Pemukim Israel Serang Diplomat Eropa di Tepi Barat

Salah seorang korban mengungkapkan bahwa dirinya dipukuli hingga terjatuh oleh pemukim Israel.

Diterbitkan 18 Oktober 2026, 08:48 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Tel Aviv - Sekelompok pemukim Israel bertopeng dan bersenjata batang besi menyerang rombongan diplomat Eropa saat berkunjung ke Tepi Barat yang diduduki Israel pada Sabtu (17/10/2026).

Insiden itu terjadi di tengah maraknya kekerasan terhadap warga Palestina dan warga asing selama musim panen zaitun. Serangan pada Sabtu menjadi rangkaian kekerasan yang terjadi selama dua hari berturut-turut.

Menurut Kementerian Kesehatan Palestina, sedikitnya empat orang tewas dan lebih dari 100 lainnya terluka sejak musim panen zaitun dimulai awal Oktober.

Para aktivis menuding aparat Israel tidak mengambil tindakan tegas untuk menghentikan serangan para pemukim yang menggunakan berbagai senjata, mulai dari ketapel hingga senjata api.

Sehari sebelumnya, Jumat (16/10), serangan serupa menyebabkan seorang fotografer The Washington Post dan beberapa orang lainnya mengalami luka serius.

Dalam insiden pada Sabtu di Taybeh, sebuah desa berpenduduk Kristen di Tepi Barat, para pemukim menyerang konsul jenderal Belgia, sejumlah diplomat Prancis dan Polandia, serta perwakilan komunitas Katolik.

Menteri Luar Negeri Belgia Maxime Prevot mengaitkan serangan tersebut dengan kebijakan Israel yang terus membangun permukiman ilegal di wilayah Palestina. Ia berjanji akan mendorong Uni Eropa menjatuhkan sanksi tambahan.

"Para pemukim yang melakukan kekerasan tidak boleh terus dibiarkan lolos dari jerat hukum," tegas Prevot seperti dilaporkan Associated Press.

Bernard Baudoux, seorang wali kota asal Prancis yang turut menjadi korban, menceritakan kejadian tersebut melalui unggahan di Facebook.

"Tiga kendaraan datang. Sejumlah orang bertopeng yang membawa batang besi turun dari kendaraan dan menghampiri kami dengan sangat agresif," tulisnya.

Saat menghadapi para penyerang, Baudoux mengaku sempat mengenakan selempang berwarna biru, putih, dan merah yang menjadi tanda jabatan resminya sebagai wali kota di Prancis.

"Namun, mereka tetap menyerang. Saya dipukul dengan batang besi, ditendang, lalu dijatuhkan ke tanah. Kami akhirnya berhasil kembali ke kendaraan masing-masing," ungkapnya.

Baudoux memastikan dirinya dalam kondisi baik setelah kejadian tersebut.

Ia bersama rombongannya datang ke Taybeh untuk meresmikan kerja sama kota kembar antara desa tersebut dan wilayah yang dipimpinnya. Setelah itu, mereka ikut memanen buah zaitun bersama warga setempat.

Sejumlah pemuka agama di Taybeh membenarkan adanya serangan terhadap rombongan tersebut.

 

Kecaman dan Pembelaan Diri

Rekaman video yang dibagikan Amit Orfali, seorang aktivis yang berada di lokasi kejadian, memperlihatkan Baudoux duduk di tanah berdebu sambil bersandar pada sebuah kendaraan.

Dalam rekaman lainnya, sejumlah pemuda bertopeng terlihat berkali-kali mengetuk kaca jendela pengemudi sambil meminta kartu identitas. Sementara itu, beberapa pria bertopeng yang membawa tongkat tampak berjalan mendekat dari kejauhan.

Orfali mengatakan para penyerang bahkan sempat mengancam akan membunuh mereka.

"Mereka mengancam akan membunuh kami," katanya.

Rangkaian kekerasan tersebut terjadi kurang dari dua pekan menjelang pemilu Israel yang diperkirakan berlangsung ketat. Pemilu itu berpotensi mengakhiri masa jabatan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.

Pemerintahan Netanyahu, yang dikenal sebagai pemerintahan paling nasionalis dan berhaluan kanan ekstrem dalam sejarah Israel, tengah menghadapi tekanan dari dalam maupun luar negeri.

Di dalam negeri, pemerintah dikritik karena dinilai gagal menjaga keamanan. Sementara itu, kecaman internasional terus berdatangan terkait perlakuan Israel terhadap warga Palestina di Tepi Barat dan Jalur Gaza.

Sejumlah pejabat tinggi dalam pemerintahan Netanyahu sendiri merupakan pemukim Israel.

Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Noel Barrot mengecam keras serangan terhadap Baudoux.

Melalui unggahan di platform X, Barrot menyatakan wali kota asal Prancis tersebut telah "diserang secara brutal oleh pemukim ekstremis".

Ia mendesak pemerintah Israel segera menghentikan kekerasan dan melindungi masyarakat sipil.

"Pemerintah Israel harus segera menghentikan tindak kekerasan kriminal ini dan menjamin keselamatan warga sipil sebagaimana diwajibkan oleh hukum internasional," tegasnya.

Kementerian Luar Negeri Polandia juga menyampaikan kecaman keras.

"Kami sangat geram atas kejadian ini," demikian pernyataan kementerian tersebut.

Militer Israel membenarkan adanya serangan terhadap rombongan diplomat Eropa dan menyebutnya sebagai "tindakan kekerasan serius".

Namun, militer Israel menyatakan kunjungan para diplomat itu tidak dikoordinasikan terlebih dahulu dengan pihaknya. Tidak ada pula tentara Israel yang berada di lokasi ketika penyerangan berlangsung.

Sementara itu, kepolisian Israel mengaku telah memulai penyelidikan dan berjanji mengusut kasus tersebut sampai seluruh pelaku diproses secara hukum.

Menteri Luar Negeri Israel Gideon Saar mengecam apa yang disebutnya sebagai "tindakan kekerasan serius yang dilakukan oleh warga Israel yang membuat kerusuhan".

Melalui X, Saar mengatakan kementeriannya telah berkomunikasi dengan para duta besar negara-negara yang warganya terlibat dalam insiden tersebut.

 

Netanyahu Minta Publik Tidak Terburu-buru Ambil Kesimpulan

Di tengah kecaman yang terus berdatangan, kantor Perdana Menteri Israel mengeluarkan pernyataan yang meminta berbagai pihak tidak "terburu-buru mengambil kesimpulan" mengenai serangan tersebut.

Kantor Netanyahu menyinggung adanya kekhawatiran bahwa insiden itu dimanfaatkan dalam "kampanye terkoordinasi untuk mencemarkan nama baik Israel".

Pernyataan tersebut berbeda dengan sikap Gadi Eisenkot, pesaing utama Netanyahu dalam pemilihan umum mendatang, yang secara terbuka mengecam para pelaku kekerasan.

"Segelintir penjahat sedang menghancurkan sisa-sisa legitimasi yang masih dimiliki negara Israel," tulis Eisenkot melalui X.

Eisenkot bahkan menyebut tindakan para pemukim sebagai "teror Yahudi".

Istilah yang sama juga digunakan Heidi Levine, fotografer The Washington Post yang mengalami luka serius akibat serangan pada Jumat.

Dalam wawancara dengan Associated Press dari tempat tidurnya di rumah sakit pada Sabtu, Levine mengaku belum pernah menyaksikan situasi di Israel separah saat ini.

"Saya sudah meliput kawasan ini selama lebih dari 40 tahun, dan belum pernah melihat negara ini berada dalam kondisi seperti sekarang," ujarnya.

Levine mengaku "terkejut dan tersinggung" karena Netanyahu menyebut penyerangan terhadap dirinya dan sejumlah korban lainnya sebagai peristiwa yang masih diduga terjadi, bukan sebagai serangan yang benar-benar telah terjadi.

Sebelumnya, Netanyahu berulang kali menyatakan kekerasan yang dilakukan para pemukim hanya melibatkan segelintir orang yang membuat kerusuhan.

Namun, berbagai serangan terus dilaporkan terjadi di sejumlah permukiman warga Palestina. Rentetan kekerasan itu mencakup pembakaran kendaraan, perusakan pohon, hingga penganiayaan yang menimbulkan korban luka.

Sebagian pihak bahkan menilai musim panen zaitun kali ini sebagai yang paling berbahaya sejauh ini.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan sebagian besar negara di dunia memandang permukiman Israel di Tepi Barat sebagai permukiman ilegal karena dibangun di wilayah yang diduduki.

Banyak permukiman itu telah berkembang menjadi kawasan hunian modern dengan fasilitas yang menyerupai wilayah pinggiran kota.

Selain permukiman yang telah berkembang tersebut, para pemukim Israel juga mendirikan ratusan pos permukiman baru tanpa izin pemerintah. Meski tidak memiliki izin resmi, mereka tetap mendapat perlindungan dari militer Israel.

Israel merebut Tepi Barat, Jalur Gaza, dan Yerusalem Timur dalam perang Timur Tengah pada 1967. Ketiga wilayah itu ingin dijadikan bagian dari negara Palestina yang merdeka di masa depan.

Hingga kini, Tepi Barat masih berada di bawah kekuasaan militer Israel.

Kebijakan pembangunan permukiman Israel juga mendapat kritik dari China.

Menteri Luar Negeri China Wang Yi dalam pertemuannya dengan Presiden Israel Isaac Herzog pada pekan yang sama, mendesak Israel menghentikan pembangunan permukiman secara paksa di Tepi Barat sekaligus membatalkan kebijakan tersebut.

Menurut keterangan seorang juru bicara pada Jumat (16/10), Wang Yi meminta Israel untuk "menghentikan dan membatalkan tindakan pembangunan permukiman secara paksa di Tepi Barat".