Green Economy Buka Peluang Karier Baru, Ini 5 Skill yang Perlu Disiapkan Gen Z

Green Economy mengubah kebutuhan dunia kerja, dengan sektor kehutanan membutuhkan setidaknya lima skill yang sebaiknya dikuasai Gen Z.

Diterbitkan 05 Oktober 2026, 16:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Green Economy ikut membawa perubahan pada kebutuhan kompetensi di dunia kerja. Perusahaan dan organisasi membutuhkan tenaga profesional yang memahami isu keberlanjutan, sekaligus memiliki kemampuan teknis yang berkaitan dengan sertifikasi, assessment, dan rantai pasok.

"Dunia kehutanan terus berkembang dan kebutuhan industri terhadap tenaga profesional dengan kompetensi sustainability, certification, assessment, dan supply chain semakin meningkat," kata Thomas Hidayat Kurniawan, CEO MK Academy, dalam keterangannya pada Lifestyle Liputan6.com, Sabtu, 3 Oktober 2026.

Berikut lima skill yang dapat dipersiapkan Gen Z untuk mengikuti perubahan kebutuhan di sektor tersebut.

1. Sustainability

Pemahaman sustainability menjadi salah satu kemampuan yang berkaitan dengan perkembangan sektor kehutanan. Kompetensi ini mencakup cara melihat pengelolaan sumber daya melalui aspek lingkungan, sosial, dan ekonomi.

Indra Setia Dewi, Value Chain & Business Development Manager FSC Indonesia, mengatakan isu kehutanan memiliki cakupan yang lebih luas daripada persoalan lingkungan.

"Mahasiswa perlu memahami bahwa responsible forestry bukan hanya persoalan lingkungan, tapi juga menyangkut masyarakat, ekonomi, tata kelola, industri, dan bagaimana hasil hutan digunakan secara bertanggung jawab," ujarnya.

2. Certification

Pengetahuan mengenai sertifikasi menjadi kemampuan berikutnya yang dapat dipelajari mahasiswa. Sertifikasi berkaitan dengan penerapan standar dalam pengelolaan hutan, serta proses yang memastikan standar tersebut berjalan pada aktivitas yang dinilai.

MK Academy memiliki layanan training, consulting, assessment, dan certification untuk penerapan standar FSC Forest Management (FM) dan Chain of Custody (CoC). Kedua standar tersebut memperkenalkan mahasiswa pada pengelolaan hutan dan pengawasan rantai pasok material yang berasal dari hutan.

 

3. Assessment

Kemampuan melakukan assessment berkaitan dengan proses penilaian terhadap penerapan standar. Kompetensi ini membutuhkan pemahaman terhadap kriteria yang digunakan dalam evaluasi, serta kemampuan memeriksa penerapannya.

4. Supply Chain

Rantai pasok menjadi bidang lain yang perlu dipahami calon profesional kehutanan. Konsep ini mencakup perjalanan material sejak berasal dari sumber hingga masuk ke tahapan pengolahan dan menjadi bagian dari produk.

Thomas menjelaskan bahwa prinsip pengelolaan hutan bertanggung jawab perlu diteruskan dari sumber material hingga produk. Pemahaman terhadap proses tersebut membuat mahasiswa mengenal keterkaitan antara pengelolaan hutan dan aktivitas industri.

5. Pemahaman Lintas Sektor

Pemahaman tentang kehutanan tidak berhenti pada aspek ekologi. Mahasiswa juga perlu mengenali hubungan antara hutan, masyarakat, industri, ekonomi, sertifikasi, dan rantai pasok.

FSC Forest Week 2026

Dekan Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University Prof. Dr. Ir. Dodik Ridho Nurrochmat, berkata, "Hutan bukan hanya sumber daya alam yang perlu kita jaga, tapi juga bagian penting dari kehidupan dan pembangunan Indonesia."

Celebration FSC Forest Week 2026 merupakan bagian dari rangkaian FSC Forest Week 2026 di Indonesia yang diselenggarakan Tetra Pak Indonesia dan IRCOMM Group bersama para mitra FSC.

Rangkaian ini mencakup kegiatan edukasi, kampanye digital, serta sejumlah program kreatif seperti FSC Forest Week InstaCook Contest, FSC Forest Week Packaging Hunt Contest, dan FSC Forest Week Cover Song Contest.

Mengusung tema "Choose Forests. Choose FSC," FSC Forest Week 2026 menghadirkan beragam kegiatan yang membahas pengelolaan hutan, sertifikasi, industri, pendidikan, dan rantai pasok bersama mitra serta generasi muda.