yang berkumpul di Dalton, Georgia dikutip dari USNews.

"Anda punya peluang sekitar 65 persen. 'Halo, Mohammad.' Saya sudah melakukannya selama bertahun-tahun. Saya tidak pernah salah," lanjutnya.

Mohammad merupakan salah satu nama laki-laki yang paling umum digunakan di kalangan Muslim. Banyak orang tua Muslim menamai putra mereka dengan nama Nabi Muhammad.

Trump melontarkan komentar tersebut saat membahas Iran dalam kampanye yang digelar di sebuah hanggar di Bandara Kota Dalton, Georgia. Dalam acara itu, ia berkampanye untuk para kandidat Partai Republik menjelang pemilihan paruh waktu pada 3 November.

"Iran adalah satu-satunya negara yang tidak ada seorang pun ingin menjadi presidennya," ujar Trump.

Ia kemudian berpura-pura bertanya kepada beberapa orang bernama Mohammad apakah mereka bersedia menduduki jabatan tersebut.

Masoud Pezeshkian telah menjabat sebagai Presiden Iran sejak 2024. Lelucon Trump itu mendapat respons yang tidak terlalu antusias dari massa yang hadir di Georgia.

Para pegiat hak asasi manusia dan kelompok advokasi Muslim berulang kali mengkritik retorika Trump. Mereka menilai pernyataan-pernyataannya menggambarkan umat Muslim, imigran, dan kelompok minoritas etnis secara negatif serta menjadikan mereka bahan ejekan.

Trump meningkatkan retorika tersebut selama masa kampanye pemilihan paruh waktu, terutama terhadap warga Amerika keturunan Somalia dan Muslim. Sasaran pernyataannya termasuk Abdul El-Sayed, kandidat Muslim dari Partai Demokrat untuk Senat AS, serta anggota DPR AS Ilhan Omar, politikus Demokrat dari Minnesota yang datang ke Amerika Serikat sebagai pengungsi asal Somalia.

Dalam pidatonya, Trump juga kembali menegaskan bahwa Iran tidak akan pernah mendapatkan senjata nuklir. Pernyataan itu disampaikan tujuh bulan setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan perang terhadap Teheran, yang salah satu tujuannya adalah melumpuhkan program nuklir Iran.

Laporan tahunan yang dirilis Council on American-Islamic Relations (CAIR) pada awal tahun ini menyebut peningkatan Islamofobia di Amerika Serikat sebagian dipengaruhi oleh kebijakan pengetatan imigrasi dan tindakan keras terhadap demonstrasi pro-Palestina selama masa jabatan kedua Trump.