Profesi Baru di China, Manusia Dibayar untuk Ajari Robot Cuci Piring

Simak pekerjaan yang harus dilakukan oleh para pelatih robot di China ini.

Diterbitkan 15 Oktober 2026, 18:35 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Beijing - Di seluruh China, muncul kelompok baru pekerja freelance "pelatih robot" mengenakan perlengkapan penangkap gerak untuk mengubah pekerjaan rumah sehari-hari seperti mengambil cangkir, membuka tutup botol, dan mencuci piring menjadi data yang akan digunakan untuk melatih mesin-mesin masa depan.

Data tersebut kemudian diubah menjadi kumpulan perangkat pelatihan untuk membantu robot bekerja di berbagai lingkungan, mulai dari dapur dan pabrik hingga supermarket.

Dikutip dari South China Morning Post, Kamis (15/10/2026), banyak iklan yang menampilkan lowongan pekerjaan seperti itu di media sosial dan platform pencarian kerja di China. Gaji yang didapatkan para pelatih berkisar 4.000 yuan (Rp 10,7 juta) hingga 6.000 yuan (Rp 16 juta) per bulan, dan hal ini menarik minat para pencari kerja dan kaum muda yang mencari pekerjaan dengan jam kerja fleksibel.

Wanita bernama Liu Yun berusia 40 tahun ikut terjun ke bidang tersebut setelah kehilangan pekerjaannya di industri otomotif dan kesulitan mencari pekerjaan baru karena usianya.

Dalam sebuah studio di Beijing, ia memakai gelang sensor dan chip yang dipasang di jari-jarinya sambil mengikuti petunjuk di layar komputer saat ia mengulangi gerakan-gerakan seperti memindahkan gelas dan menggosok permukaan.

"Daripada seperti melatih robot, rasanya seperti melatih anak berumur dua tahun," ujar Liu kepada media Jizhou Studio.

Setiap gerakannya terpantau. Layar-layar besar menampilkan peringkat pekerja berdasarkan produktivitas dan ketepatan. Kuota hariannya adalah 160 sampel, sementara pekerja dengan kinerja terbaik bisa menyelesaikan hingga lebih dari 260 sampel.

Bagi Liu, pekerjaan berulang itu dengan cepat membuatnya lelah. Mencuci piring dan mengelap meja 200 kali sehari sudah mencapai batas kemampuannya.

Seorang mahasiswa bernama Sun yang berusia 22 tahun asal Provinsi Shanxi China Utara mengambil pekerjaan tersebut selama liburan musim panasnya sambil mencari tempat magang. Tugas-tugasnya adalah seperti melipat baju, menyapu lantai, dan merekam gerakan-gerakan standar untuk pelatihan robot.

 

Pro Kontra Pekerjaan Pelatih Robot

Pekerjaan ini dibayar 120 yuan (Rp 322 ribu) per untuk shift siang dan 135 yuan (Rp 362 ribu) untuk shift malam, tapi tingkat pergantiannya tinggi, banyak pekerja yang mengundurkan diri setelah hanya beberapa minggu.

Bagi Sun, penghasilan tersebut tidak sebanding dengan beban fisik dan mental akibat pekerjaan yang berulang.

Bagi sebagian orang yang lain, pekerjaan ini menawarkan fleksibilitas. Guo Hongjuan yang berasal dari Provinsi Jiangsu di China timur bekerja dari rumah selama sekitar enam jam sehari, mengumpulkan data lewat pekerjaan-pekerjaan seperti menyusun buku, mengelap meja, dan memindahkan benda-benda. Ia mendapatkan penghasilan sekitar 4.000 yuan (Rp 10,7 juta) per bulan dan mengatakan bahwa hal ini memungkinkannya untuk bekerja sambil merawat anaknya.

Pengumpulan data pekerjaan manusia sekarang juga melampaui lingkup pekerjaan rumah tangga.

Di bulan Agustus, perusahaan teknologi Physen AI yang berbasis di Shenzhen menjalin kerja sama dengan sebuah pekerjaan kebersihan untuk melengkapi para petugas kebersihan jalanan dengan perangkat pengumpulan data.

Saat para pekerja menyapu jalan dan menanggapi gangguan seperti sepeda listrik yang lewat, pergerakan mereka direkam untuk membantu robot memahami lingkungan dunia nyata yang lebih baik.

Kemunculan pelatih robot memicu reaksi yang beragam di internet. Beberapa pengguna dengan bergurau menyebutnya sebagai "jalur perakitan siber," sementara penggunaan lain menggambarkannya sebagai "tenaga kerja migran rumahan."

Seorang pekerja paruh baya menceritakan bahwa setelah tiga bulan bekerja sebagai pelatih robot dengan upah rendah, setidaknya ia telah belajar cara mengerjakan pekerjaan rumah tangga.

Pengguna lain berkomentar, "Ini sangat ironis. Manusia mengajarkan robot untuk bekerja, tapi suatu hari nanti mesin-mesin itu justru akan menggantikan para pekerja yang telah melatihnya."

 

Â